Bestprofit Futures Jakarta

Pantai Mutiara diklaim sebagai pulau reklamasi pertama di Teluk Jakarta, Indonesia, yang di atasnya dikembangkan properti-properti mewah dengan harga miliaran Rupiah.Di pulau rekayasa ini pula kelak berdiri sepuluh “Kota Dunia” yang direpresentasikan ke dalam bangunan tinggi berupa apartemen bertajuk Regatta The Icon Bestprofit Futures Jakarta.

Kesepuluh menara apartemen itu dirancang menghadap sepuluh kota dunia sesuai dengan orientasi (kompas)-nya yakni Dubai, Miami, Monte Carlo, Dubai, New York, London, Shanghai, Tokyo, Acapulco, dan Sydney.

Adalah PT Intiland Development Tbk (DILD) yang menjalin aliansi strategis dengan PT Global Ekabuana membentuk usaha patungan bernama Badan Kerjasama Mutiara Buana (BKMB) untuk membangun Regatta The Icon.

Mereka berambisi merealisasikan gagasan waterfront city atau lebih tepatnya waterfront property hadap laut dengan pemandangan Teluk Jakarta.

Mirip konsep pengembangan di Dubai, Uni Emirat Arab, yakni Palm Jumeirah dengan properti-properti mentereng berarsitektur kelas wahid.

Tak mengherankan jika kemudian BKMB menggandeng Tom Wright, arsitek Inggris kaliber dunia yang juga mendesain bangunan ikonik sepanjang masa, The Burj Al Arab, untuk merancang Regatta The Icon.

Maka yang terjadi selanjutnya adalah karya arsitektur yang bikin kita berdecak kagum. Bangunan tinggi bercangkang kaca yang mendongak ke angkasa dengan layar terkembang menghiasi Teluk Jakarta.

Siapa pun yang kebetulan berlayar mengitari Teluk Jakarta, pasti akan bersirobok dengan bangunan ini. Bahkan, saat polemik pembangunan reklamasi Pulau G (Pluit City) mengemuka, Regatta The Icon tak pernah luput tertangkap kamera.

Chief Operating Officer DILD Suhendro Prabowo mengatakan, Regatta The Icon memang dirancang sebagai properti dengan konsep waterfront city yakni mengintegrasikan hunian tapak atau landed house Pantai Mutiara di kavling darat dengan kavling laut.

“Hingga saat ini kami sudah membangun tujuh menara. Empat di antaranya masuk dalam pengembangan Tahap I dan sudah dihuni dengan tingkat okupansi 100 persen,” jelas Suhendro kepada Kompas.com, Kamis (1/9/2016).

Keempat menara apartemen tersebut adalah Miami, Monte Carlo, Dubai, dan Rio de Janeiro.

Sementara tiga lainnya London, New York, dan Shanghai masih berupa konstruksi struktur yang satu di antaranya sudah mencapai tahap tutup atap (topping off) yakni menara London.

Ketiga nama menara terakhir masuk dalam pengembangan Tahap II dengan taksiran nilai proyek sekitar Rp 2 triliun. Sedangkan nilai investasinya sekitar Rp 1 triliun di luar lahan.

Adapun tahap III yakni menara Tokyo, Acapulco dan Shanghai serta satu menara hotel mewah akan dimulai pada 2018 mendatang.

Rp 9 Miliar

Menjadi pertanyaan menarik sekaligus menggelitik, siapa yang menghuni rumah-rumah Pantai Mutiara dengan fasilitas dermaga pribadi, dan menara-menara apartemen mewah tersebut?

Yang jelas, bukan mereka yang pendapatannya Rp 10 juta-Rp 25 juta per bulan, melainkan kalangan berkantong tebal yang mampu membeli lahan Rp 35 juta per bulan.

Harga lahan tersebut berlaku untuk kavling kanal atau lahan reklamasi Pantai Mutiara. Jauh lebih mahal ketimbang kavling darat yang dipatok senilai Rp 25 juta per meter persegi.

Sementara harga apartemen Regatta The Icon sudah menembus angka Rp 30 juta per meter persegi dengan unit termurah berada pada posisi Rp 9 miliar.

“Rp 9 miliar itu posisi harga sekarang untuk unit terkecil. Unit penthouse harganya lebih tinggi lagi,” imbuh Suhendro.

Kendati sudah nagkring di angka Rp 9 miliar, Suhendro berpendapat, harga jual tersebut masih jauh lebih murah ketimbang harga apartemen di kawasan central business district (CBD) Jakarta.

Di CBD Jakarta, harga rata-rata apartemen sudah menembus level Rp 45 juta per meter persegi.

“Jadi, masih lebih kompetitif Regatta The Icon,” tuntas Suhendro.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)