Berita21.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowadojo, menyebutkan ada risiko yang terjadi jika prediksi nilai tukar rupiah berkisar di Rp11.500-Rp12.000 untuk tahun depan.

Risiko tersebut antara lain berasal dari eksternal dan domestik. Menurut dia, ari segi eksternal terlihat dari percepatan ekonomi global, peningkatan bunga di Amerika, ekonomi China yang melambat. Sementara negara berkembang yang akan terkena dampak dari krisis global yang berdampak pada negara lainnya.

“Yang (faktor) eksternal itu kan kelihatan bahwa kalau seandainya terjadi percepatan, kemudian peningkatan bunga di Amerika, dan di Cina terjadi perlambatan. Kemudian ada negara berkembang yang akan kena dampak dari krisis global dan berdampak pada negara-negara yang lain kan ada risiko,” ujar Agus di Musrenbangnas 2014, Rabu (30/4/2014).

Dirinya juga mengatakan tantangan di sektor domestik seperti inflasi dan terciptanya current account yang lebih sehat. “Ya, tapi kalau yang kita lihat tadi di tengah domestik kita pun cukup banyak tantangan. Tantangan itu juga terkait dengan inflasi dan terciptanya current account yang lebih sehat,” tuturnya.

Pertumbuhan current, menurut dia, cukup menggembirakan sekali. Pihaknya memprediksi di bulan Maret inu neraca perdagangan akan surplus lagi. Jumlahnya akan lebih baik dari Februari.

“Pertumbuhan current account di kuartal pertama 2014 kan cukup menggembirakan. Dari bank Indoensia percaya kelihatannya di bulan Maret ini neraca perdagangan akan kembali surplus, dan jumlahnya kan lebih baik dari Februari.” katanya.

Dia memperkirakan neraca perdagangan akan surplus di atas US$800 juta. Sepanjang kuartal pertama menghasilkan hasil yang positif di atas US$1 miliar. “Kita perkirakan di atas US$800 juta dan kalau melihat sepanjang kuartal pertama itu positif, di atas US$1 miliar,” katanya.

IC/B21.com