http://www.seputarforex.com

Ekspor Jepang tumbuh untuk tiga bulan berturut-turut hingga November dari tahun lalu tetapi, lebih lambat dibandingkan ekspektasi meskipun Yen sempat merosot. Hal ini dikarenakan lambannya permintaan di Asia dan Eropa, sehingga meredam perdagangan.

Menurut laporan dari Kementerian Keuangan Jepang pada hari Rabu (17/12) pagi ini, kenaikan ekspor pada bulan November hanya mencapai 4.9 persen, lebih lemah dibandingkan dengan ekspektasi ekonom Reuters yang mengharapkan kenaikan hingga 7.0 persen dan turun hampir setengah jika dibandingkan dengan perolehan 9.6 persen pada bulan Oktober.

Kelemahan dalam ekspor dianggap sebagai dampak gabungan dari kenaikan pajak pada bulan April lalu, sehingga menjerumuskan perekonomian ke dalam kontraksi resesi di kuartal kedua hingga September.

Ekspor Lemah Hanya Sementara

Menurut ekonom dari SMBC Nikko Securities yang diwawancarai oleh Reuters, Hiroshi Watanabe, ekspor ke Asia dan Eropa sedang lemah. Kemerosotan di Eropa yang disebabkan oleh Rusia juga tengah menjadi perhatian. Namun perlambatan ekspor di Asia kemungkinan hanyalah sebuah reaksi temporer terhadap lompatan besar yang terjadi pada Oktober lalu, yang salah satu penyebabnya adalah dimulainya pengiriman barang ke Singapura.

Neraca perdagangan Jepang untuk bulan November pun dilaporkan mengalami defisit yang lebih kecil dibandingkan ekspektasi, yakni hanya 891.9 miliar Yen dibandingkan dengan 1.0001 Triliun.

Yen Masih Di Kisaran 116

Yen merespon laporan-laporan tersebut dengan diperdagangkan di 116.89, atau naik 0.40 persen setelah data neraca perdagangan diumumkan. Diketahui Yen terus menguat terhadap Dolar dan mulai menghuni level 117 pada Rabu lalu setelah sempat melampaui 120 di awal bulan. Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan moneternya saat ini pada Jumat mendatang.