Investor Kaji Outlook Suku Bunga, Emas Pertahankan Gain

Bestprofit Futures Jakarta

Emas mempertahankan kenaikan pertama dalam 10 hari karena investor melihat rilis data AS minggu ini termasuk payroll bulanan yang akan membentuk pemikiran para pembuat kebijakan Federal Reserve terkait menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Bullion untuk pengiriman segera diperdagangkan di $ 1,216.18 per ons pada pukul 10:10 pagi di London dari $ 1,215.32 pada hari Selasa, ketika logam naik 0,9 persen, menurut Bloomberg. Emas telah kehilangan 6,1 persen pada bulan Mei, penurunan bulanan terbesar sejak November.

Kinerja emas yang suram pada bulan lalu memangkas reli tahun ini menjadi 15 persen, dengan investor menguraikan data dan komentar dari eksekutif The Fed untuk mengukur kemungkinan kebijakan pengetatan. Kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Juni atau Juli naik bersama dengan dolar pada bulan lalu, menekan emas yang tidak memberikan bunga.

The Fed Beige Book, survei kondisi ekonomi, dirilis pada hari Rabu, diikuti oleh non-farm payrolls pada hari Jumat. Ketua The Fed Janet Yellen dijadwalkan berbicara di Philadelphia pada tanggal 6 Juni. Bank Sentral Eropa juga mengumumkan keputusan kebijakan terbarunya pada hari Kamis.

Kenaikan emas pada hari Selasa diikuti oleh angka yang menunjukkan kepercayaan konsumen AS secara tak terduga turun sementara indeks manufaktur melemah.

Indeks pabrik resmi China untuk bulan Mei yang dirilis pada hari Rabu tetap berada tepat di atas garis pemisah yang mengisyaratkan peningkatkan kondisi untuk bulan ketiga, menambah bukti terbaru dari stabilisasi ekonomi kedua terbesar di dunia tersebut.

Perak sedikit berubah di $ 15,98 per ons setelah merosot 10 persen pada bulan Mei, penurunan bulanan terbesar sejak September 2014.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)

Emas berjangka awali Juni dengan kenaikan seiring penurunan dolar AS

Bestprofit Futures Jakarta

Emas berjangka menggebrak perdagangan hari pertama pada bulan Juni dengan kenaikan setelah terpukul pada bulan Mei menyusul keuntungan yang tidak terlalu bagus.

Logam kuning ini menemukan bidders seiring investor menjual saham dan menjauhi dolar AS untuk beralih ke yen yang biasa dianggap sebagai aset haven.

Yen menguat dan dolar jatuh setelah secara potensi “Brexit” menemukan beberapa traksi dominan dalam dua jajak pendapat. Pasar global terus menilai dampak potensial baik dari dalam maupun luar referendum di Inggris Raya mengenai keputusan bertahan atau meninggalkan Uni Eropa. referendum dijadwalkan akan berlangsung pada 23 Juni dengan hasil yang diharapkan akan dikeluarkan pada tanggal 24 Juni.

Analis juga melihat penurunan beruntun panjang untuk emas dan mengatakan pemantulan sederhana terjadi secara tak terduga.

Pada awal perdagangan, emas Juni berada di $ 2, atau sekitar 0,2%, lebih tinggi di level $ 1,216.80 per ounce. Harga, berdasarkan kontrak teraktif, turun hampir $ 76 per ounce pada bulan Mei dari posisi settle $ 1,290.50 pada akhir April. Emas berjangka sendiri menetap di level $ 1,295.80 yang merupakan level tertinggi 15-bulan baru-baru ini pada 2 Mei lalu.

“Selama tiga setengah tahun bersama, kami menikmati momen tak terlupakan dengan kemenangan hebat dan dua gelar juara dunia, serta beberapa waktu sulit yang membuat kami tambah kuat,”

“Kami bekerja dengan keras tahun ini untuk merebut gelar juara. Ini kehormatan besar bisa jadi bagian dari keluarga Honda dan saya senang bisa bertahan dengan kelompok spesial untuk dua tahun ke depan,” pungkasnya.

Sebelumnya masa depan Marquez sempat dipertanyakan ketika Jorge Lorenzo resmi hijrah ke Ducati. Meski terkesan mustahil, muncur kabar yang mengatakan The Baby Alien siap jadi rekan baru Valentino Rossi di Yamaha.

