Banyak orang yang, ketika memulai bisnis, berkata “yang penting nekat saja, jangan terlalu memikirkan untung ruginya!” Tahukah Anda bahwa kenekatan seperti itu justru membuat banyak wiraswastawan baru salah kaprah dan akhirnya berakhir bangkrut atau ‘tenggelam’ hanya dalam beberapa tahun saja.

Anda mungkin memahami konsep nekat ini dari kisah-kisah orang sukses, misalnya Bill Gates yang keluar dari sekolah demi mengembangkan Microsoft, Ray Kroc yang membangun ‘kerajaan’ McDonalds dari restoran burger yang hampir bangkrut, bahkan J. K. Rowling yang rela berhenti dari pekerjaan sebagai guru demi menyelesaikan seri Harry Potter yang sukses. Akan tetapi, harus diingat bahwa apa yang mereka lakukan bukan ‘nekat’ melainkan ‘mengambil resiko.’

Perbedaan Nekat dan Mengambil Resiko

Secara umum, ‘nekat’ dan ‘mengambil resiko’ sama-sama mendorong orang untuk melakukan suatu hal yang kemungkinan suksesnya tipis dan bahkan menyodorkan konsekuensi negatif jika mereka gagal, dimana dalam hal bisnis bisa berarti kebangkrutan atau pailit. Akan tetapi, ada perbedaan mendasar dalam nekat serta mengambil resiko. Berikut beberapa penjelasannya, dengan mengambil contoh dari tokoh-tokoh yang sudah disebutkan:

Ada unsur pertimbangan dan belajar dalam pengambilan resiko. Orang yang nekat akan terjun ke dalam suatu rencana bisnis tanpa melakukan pertimbangan serta mempelajari aspek yang ada di dalam bisnis tersebut. Sementara, para pengambil resiko siap untuk belajar dan bahkan sudah membekali diri mereka dengan wawasan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan.

Ambil contoh J. K. Rowling; ia adalah seorang guru yang menyelami dunia anak-anak serta menggemari sastra, sehingga tidak ragu memulai karir sebagai penulis. Ray Kroc telah melihat potensi restoran burger sebagai restoran keluarga, sesuatu yang belum banyak digarap kedai burger sebelum McDonalds. Bill Gates sudah menekuni dunia komputer sejak kecil, sehingga mereka tidak bisa dibilang nekat dengan keputusan-keputusan yang diambil.

Ada manajemen resiko dalam tindakan pengambilan resiko. Manajemen resiko yang matang merupakan perbedaan utama antara orang yang berani mengambil resiko dengan orang yang nekat. J. K. Rowling berani berhenti menjadi guru untuk menulis karena ia tahu ia bisa menggunakan tunjangan bagi pengangguran dari pemerintah untuk biaya hidup selama bukunya belum terjual. Bill Gates memanfaatkan aset keluarga sehingga ia tahu ia bisa kembali kuliah jika bisnisnya tidak sukses.

Orang yang nekat memulai suatu hal tanpa manajemen resiko serta ‘jaring pengaman’ jika mereka gagal. Hal inilah yang sering disalahpahami banyak pengusaha baru sehingga mereka bangkrut dalam waktu singkat. Pastikan selalu ada rencana cadangan jika rencana utama tidak sukses.

Ada gambaran rencana masa depan yang berkesinambungan dalam pengambilan resiko. Orang yang berani mengambil resiko membuat rencana usaha masa depan yang berkesinambungan, bukan sekedar mencoba suatu hal tanpa rencana terarah. J. K. Rowling sudah merencanakan daftar penerbit potensial bagi bukunya dan bahkan rencana cerita untuk sekuel sejak sebelum mengirimkan naskah bukunya. Ray Kroc sudah merencanakan bisnis berbentuk waralaba sejak sebelum mendirikan gerai McDonalds pertamanya. Hal ini mencegah mereka dari kelimpungan ketika resiko yang diambil mulai membuahkan hasil.

Sumber : bisnisindeks.com