http://www.tempo.co

TEMPO.CO , Jakarta:Saham perusahaan penerbangan jeblok menyusul hilangnya pesawat Air Asia tujuan Surabaya-Singapura. Menurut Kepala riset Woori Korindo Securities, Reza Priyambada mengatakan pelaku pasar memiliki persepsi negatif terhadap industri ini akibat tragedi AirAsia. (Baca : Bos Air Asia: Tak Ada CEO yang Jamin Keselamatan)

Karena hal itu pula, Reza memaklumi sebagian saham penerbangan di bursa regional bergerak negatif. Orang yang menjadi cemas bepergian dengan pesawat terbang, mendorong penggunaan pesawat di kawasan ASEAN, untuk sementara waktu kemungkinan mengalami penurunan. “Asumsinya menjadi demikian, bila Air Asia yang dikenal memiliki armada bagus dan canggih mengalami musibah. Bagaimana dengan maskapai lain?,” kata Reza saat dihubungi Tempo, Senin, 29 Oktober 2014. (Baca : JK: Belum Ada Jejak Air Asia)

Pada perdagangan kemarin sore, Senin, 29 Desember 2014, hingga pukul 16.00 sore saham AirAsia anjlok 0,23 poin (7,82 persen) ke level 2,710 ringgit Malaysia per lembar saham. Selain itu saham Singapore Airline Ltd (SAL) juga turun sebanyak 0,08 poin (0,69 persen) menjadi 11,59 dolar singapura per lembar saham.

Malaysia Airlines Sysetem (MAS), turut mengalami koreksi sebesar 0,005 (1,85 persen) pada level 0,265 per lembar saham. Garuda Indonesia Tbk (GIAA) juga dilaporkan turun 10 poin (1,7 persen) menjadi Rp 590 per lembar saham.

Namun demikian, Reza yakin hal ini takkan mengurangi optimisnya pada emiten penerbangan dalam negeri. Meski beberapa waktu penumpang pesawat bakal berkurang, namun kepercayaan masyarakat terhadap pesawat sebagai moda transportasi tercepat dan ternyaman dalam mobilitas antar pulau, membuat sektor ini masih tetap prospektif pada tahun 2015. “Hanya saja, investor tetap harus mempertimbangkan kinerja keuangannya. Terutama, pada komponen biaya operasional,” katanya.