Bestprofit Futures Jakarta – Meningkatnya penggunaan smartphone di dunia menyebabkan mobile marketing menjadi salah satu cara pemasaran yang sangat dipertimbangkan. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna mobile device yang cukup besar. Hal ini berakibat semakin seringnya akses terhadap konten mobile yang akhirnya meningkatkan potensi lebih luas bagi untuk berinovasi dalam mobile marketing.

Mobile Marketing Association – Warc telah melakukan survei di kawasan Asia Pasifik yang melibatkan 287 responden di 17 negara. Salah satu temuannya menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi negara ketiga terbesar (21%) dalam penggunaan mobile marketing, sementara posisi pertama diduduki Singapura (24%) dan posisi kedua oleh India (22%). Survei dikirimkan kepada para brand advertiser, creative agency, dan specialist mobile agency. Menurut pengalaman marketer di Asia Pasifik, mereka menyadari betapa sangat penting (65%) mobile marketing bagi industri pemasaran dan melihatnya sebagai channel yang cukup efektif (54%) untuk masa kini dan yang akan datang.

Dilansir dari Mobile Marketing Association, mobile marketing memiliki pengertian sebagai seperangkat praktik yang memungkinkan organisasi untuk berkomunikasi dan terlibat dengan audiens secara interaktif dan relevan melalui mobile device/network. Mobile marketing banyak dilakukan oleh brand advertiser (25%), media agency (31%), serta media owner (12%) dan mobile agency (11%). Mobile marketing yang dinilai penting dan akan terus berkembang dalam lima tahun ke depan dapat dilihat potensinya dari tiga sisi, yaitu sisi biaya, strategi, dan inovasi.

Biaya

Dari sisi biaya terdapat hasil survei yang cukup menarik. Didapatkan bahwa tidak ada yang meyakini biaya mobile marketing akan mengalami penurunan pada tahun ini. Walau hasil survei itu menyatakan bahwa biaya penggunaan mobile marketing selama tiga tahun terakhir hanya menghabiskan kurang 10% dari biaya pemasaran perusahaan. Dengan alokasi yang tidak terlalu besar, sebagian besar responden percaya bahwa alokasi biaya untuk mobile marketing akan terus bertumbuh. Apabila melihat jangka panjangnya, 1 dari 5 responden (21%) berekspektasi pertumbuhan 2 kali lipat di 5 tahun yang akan datang.

Strategi

Mobile marketing terbagi ke dalam beberapa channel antara lain berupa display, social marketing, content, search, app development, coupons/discounts, SMS marketing, serta loyalty schemes. Pada tahun 2015, hasil survei Warc menyatakan bahwa sebagian besar klien lebih memilih kegiatan pemasaran terbesar, yaitu display, dengan porsi 70%; social marketing (49%); dan content (33%). Signifikansi dari display advertising akan mulai terkalahkan dengan prediksi responden yang menyatakan display advertising mengalami penurunan (44%) di tahun 2020. Sementara itu, channel yang menanjak naik mengalahkan display advertising yaitu social marketing dan content (49%).

Untuk tahun 2015, channel media yang paling sering digunakan tetap diduduki oleh media sosial, online search, dan televisi. Ketiganya merupakan channel yang tak tergantikan sama pada tahun sebelumnya. Penggunaan mobile marketing cukup besar digunakan sebagai alat pengukur interest dan engagement pada kampanye media. Di tahun 2015, proporsi frekuensi penggunaan untuk tujuan tersebut diyakini cukup sering (46%) dan sangat sering (30%).

Dengan segala keunggulan dan prediksi akan kemungkinan mobile marketing akan terus bertumbuh pada lima tahun berikutnya, terdapat beberapa hambatan dalam pertumbuhannya. Tantangan pertama yaitu keahlian dalam industri mobile itu sendiri (40%).

Inovasi

Pasar yang memiliki tingkat inovasi paling tinggi dalam penggunaan mobile marketing adalah Singapura (41%), diikuti India, Tiongkok, Australia, Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Indonesia belum termasuk 10 negara yang mengoptimalkan inovasi pada kegiatan mobile marketing. Dengan menduduki negara ketiga terbesar dalam penggunaan mobile marketing, Indonesia masih memiliki peluang besar dalam peningkatan inovasi penggunaannya. Masih banyak inovasi yang perlu dilakukan dalam tren perkembangan mobile marketing di Indonesia.

Pada tahun 2015, kategori yang paling memiliki inovasi dalam mobile marketing adalah travel, transport, and tourism (37%). Diikuti oleh food and beverage (36%) serta leisure and entertainment (33%). Ketiga kategori tersebut selalu masuk dalam tiga terbesar sejak tahun 2013. Kategori tersebut memang tidak dapat dipungkiri memiliki tingkat inovasi yang cukup baik karena selain persaingan di antara kompetitor, konsumen memiliki ekspektasi yang cukup tinggi pada kategori ini. Penemuan unik justru terdapat di kategori financial, yang mengalami penurunan dari tahun 2013 (31%) menuju tahun 2015 (24%).

Location-based marketing merupakan teknologi mobile yang paling dirasa penting (84%) oleh klien, dan dinilai akan terus mengalami kenaikan (85%) di tahun 2020. Sama halnya dengan mobile wallet yang diyakini akan mengalami peningkatan sampai lima tahun ke depan. Mobile gaming dan QR code diyakini akan mengalami penurunan penggunaannya dalam lima tahun ke depan.

Penggunaan yang cukup besar di Indonesia dan potensi-potensi yang besar, dapat menjadikan mobile marketing dipertimbangkan lebih lanjut oleh pemasar di Indonesia agar mampu menjaring konsumen target. Dan tak lupa hambatan-hambatan mobile marketing, seperti privasi konsumen, juga patut diprioritaskan agar kegiatan pemasaran dapat optimal.

bprofitfutures.com