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengangkat permintaan untuk dolar, meredam minat pembeli di logam mulia yang dihargakan dalam dolar. Kenaikan suku bunga juga dapat menempatkan tekanan pada emas seiring ketidakmampuan komoditas ini dalam membayar bunga, mengirim investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi pada iklim kenaikan suku bunga.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)

Emas Melemah Terkait Investor Yang Masih Menantikan Data Payroll AS, ECB

Bestprofit Futures Jakarta

Emas melemah. Bullion sedikit berubah untuk hari kedua karena investor menunggu petunjuk lebih lanjut pada kebijakan moneter global, dengan pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa yang akan bertemu pada hari Kamis dan data lebih lanjut dari AS yang akan menjadi bahan pertimbangan The Fed Bestprofit Futures Jakarta.

Bullion untuk pengiriman cepat diperdagangkan pada $ 1,211.86 per ons pada 9:31 pagi di Singapura dari $ 1,212.98 pada hari Rabu kemarin, ketika harga tersebut berakhir hanya 0,2 persen lebih rendah, menurut Bloomberg generic pricing. Juni sejauh ini telah terbukti merupakan bulan yang lebih buruk dari Mei, ketika emas kehilangan 6,1 persen di tengah spekulasi bahwa The Fed akan memperketat kebijakannya.

Emas telah memangkas reli tahun ini menjadi 14 persen karena pedagang meningkatkan spekulasi dari kemungkinan kenaikan suku bunga di AS pada bulan Juni atau Juli, meredam daya tarik emas. Sementara ECB mungkin tidak akan menambah stimulus pada pertemuan hari Kamis, Presiden Mario Draghi telah mengsahkan suku bunga negatif untuk memulai pertumbuhan. Di seberang Atlantik, non-farm payrolls pada hari Jumat, serta komentar Ketua The Fed Janet Yellen pada 6 Juni ini, akan diperhatikan oleh investor sebagai petunjuk kenaikan suku bunga oleh pejabat The Fed di 14-15 Juni nanti.

Pada perdagangan hari ketiga di minggu ini, emas masih akan mencoba kembali untuk mendobrak level-level atasnya terbantu masih akan rendahnya suku bunga global dan paket stimulus ekonomi Jepang yang baru.

Di perdagangan awal pekan kemarin, emas sendiri lanjutkan kenaikannya setelah keputusan bank sentral Australia menurunkan suku bunga nya sebesar 25 bps disertai harapan penurunan suku bunga lebih lanjut dikemudian hari.

Selain itu tekanan terhadap index dollar tak berhenti disitu saja disebabkan pemerintah Jepang menyetujui paket bantuan ekonomi terbaru sebesar $ 73 milyar dan data core PCE AS yang juga mereda sehingga tekanan terhadap laju inflasi berkurang.

Bayang-bayang redupnya ekonomi global ini juga turut menekan harga minyak mentah sehingga nantinya juga akan meredakan laju inflasi dengan sendirinya, dan membuat tekanan kenaikan suku bunga khususnya di AS juga akan meredup pula.

Poin penting pada perdagangan hari ini adalah data aktivitas jasa di sebagian besar negara dan data awal payroll AS.

Melihat perkembangan laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi negeri secara global nampak bisa meredup sejenak sehingga kami memperkirakan bahwa aktivitas jasa di Eropa dan AS sedikit ada koreksi sehingga peluang koreksi terhadap index dollar bisa muncul kembali.

Data awal situasi tenaga kerja yang tertuang pada ADP payroll nampak masih belum menunjukkan sebuah hal yang positif kali ini sebagai dampak jelang pilpres di AS yang tentunya menggiring investor masih menanti calon mana yang akan unggul kali ini di pilpres AS pada akhir tahun ini.

Penguatan emas masih bisa berlanjut bila pasar ekuitas seperti pasar saham meredup kembali yang kemarin terjadi sebagai dampak dari kuatirnya investor saham terhadap perkembangan ekonomi global yang terus kontraksi.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)

IHSG 1 Juni Sesi 1 Cetak Pemasukan Dana Asing 100 Miliar Lebih

Bestprofit Futures Jakarta

Bestprofit Futures – Memasuki sesi 1 perdagangan IHSG Rabu (01/06), IHSG naik 46,07 poin atau 0,96% pada 4842,94. Penguatan IHSG terdorong aksi beli saham investor.

Aksi beli saham terjadi memanfaatkan penurunan saham-saham, dimana IHSG berakhir turun 0,81 persen pada perdagangan kemarin.

