Bestprofit Futures Jakarta

Jakarta – Gangguan tiroid dapat menyerang semua individu pada berbagai usia. Tak terkecuali anak-anak. Gangguan tiroid yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat mempengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari dan memiliki dampak psikologis yang memberatkan.

Gangguan tiroid merupakan penyakit yang mengenai kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid merupakan kelenjar endokrin berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher tepat di bawah jakun. Kelenjar ini memproduksi hormon yang dapat mempengaruhi setiap sel, jaringan dan setiap organ tubuh. Hormon tersebut akan membantu tubuh untuk menggunakan energi agar tetap hangat, serta membuat otak, jantung, otot dan organ lainnya bekerja sebagaimana mestinya.

Anak-anak pun tidak lepas dari risiko terkena gangguan tiroid. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp(A)K, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan pada anak-anak, hormon tiroid berperan penting untuk perkembangan otak dan tumbuh kembang. Gangguan tiroid dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan gangguan perilaku pada anak-anak. Gangguan kelenjar tiroid bisa terjadi sejak lahir (Hipotiroid Kongenital) dan dapat mengakibatkan kelainan retardasi mental pada bayi baru lahir.

“Prevalensi hipotiroid kongenital di seluruh dunia 1:3000 dengan prevalensi 1:900 di daerah endemik tinggi. Jika angka kelahiran sebanyak 5 juta bayi/ tahun di Indonesia, maka akan terdapat lebih dari 1.600 bayi dengan hipotiroid kongenital per tahun yang akan terakumulasi tiap tahunnya,” ujar dia.

Diperlukan kolaborasi sinergis dan berkelanjutan antara klinisi, pemerintah dan swasta untuk menghadapi ganguan tiroid secara komprehensif. Sebagai salah satu wujud komitmen untuk membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, Merck turut serta dalam kolaborasi tersebut. Merck Indonesia berupaya untuk membuat inisiatif bermakna bagi pasien yang mengalami gangguan tiroid, melanjutkan komitmen setelah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Kesehatan (Kemkes) pada Agustus 2014.

Direktur Biopharma PT Merck Tbk, Evie Yulin, menambahkan, pihaknya melalui perusahaan riset pasar Opinion Health, pada Februari 2016 juga melakukan survei internasional mengenai pemahaman tentang gangguan tiroid pada anak. Salah satu hasil yang terungkap adalah tingkat pemahaman ibu akan gangguan tiroid pada anak tinggi (84%), tetapi angka pemeriksaan tiroid pada anak masih rendah (65 persen) dimana anak mereka belum pernah diperiksa fungsi tiroidnya.

“Secara global Merck bermitra dengan Thyroid Federation International (TFI), melakukan kampanye Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2016 berjudul ‘Tangkap Kupu-Kupu: Kenali Gejala Gangguan Tiroid pada Anak-anak’ kami berharap kegiatan yang dilakukan dapat membantu masyarakat untuk bebas dari gangguan tiroid,” tutup Evie Yulin.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)