http://bisnis.liputan6.com

Pengusaha perempuan yang tergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) mendatangi Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Senin (23/3/2015) ini. Kedatangan mereka untuk meminta dukungan pemerintah dalam mereka menjalankan bisnisnya.

Ketua Umum IWAPI Nita Yudhi mengatakan dukungan pemerintah terutama dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang pelaksanannya semakin dekat. Ini berarti, persaingan antar penguasa juga semakin ketat.

“Karena merupakan program IWAPI dengan tujuan pemberdayaan perempuan sehingga mandiri secara ekonomi. Maka kita harus bertemu dengan kementerian membantu program IWAPI apalagi menghadapi MEA. Karena IWAPI tidak berjalan sendiri tanpa ada bantuan pemerintah,” kata dia, Jakarta.

Selama ini dukungan pemerintah terhadap pengusaha perempuan dianggap sangat kurang. Lihat saja, untuk kredit usaha masih tinggi sehingga memberatkan para pengusaha perempuan. Pihaknya pun menginginkan pemerintah memberi dukungan sebagaimana dilakukan pemerintah Thailand.

“Contoh bunga bank, masih kita rasakan bunga bank masih terlalu tinggi. Walaupun sudah ada KUR tapi KUR bunganya 14 persen yang pakai koleteral. Yang nggak pakai 21 sampai 24 persen. Sementara di Thailand bunga bank hanya 2 persen. Bagaimana pemerintah disana bisa support full karena mereka tahu kalau perempuan jalannya lurus,” paparnya.

Lebih lanjut, dia mengusulkan supaya kredit usaha untuk perempuan bisa turun. Adapun angka ideal menurutnya berada di 5-6 persen. “Kalau saya pikir 5-6 persen masih oke. Atau 4-6 persen lah, ” tandas dia. (Amd/Nrm)