http://www.beritasatu.com

Jakarta – Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengatakan, perlambatan ekonomi secara berkelanjutan di sejumlah negara emerging markets sejak tahun 2012 telah memicu terjadinya volatilitas arus modal dan kenaikan suku bunga acuan.

Firmanzah mengungkapkan, kenaikan suku bunga acuan dilakukan agar dapat menahan arus modal keluar dan mengendalikan kenaikan inflasi.

“Melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang seperti Tiongkok, Brasil, India dan Afrika Selatan mendorong lembaga internasional seperti, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Asia,” kata Firmanzah di Jakarta, Senin (12/5).

Di sisi lain, Guru Besar Bidang Ekonomi pada Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan, perlambatan yang terjadi di sejumlah emerging markets menguntungkan Indonesia. Negara-negara seperti Tiongkok, Brasil, India, Turki, dan Afrika Selatan sejak pertengahan 2013 hingga kuartal I tahun 2014 mengalami perlambatan cukup signifikan, tetapi Indonesia selamat dari dampak kemelut tersebut.

Sebelumnya, IMF memperingatkan sejumlah negara atas risiko banyaknya obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan di emerging markets. Sebab, perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan itu berisiko pada kemampuan bayar perusahaan penerbit surat utang.

Penerbitan obligasi perusahaan-perusahaan di Tiongkok, Brasil, Rusia, dan Turki meningkat tajam pada beberapa tahun terakhir, setelah bank sentral di seluruh dunia mulai membeli obligasi pemerintah dan korporasi dalam jumlah besar.