Bestprofit Futures Jakarta

Negara-negara Asia sedang memodernisasi infrastruktur mereka. China telah mendirikan jaringan rel kereta berkecepatan tinggi terbesar di dunia. Jepang telah berjalan dengan kereta peluru alias kereta super cepat selama lima dekade. Kini, dua negeri jiran: Singapura dan Malaysia sepakat mebangun jaringan kereta berkecepatan tinggi.

Melansir Bloomberg, Selasa (19/7/2016), kedua negara tetangga kita itu, dikabarkan telah menandatangani perjanjian pada Selasa ini. Proyek senilai USD5,5 miliar atau setara Rp71,9 triliun (estimasi kurs Rp13.074/USD) ini, akan menghubungkan Singapura dengan Kuala Lumpur.

New Straits Times melaporkan bahwa nota kesepahaman tersebut disampaikan langsung oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia. Rencananya, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong akan mengunjungi rekannya PM Malaysia Najib Razak membahas detail kesepakatan.

Perjanjian akan membuka jalan bagi negosiasi akhir pada pengembangan dan pelaksaanan jaringan sepanjang 300 kilometer (185 mil), yang menghubungkan Singapura dan Kuala Lumpur. Bila tidak ada aral melintang, pembangunan jaringan kereta cepat ini akan rampung pada tahun 2020.

Najib mengatakan bahwa pembangunan jalur kereta cepat ini akan mengubah cara tetangga dalam melakukan bisnis. “Rel kereta cepat ini adalah kunci bilateral bagi kedua negara,” kata Lee dalam sebuah pernyataan Senin kemarin.

Komitmen kedua pemerintah dalam proyek ini semakin memperkuat hubungan bilateral, meningkatkan konektivitas, memperkuat hubungan ekonomi, dan menempa lebih dekat lagi hubungan antarwarga negara.

“Ini pertanda baik karena umumnya investor mencari kemudahan dari antar konektivitas di seluruh Asia Tenggara,” ujar manajer investasi di Samsung Asset Management Hong Kong, Alan Richardson kepada Bloomberg, Selasa (19/7/2016).

Jalur kereta kecepatan tinggi ini akan memangkas perjalanan darat antara dua kota, yang selama ini memakan waktu sekitar lima jam menjadi 90 menit. Pembangunan ini juga akan memberi alternatif lain bagi penumpang pesawat, meski jarak tempuh pesawat dari Singapura ke Kuala Lumpur sekitar satu jam.

“Jalur kereta berkecepatan tinggi ini bisa melayani beberapa lalu lintas, terutama mengurangi kemacetan di bandara,” terang John Mathai, analis transportasi yang berbasis di Singapura.

Dalam pengadaan ini, kedua negara sedang mempertimbangkan antara menggunakan produsen China, Jepang atau dari Eropa. Pembangunan rel kereta berkecepatan tinggi telah membuat kompetisi antara CRRC Corp China dengan produsen Jepang, Hitachi Ltd dan Mitsubishi Heavy Industries Ltd kian sengit. Seperti halnya di Indonesia.

Produsen dari Eropa seperti Alstom Perancis, Siemens AG Jerman, CAF dan Talgo SA dari Spanyol, serta Bombardier Kanada, dan konsorsium Jepang dan Korea Selatan juga dikabarkan berminat dan mengajukan proposal untuk proyek ini. Dan keputusan menggandeng teknologi mana, tampaknya masih menunggu hasil pertemuan Lee dengan Najib.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)