Bestprofit Futures

Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun yang baru saja menggantikan mendiang ayahnya tahun lalu, telah memperketat kontrol kekuasaan atas kekayaan kerajaan yang ditaksir bernilai lebih dari US$ 30 miliar. Bestprofit Futures

Dikutip dari laman Voice of America, Rabu (19/7/2017), undang-undang yang mulai berlaku beberapa hari lalu itu, telah memosisikan Biro Harta Kerajaan sebagai badan yang mengurusi segala bentuk kekayaan kerajaan di bawah kendali Raja Maha Vajiralongkorn.

Menurut majalah Forbes tahun 2011, aset kerajaan tersebut sebagian besar terdiri dari tanah dan bangunan (real estate).

Sebelumnya, Biro Harta Kerajaan berada di bawah kendali pemerintah melalui kementerian keuangan dan dewan komisaris Thailand.

Namun, perombakan kabinet yang telah dilakukan oleh raja telah membuat UU baru — yang memungkinkan raja mengelola keuangan sesuai dengan keinginannya.

Ayah Vajiralongkorn, mendiang Raja Bhumibol Adulyadej, secara praktik juga menjalankan otoritas tertinggi atas semua biro negara.

Namun, mendiang raja lebih memberikan tanggung jawab kepada semua biro negara dalam menjalankan tugasnya — termasuk dalam urusan keuangan. Demikian dilansir dari laman ABC News.

Artikel Forbes tahun 2011 yang merilis total kekayaan istana mendapat teguran tertulis dari Kedutaan Thailand di Washington DC, Amerika Serikat. Pihak Negeri Gajah Putih menekankan, aset kerajaan tersebut bukan sepenuhnya milik raja, melainkan milik negara.

Kini, Raja Maha Vajiralongkorn mendapat ujian kepercayaan dari rakyat. Setelah mendiang ayahnya berhasil menarik hati warga.

Sebab, reputasi Vajiralongkorn yang erat dengan kata “playboy” tampaknya akan menjadi kerikil penghalang bagi dirinya untuk memimpin Negeri Gajah Putih tersebut. Bestprofit Futures

Posisi Vajiralongkorn juga diperumit dengan hubungan kerajaan dengan militer yang sempat melakukan kudeta tahun 2014.

Empat negara Arab, yakni Arab Saudi, Bahrain, Mesir, dan Uni Emirat Arab mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik, darat, laut, dan udara dengan Qatar. Kondisi ini menandai krisis Teluk paling serius yang pernah terjadi di kawasan ini.

Arab Saudi melalui kantor berita SPA mengatakan, pemutusan hubungan diplomatik diperlukan untuk melindungi negara itu dari terorisme dan ekstremisme. Tak sampai di situ, Saudi juga menarik seluruh pasukan Qatar dari koalisi yang tengah dipimpinnya di Yaman.

Selain Saudi, Kementerian Luar Negeri Bahrain menuding media Qatar melakukan penghasutan, mendukung kegiatan dan pendanaan teroris bersenjata yang terkait dengan Iran untuk melakukan sabotase serta menyebarkan kekacauan di Bahrain.

Mendapat tekanan bertubi-tubi Menlu Qatar menyebut tuduhan tersebut tidak benar dan tak masuk akal. Doha menegaskan tidak siap mengubah kebijakan luar negerinya demi menyelesaikan konflik. Selain itu, mereka juga tidak akan pernah berkompromi atau menyerah atas tekanan sejumlah negara. Bestprofit Futures

“Kami belum siap untuk menyerah dan tidak akan pernah siap untuk menyerah atas kemerdekaan kebijakan luar negeri kami,” ujar Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani seperti kutip dari France24.

“Kami diisolasi karena kami sukses dan progresif. Kami adalah platform untuk perdamaian, bukan terorisme…Perselisihan ini mengancam stabilitas seluruh kawasan,” ujarnya.

Sheikh Mohammed menambahkan, Qatar belum menerima daftar tuntutan dari negara-negara yang kini memusuhinya. Namun, Menlu Qatar itu menyatakan, konflik harus diselesaikan dengan damai. “Tidak pernah ada solusi militer atas masalah ini.”

( mfs – Bestprofit Futures )