Bestprofit Futures Jakarta

 

http://www.roelly87.com

PT. BESTPROFIT FUTURES

SALAH satu “godaan ternikmat” bagi kaum pria yaitu ketika menunaikan Salat Jumat. Secara jujur, saya harus mengakuinya. Terutama saat mendengar kutbah. Entah kenapa, nyaris setiap mengikuti Jumatan, seperti ada perang yang berkecamuk. Padahal, ketika berangkat ke Masjid, mata saya sangat segar. Pun begitu berwudu, benar-benar semangat.

Tapi, ketika menyelesaikan salat sunah yang berganti kutbah, tiba-tiba mata selalu diserang kantuk. Adakalanya, saya kuat menahan godaan untuk tidak tertidur dari mulai masuk hingga keluar masjid. Tapi, pernah juga saya “kalah” karena terlelap sementara hingga ikamah tiba.

Itu seperti yang terjadi kemarin, Jumat (11/12). Ironisnya, ketika menuju rumah, seperti ada yang mengipasi angin di atas kepala saya, tiba-tiba langsung segar lagi.

*      *      *

SIANG itu, seperti biasa menjelang kerja, saya menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi hitam untuk memanjakan mata di beranda rumah. Sambil memandang hilir mudik masyarakat yang bekerja, saya asyik menyeruput kopi khas Lampung yang diberi teman, bulan lalu. Tak lupa, keberadaan saya saat itu ditemani koran olahraga nasional dan harian umum yang mengisi rutinitas setiap siang.

Sambil menikmati perkembangan berita di Tanah Air bersama seteguk dua teguk kopi, saya dikagetkan suara dari jarak sekitar lima meter. Ketika menoleh, saat itu berdiri seorang pria berusia lanjut dengan memikul dagangannya.

Bagi saya, sosok tersebut tentu tidak asing lagi yang disebut sebagai tukang sol. Lantaran sering melihatnya saat menjajakan jasanya yang melewati rumah saya. Saat saya masih kanak-kanak, saya sering menyaksikan banyak tukang sol sepatu baik dipikul atau memakai sepeda bersama vermak jeans. Namun, seiring perkembangan zaman, hanya beliau yang masih bertahan.

“Jang, ceuk si ibu aya tas nu dijahit?” demikian kata pria yang dari dulu akrab kami panggil pak Solihin kepada saya dalam bahasa sunda sehari-hari. Seketika saya mangangguk dan beringsut ke rumah untuk mengambil tas yang bagian atas dekat sleting sudah jebol.

Entah memang sudah jadul karena kalau saya tidak salah ingat, adik saya memberinya sebagai kado ulang tahun pada seperlima abad. Atau, memang bekas kena paku hingga jahitannya sedikit terkelupas. Biasanya, saya memang kurang memerhatikan. Sebab, masih nyaman dipakai dan bolongnya bukan pada tempat yang penting seperti di bagian bawah.

Usai menyerahkan tas untuk dijahit pak Solihin, saya kembali melanjutkan aktivitas membaca dua surat kabar tersebut. Kebetulan, yang lagi hangat mengenai diduga publik figur berinisal NM dan PR serta mengenai wakil Seri A Italia yang lolos ke babak 16 besar Liga Champions.

Setelah selesai membolak-balik halaman demi halaman, saya iseng menengok ke samping. Saat itu, jemari pak Solihin terlihat asyik menari di antara jarum dan benang yang disimpulkan pada tas saya. Seketika, timbul keinginan  untuk memotret.

Saya pikir, beliau tidak memerhatikan saya. Ternyata, pria yang berasal dari Jawa Barat ini tersenyum saat saya mengarahkan ponsel, “Nanaonan atuh jang. Jiga euweuh pagawean wae motret-motret segala.”

“He he he, da si bapak mah serius amat atuh,” jawab saya segera memasukkan ponsel ke saku celana.

“Ya, serius teu serius. Ngarana geh keur gawe. Iyeu (tas ini) geus kelar. Naon deui nu disol?”

“Iya pak, nanti saya tanya di rumah dulu, ada yang mau disol lagi apa nggak,” jawab saya dengan bahasa Indonesia. Meski ada keturunan sunda, tapi saya belum berani bicara sama yang lebih tua dengan memakai bahasa sunda. Alias masih kagok. Malah beberapa tahun silam saat tinggal di kota yang identik dengan cemilan tahu, saya sempat disemprot akibat menawarkan makan dengan “dahar” dan bukan “tuang”.

Beruntung pak Solihin mengerti kesulitan saya dengan membalas obrolan yang dicampur bahasa Indonesia. Sambil mengerjakan sol sepatu milik tetangga, dengan ramah beliau menjawab beberapa pertanyaan saya. Salah satunya mengenai sudah berapa lama menjajakan jasa sol.

Yang menarik, jawabannya justru membuat saya terhenyak. “Ari saya mah keliling beginian jauh sebelum ujang -maksudnya saya- lahir. Dulu, banyak teman seangkatan saya yang juga jadi tukang sol. Tapi, sekarang banyak yang alih profesi dagang lain. Juga ada yang pulang kampung menikmati hari tua.”

“Pak Solihin belum ada rencana pensiun?”

“Lah, ngapain? Di rumah, anak udah pada besar, cucu juga udah pada SMA. Kalau saya di rumah aja, pasti mereka ga ngebolehin dagang. Padahal, saya dari muda ga bisa diam, harus gerak. Apalagi sekarang sudah tua,  jadi harus banyak beraktivitas biar ga pikun.”

“Sekarang, agak sepi ya pak, dibanding dulu.”

“Iya sih. Tapi rezeki mah kan kayak jodoh, jang. Enggak ke mana-mana, tapi dicarinya harus di mana-mana. Selama saya masih kuat, saya mah terus aja bakal keliling.”

“Iya juga sih pak. Lagian, lumayan juga sih kalo banyak pelanggan.”

“Nah itu dia jang. Sekarang, jarang ada tukang sol. Yang muda-muda, mana mau keliling kayak saya. Jadi biar kata untungnya dikit, tapi pemasukan setiap hari lancar. Lumayan buat jajan cucu di rumah.”

*      *      *

KETIKA melirik jarum jam, sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Itu berarti, saya harus bersiap menuju tempat kerja. Sambil mengucapkan terima kasih, saya pun pamit kepada pak Solihin dengan membereskan gelas dan lembaran koran. Beliau mengangguk diiringi senyum dengan jemari masih menari di sisi luar sepatu.

Saat melangkah menuju rumah, sayup-sayup terdengar obrolan dari beberapa orang yang sedang antre. Ada yang ingin sepatunya disol, tas, hingga sendal kulit. Ya, seperti kata pak Solihin. Rezeki memang tidak ke mana-mana karena sudah ada yang mengatur. Namun, jangan lupa. Untuk mendapatkannya, tentu kita harus mencarinya di mana-mana.

*      *      *

Artikel terkait:
Malu Itu Tidak Ada dalam Hidupnya
Menguak Rahasia Tong Setan

*      *      *

PT. BESTPROFIT FUTURES

 

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)