Bestprofit Futures Jakarta

Jika suka makan pisang, puaskan diri Anda untuk menyantapnya. Sebab, buah itu mungkin akan punah dalam waktu lima hingga 10 tahun.

Menurut ahli patologis tanaman dari University of California, Davis, Ioannis Stergiopoulos, senyawa penyakit yang berkembang dengan cepat, yang dikenal sebagai Sigatoka complex — bisa jadi ancaman mematikan bagi pasokan pisang dunia Bestprofit Futures Jakarta.

Sigatoka complex terdiri atas tiga penyakit jamur —  yellow Sigatoka (Pseudocercospora musae), bercak daun eumusae (Pseudocercospora eumusae), dan black Sigatoka(Pseudocercospora figiensis). Saat ini saja, penyakit tersebut telah mengurangi produksi pisang sebanyak 40 persen.

Dari ketiganya, black Sigatoka merupakan risiko terbesar untuk 100 juta ton pisang yang ditanam pertahun di 120 negara.

Untuk memahami bagaimana serangan jamur terjadi, Stergiopoulos melakukan pengurutan (sequencing) genom bercak daun eumusae dan black Sigatoka dan membandingkan hasilnya dengan genom yellow Sigatoka.

Apa yang ditemukan ahli itu adalah, tiga jamur penyakit tersebut tak hanya mematikan sistem kekebalan pohon pisang, namun metabolisme jamur tersebut juga beradaptasi untuk menyesuaikan diri dengan inangnya.

Itu berarti, jamur tersebut bisa memproduksi enzim untuk memecah dinding sel tanaman — untuk mendapatkan makanan berupa gula dan karbohidrat lainnya.

“Kami telah menunjukkan bahwa dua atau 3 jamur penyakit serius telah menjelma menjadi lebih ganas dengan meningkatkan kemampuan mereka untuk  memanipulasi metabolisme pisah dan menggunakan nutrisinya,” kata Stergiopoulos, dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal online PLOS Genetics.

“Perubahan paralel terhadap metabolisme patogen dan tanaman inang telah diabaikan hingga saat ini — yang mungkin merepresentasikan ‘sidik jari molekular’ dari proses adaptasi tersebut.

“Ini adalah peringatan pada komunitas riset untuk mencari mekanisme serupa antara patogen dan tanaman inang,:

Stergiopoulos merujuk pada pisang  Cavendish, jenis pisang yang biasa ditemukan di supermarket.

Tak seperti tanaman lain yang besar dari umbi atau biji, pisang tumbuh dari stek pucuk, yang berarti, penyakit yang mampu memusnahkan satu tanaman bisa menghancurkan mereka semua.

“Pohon pisang Cavendish verasal dari satu pohon. Karena merupakan tanaman kloning, mereka semua memiliki genotipe yang sama,” kata dia. “Itu bisa mengarah pada bencana.”

Stergiopoulos menambahkan, ketersediaan pisang siap makan memberikan kesan buah itu akan selalu ada.

Untuk mencegah  industri pisang global berakhir dalam dekade mendatang, petani harus mengaplikasikan 50 fungisida untuk setiap pohon pisang yang mereka tanam setiap tahunnya.

“Antara 30-35 persen biaya produksi pisang digunakan untuk aplikasi fungisida,” kata dia. “Karena banyak petani tak mampu menyediakan fungisida, mereka menumbuhkan pisangdengan kualitas lebih rendah, yang bernilai jual lebih rendah.”

Sebaliknya, “petani yang mampu membeli pestisida menimbulkan risiko bagi lingkungan dan kesehatan manusia.”

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)