Rupiah Melonjak ke Rp12.027 per Dollar AS

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anjloknya sejumlah mata uang emerging market seiring respon negatif terhadap melonjaknya kembali harga minyak global memberikan sentimen negatif terhadap laju rupiah yang melanjutkan pelemahannya.

Pada posisi kemarin nilai tukar rupiah berada pada Rp12.027 per dollar AS. Rupiah melanjutkan pelemahan setelah sehari sebelumnya berada pada Rp12 ribu per dollar AS (Kurs Tengah BI).

Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities menilai pernyataan dari BI bahwa pelemahan rupiah diperlukan untuk meningkatkan ekspor, malah membuat rupiah melemah dan pelaku pasar pun semakin menjauhi mata uang tersebut.

“Peningkatan tensi politik di Timur Tengah membuat laju bursa saham Asia berada di zona merah, ini yang mendorong pelemahan nilai tukar rupiah,” katanya di Jakarta, Kamis (26/6/2014).

Sentimen positif dari pernyataan Perdana Menteri (PM) Jepang bahwa deflasi Jepang akan segera berakhir seiring ekspansi bisnis juga belum mampu memberikan sentimen positif.

Kekhawatiran akan lonjakan harga minyak juga memberikan sentimen negatif pada laju bursa saham Eropa sehingga masih memperpanjang pelemahannya.

Di sisi lain, sentimen tersebut membuat yield obligasi dan credit risk di sejumlah negara Eropa mengalami kenaikan sehingga berimbas negatif pada bursa saham Eropa.

Sentimen positif meningkatnya Gfk consumer confidence Jerman tertutupi oleh sentimen-sentimen negatif tersebut termasuk oleh melambatnya business confidence Perancis.

Pada Kamis (26/6) diperkirakan laju rupiah di bawah level support Rp12.030. Diperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah terutama setelah merespon pernyataan dari BI tersebut yakni Rp12.035 hingga Rp12 ribu (kurs tengah BI).