Bestprofit Futures Jakarta

PT Pertamina (Persero) menyiapkan modal sebesar Rp497 miliar untuk membangun apartemen di Balikpapan, Kalimantan Timur. Proyek yang akan segera dimulai pembangunannnya ini digadang-gadang akan menjadi simbol properti baru sekaligus gedung tertinggi di tepi Selat Makassar Bestprofit Futures Jakarta.

Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi mengatakan, akan ada mepat tower apartemen yang akan dibangun di Balikpapan, yang masing-masing terdiri dari 24 lantai dengan tinggi mencapai 91 meter. Pengerjaan apartemen ini akan dilakukan oleh PT PP (Persero) Tbk.

“Apartemen ini tidak hanya dua tower, tapi ada empat tower. Ini akan menjadi bangunan tertinggi dan landmark Balikpapan. Rancang bangunnya pun kami memakai konsultan yang qualifued,” jelas Rachmad di Balikpapan, Kamis (9/6).

Ia melanjutkan, pembangunan apartemen ini merupakan bagian dari modernisasi kilang Balikpapan melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Nantinya, seluruh pegawai Pertamina dan orang yang terlibat di dalam operasi kilang tersebut akan ditempatkan di apartemen itu.

Karenanya, Rachmad memastikan apartemen ini nantinya tidak akan dijual untuk umum. Penghuni apartemen nantinya akan diprioritaskan pegawai-pegawai Pertamina yang saat ini tinggal di kompleks rumah dinas di Balikpapan. Kompleks rumah dinas tersebut nantinya akan dibangun gudang serta fasilitas lokakarya (workshop) sebagai bagian dari proyek RDMP kilang Balikpapan.

“Kami harapkan apartemen itu bisa selesai 31 maret 2017, dan pada awal April, sepertiga penghuni penghuni kompleks perumahan itu dipindah ke apartemen. Nanti kami akan memindahkan warehouse dan workshop dari dalam kompleks kilang ke perumahan itu, karena di dalam kilang sendiri sedang dilakukan modernisasi,” jelasnya.

Menurut Rachmad, pembangunan apartemen ini sangat penting karena bisa mengefisiensikan beban pemeliharaan pemukiman pegawai Pertamina. Pasalnya, selama ini banyak sekali pengeluaran pemeliharaan yang kadang tidak dinikmati oleh pegawai perusahaan.

Di dalam kompleks rumah dinas, tambahnya, masyarakat sekitar kadang suka menyambungkan listrik seenaknya dan menyebabkan tagihan listrik perusahaan membengkak. Selain itu, kadang jalur distribusi air bersih juga kerap melenceng ke pemukiman di luar komplek rumah dinas.

“Akibat ulah nakal itu kadang-kadang kami harus bayar beban pemeliharaan 40 persen dari yang seharusnya. Dan itu agak sulit diatur mengingat ada 20 kompleks perumahan yang tersebar di Balikpapan,” jelas Rachmad.

Selama satu tahun pembangunan apartemen, proyek RDMP Balikpapan dalam waktu bersamaan akan memasuki fase Basic Engineering Design (BED). Di samping itu, perusahaan juga akan memesan peralatan utama bagi Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), yang nantinya bisa meningkatkan kompleksitas produksi dari Euro 2 ke Euro 4.

“Dan kami harapkan di awal tahun 2018 seluruh pesanan peralatan kami sudah tiba di Balikpapan,” jelasnya.

RDMP Balikpapan merupakan satu dari empat RDMP yang dikembangkan Pertamina hingga tahun 2022, selain Balongan, Cilacap, dan Dumai. Proyek yang memakan dana US$ 5,5 miliar ini adalah satu-satunya RDMP yang dibangun perusahaan secara swadaya, sedangkan tiga RDMP lainnya akan bermitra dengan Saudi Aramco.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)