http://www.tempo.co

TEMPO.CO, Jakarta – Permintaam emas di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, bakal meningkat dua kali lipat dalam 15 tahun mendatang. Riset dari Australia & New Zealand Banking Group Ltd menyebutkan harga emas pun akan melesat hingga US$ 2.400 (Rp 31,2 juta) per ons.

Dua Analis ANZ, Warren Hogan dan Victor Thianpiriya, mengatakan permintaan emas dari investor individu dan lembaga akan naik dari 2.500 menjadi 5 ribu metrik ton per tahun pada 2030. Karena permintaannya melesat, harga emas akan naik ke kisaran US$ 2.000 per ons pada 2025 sebelum menembus level US$ 2.400 pada 2030. “Pertumbuhan konsumen di Asia cukup tinggi, emas akan menjadi instrumen investasi terpopuler dan memegang peranan penting,” kata dia, dikutip dari Yahoofinance, Kamis 19 Maret 2015.

Dalam riset ini, ANZ menyertakan beberapa negara yakni Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Menurut Hogan, negara-negara ini menguasai 12 persen dari total produksi emas dunia sepanjang 2014. Negara-negara ini pun menjadi distributor emas terbesar di dunia.

Pada jangka pendek, ANZ memperkirakan harga emas akan menembus US$ 1.100 per ons setelah didorong permintaan orang kaya di Asia, investasi lembaga keuangan, dan cadangan bank sentral negara berkembang. Jika perekonomian dunia kembali terguncang, harga emas kemungkinan meroket hingga US$ 3.230 per ons.

Data World Gold Council menyebutkan, cadangan emas dunia bertambah 477,2 ton pada 2014. Ini adalah tambahan terbesar dalam 50 tahun terakhir. Secara umum, bank sentral di seluruh dunia berupaya menambah cafdangan emas mereka. Tren ini berkebalikan dengan dekade 1980-1990-an, saat bank sentral ramai-ramai menjual cadangan emas lantaran dilanda perang dan masalah ekonomi.