Bestprofit Futures Jakarta

bprofitfutures.comPT.Bestprofit-Futures – Legenda tinju dunia Muhammad Ali meninggal di usia 74 tahun hari ini. Ia meninggal setelah lama bertarung melawan penyakit parkinson yang ia derita. Dalam kariernya, petinju dengan julukan ‘The Greates’ ini akhirnya pensiun pada 1981 setelah memenangkan 56 dari 61 pertandingan.

Sepanjang kariernya, menurut The Richest, Ali diperkirakan memiliki kekayaan mencapai US$ 80 juta (Rp1,074 triliun). Pendapatan terbesar yang pernah Ali dapatkan adalah pada 10 Oktober 1980 di Las Vegas.

Saat itu, ia sedang bertanding melawan Larry Holmes. Setelah menang karena KO teknis, Ali mengantongi US$8 juta (Rp107 miliar) seperti dilaporkan LA Times. Ali terus mendapat kekayaan dari kemenangan di tiap pertandingannya.

Pada 1975, kemenangan Ali melawan Joe Frazier membuatnya berhasil membawa pulang US$6 juta (Rp80,56 miliar). Selama masa pensiun, kekayaan Ali juga terus bertambah dari perusahaan yang ia dirikan, yakni GOAT LLC (Greates of All Time).

Tiap tahunnya, perusahaan tersebut meraup pendapatan sebesar US$4 juta (Rp53,7 miliar) hingga US$7 juta (Rp93,99 miliar). Pendapatan tersebut Ali dapat melalui kesepakatan bersama merek papan atas seperti Adidas dan Electronic Arts.

Dalam daftar 100 Selebriti teratas Forbes, Ali menempati posisi 13. Selamat jalan Ali.

Muhammad Ali (nama lahir Cassius Marcellus Clay, Jr.; lahir 17 Januari 1942 – meninggal 3 Juni 2016 pada umur 74 tahun) adalah mantan petinju professional asal Amerika Serikat yang dikenal secara luas sebagai salah satu tokoh olahraga yang paling signifikan dan terkenal dari abad ke-20. Dari awal kariernya, Ali dikenal sebagai sosok inspiratif, kontroversial dan berpengaruh baik di dalam maupun di luar ring.[4][5]

Clay lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat dan mulai berlatih tinju pada usia 12 tahun. Di usia 22, ia telah meraih juara padaHeavyweight World Championship dari Sonny Liston dalam pertarungan di tahun 1964. Tidak lama setelah itu, Clay memeluk agamaIslam dan mengubah nama “budak”nya menjadi Muhammad Ali dan memberikan pesan kebanggaan ras untuk Afrika Amerika serta perlawanan terhadap dominasi putih selama Gerakan Hak-Hak Sipil Afrika-Amerika tahun 1960-an.[6][7]

Pada tahun 1966, dua tahun setelah memenangkan gelar kelas berat, Ali menolak ikut wajib militer untuk Pasukan Militer Amerika Serikat, serta menentang keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam. Ali kemudian diskors, dan gelar juaranya di cabut oleh Komisi Tinju. Ia berhasil mengajukan banding di Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang membalikkan hukumannya pada tahun 1971. Pada saat itu, ia tidak bisa bertarung sama sekali selama hampir empat tahun dan kehilangan kinerja puncaknya sebagai atlet tinju. Tindakan Ali sebagai penentang perang membuatnya menjadi ikon besar untuk Generasi Tandingan.[8][9]

Ali tetap satu-satunya juara dunia kelas berat sebanyak tiga kali; ia memenangkan gelar tersebut pada tahun 1964, 1974 dan 1978. Di antara tanggal 25 Februari hingga 19 September 1964, Ali dinobatkan sebagai Juara Dunia Tinju Kelas Berat. Ia dijuluki sebagai “The Greatest”.[10] Pada tahun 1999, Ali dianugerahi “Sportsman of the Century” oleh Sports Illustrated.[11]

Bestprofit Futures Jakarta

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)