IHSG siang ini terdukung oleh semua sektor yang positif, dengan kenaikan tertinggi pada sektor Konsumer yang naik sebesar 1,22%. Pada sesi 1 siang ini tercatat 164 saham menguat, sedangkan 98 saham melemah. Sampai siang ini terjadi transaksi perdagangan sebanyak 2,10 miliar saham dengan nilai mencapai 2,34 triliun, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 116.303 kali.

Aksi beli saham investor asing siang ini terjadi.  Terpantau siang ini dana asing yang masuk ke pasar modal mencapai Rp. 106,88 miliar.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan IHSG berpotensi menguat dengan lanjutan aksi beli saham dan optimisme ekonomi Indonesia. IHSG diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Support 4811-4779, dan kisaran Resistance 4872-4905.

Hingga perdagangan akhir pasar spot valas sesi Asia Rabu siang (1/06), kurs rupiah yang dibuka  lebih rendah dari perdagangan sebelumnya bergerak negatif mendekati kisaran 13700. Posisi dollar masuki sesi Eropa siang ini masih berada di area negatif.

Sekalipun rupiah belum mampu bergerak positif namun investor asing masih mengkoleksi saham-saham unggulan di perdagangan bursa hingga mencetak net buy sebesar Rp114 miliar. Dampak dari aksi asing ini membuat IHSG Rabu Siang melonjak ke posisi 4840 atau naik hingga 1 persen.  

Pergerakan kurs rupiah  di pasar spot pagi ini bergerak negatf dengan posisi pelemahan 0,30% dari perdagangan sebelumnya dan kini bergerak pada kisaran Rp13689/US$ setelah  dibuka lemah  pada level Rp13661/US$. Dari sisi kurs jisdor dan kurs BI rupiah Senin diperlemah dari perdagangan sebelumnya.

Kurs jisdor yang ditetapkan Bank Indonesia hari ini  melemah ke  13671 dari  posisi 13615 perdagangan hari Selasa (31/05), sedangkan kurs transaksi antar bank melemah ke posisi 13739 setelah perdagangan sebelumnya 13683.

Dan untuk pergerakan kurs Rupiah di pasar spot hari ini  berpotensi terus kuat hingga akhir perdagangan  meskipun dollar AS diprediksi kuat pada sesi sore, sehingga Analyst Vibiz Research Center memperkirakan rupiah bergerak di level support di 13697  resistance  13652 per dollar.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)

Yen Mundur Bersama CPI Jepang Bulan April

Bestprofit Futures Jakarta

Yen melemah terhadap Dolar AS di sesi perdagangan Asia pada hari Jumat (26/05) pagi ini meskipun harga konsumen Jepang untuk bulan April sedikit lebih baik daripada ekspektasi, khususunya untuk pengukuran CPI inti.

Di samping itu, para investor juga tengah menantikan pidato Ketua The Fed Janet Yellen malam nanti di Harvard, yang diharapkan akan menyinggung masalah kenaikan tingkat suku bunga pada bulan Juni mendatang. USD/JPY meningkat tipis 0.13 persen ke posisi 109.91.

Indeks CPI Jepang Menurun

Consumer Price Index (CPI) Jepang yang tidak termasuk makanan segar menurun 0.3 persen pada bulan April dari setahun sebelumnya, setelah mengalami penurunan dengan jumlah yang sama pada bulan Maret, demikian menurut Biro Statistik Jepang pada hari ini. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan penurunan tipis 0.4 persen.

Sementara itu, CPI inti juga jeblok di level yang sama, yakni 0.3 persen, namun sedikit lebih baik daripada ekspektasi penurunan yang juga 0.4 persen YoY. Indeks Harga Konsumen Jepang masih berada di bawah tekanan dari menurunnya harga barang-barang, karena perusahaan makanan dan rantai restoran sedang waspada terhadap kenaikan suku bunga sejak awal tahun fiskal 2016 pada bulan April lalu.

“Inflasi Jepang masih akan lemah,” kata Takashi Shiono, ekonom Credit Suisses Group di Tokyo yang dikutip oleh Bloomberg.

“Jika Anda memperhatikan perekonomian dan harga-harga fundamental, maka BoJ harus segera melakukan pelonggaran.” lanjut Shiono sembari mengutip bahwa rendahnya harga energi merupakan faktor utama yang menyeret inflasi. Harga energi jeblok sebanyak 12.6 persen pada bulan April dari satu tahun sebelumnya, mengikis persentase poin CPI Jepang sebanyak 1.1 persen, demikian yang dilaporkan oleh Biro Statistik Jepang.

CPI Jepang

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)