http://metro.news.viva.co.id

Bestprofit Futures Jakarta

“Pemuda zaman sekarang bisanya hanya main sosmed 24 jam”

VIVA.co.id – Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-78, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, meminta para pemuda Indonesia menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada mereka.

Selama ini, Ahok, sapaan akrab Basuki, mengatakan, generasi yang lebih tua, atau generasi yang telah mengalami kesuksesan, tak jarang melihat pemuda masa kini sebagai pemuda yang malas, cuek, hingga apatis.

“Bahkan ada stigma yang mengatakan, ‘ah, pemuda zaman sekarang bisanya hanya main sosmed (media sosial) 24 jam’,” ujar Ahok usai menjadi inspektur dalam Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda bersama para Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Provinsi DKI di Lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat, Rabu, 28 Oktober 2015.

Ahok mengatakan, stigma seperti itu harus dihilangkan oleh para pemuda. Menurut Ahok, para pemuda masa kini seharusnya tidak mau dianggap remeh oleh generasi sebelumnya.

Namun, bukan berarti pula mereka menyerang yang lebih tua, baik secara verbal atau non verbal karena tidak terima dianggap remeh.

Untuk menghilangkan stigma negatif, Ahok mengatakan, para pemuda harus berani unjuk diri. Menunjukkan bahwa mereka adalah generasi yang lebih baik, dan dapat meraih kesuksesan yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya.

Caranya adalah dengan menunjukkan diri lebih produktif, lebih profesional, lebih bersih, lebih disiplin, serta membuktikan diri mampu menyumbangkan hal yang positif untuk negara.

“Jadi jangan kemudian Anda diremehkan, kemudian Anda ngajak berantem. Bagi saya, Anda harus buktikan diri lebih produktif,” ujar Ahok.

Seorang anak memang perlu dituntun untuk menuju kedewasan. Tapi ada saatnya juga dia dibiarkan berjalan sendiri, supaya bisa belajar menentukan atau menyelesaikan sesuatu hal. Dan itu pula yang ada dipikiran cowok, saat membiarkan pasangannya menyelesaikan masalahnya sendiri. Cowok paling berusaha menenangkan dan memberi sedikit masukan. Tapi, selebihnya cowok ingin pasangannya berpikir sendiri kira-kira masalah ini harus diselesaikan seperti apa.

Bukankah kedewasaan seseorang bisa tebentuk atau terlihat saat dia menyelesaikan sebuah masalah? Semakin rumit masalah yang dihadapi, semakin perlu pemikiran yang lebih bijak dan bajik.

Sekali, dua kali membantu tak masalah. Tapi kalau keseringan yang ada tanggung jawabnya ini akan digampangkan. Parahnya lagi, kebuntuannya yang tak bisa disikapi dengan baik bisa menghambat ruang untuk kemampuannya berkembang.

Atas dasar itulah, akhirnya cowok memutuskan untuk menolak menolong dan membiarkan pasangannya menyelesaikan pekerjaan atau tugasnya sendiri. Sebab cowok pun yakin ceweknya ini mampu untuk berusaha sendiri semaksimal mungkin.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)