http://internasional.kontan.co.id

SINGAPURA. Bank-bank di kawasan Asia Tenggara mengungguli beberapa perusahaan sekuritas kelas internasional dalam mengelola bisnis penjaminan emisi di pasar modal. Mereka memanfaatkan jaringan korporasi perbankan untuk memenangkan penawaran penjaminan emisi.

Menurut data Bloomberg, Malayan Banking Bhd, DBS Group Holdings Ltd dan CIMB Group Holdings Bhd berada di papan atas dan mampu menggeser sejumlah sekuritas besar di bisnis penjaminan emisi. Ketiga bank tersebut tercatat melakukan penjaminan emisi saham senilai senilai US$ 24,1 miliar di kawasan Asia Tenggara.

Namun, ketiga bank itu masih belum bisa menggeser posisi Credit Suisse Group AG yang menduduki urutan teratas sebagai perusahaan yang mengantongi kontrak penjamin emisi terbesar.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah kembali ke tahun 2007 bahwa tiga bank regional berhasil tampil sebagai lima penjamin emisi tertinggi. Setelah Credit Suisse, urutan kedua adalah Maybank yang diikuti oleh DBS, CIMB dan JP Morgan Chase & Co.

“Di masa lalu, mereka tidak dalam posisi untuk bersaing di pasar modal. Mereka sekarang telah memiliki kemampuan untuk bersaing,” ujar Kevin Kwek, analis Sanford C. Bernstein & Co.
Menurut Kwek, kenaikan aset membuat perbankan di Asia Tenggara memiliki kemampuan untuk mengembangkan bisnisnya.

Sementara, UOB Group AG, bank terbesar Swiss yang menduduki peringkat pertama sebagai penjamin emisi paling besar tahun 2013 lalu, malah melorot ke urutan ketujuh. Krisis keuangan, regulasi yang ketat dan persyaratan modal tinggi membuat bank multinasional sulit menempatkan sumber daya di Asia.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, Maybank, DBS dan CIMB telah meningkatkan aset gabungan sebesar 96% sejak tahun 2009 melalui akuisisi dan pertumbuhan deposito.
Transaksi terbesar untuk Maybank dan CIMB tahun lalu adalah penjualan saham SapuraKencana Petroleum Bhd senilai US$ 222 juta. Sebelumnya, pada tahun 2012, kedua bank tersebut juga membantu membiayai merger antara SapuraCrest Petroleum dan Kencana Petroleum.

Sementara, di Mei tahun lalu, DBS menangani kegiatan penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO) Charoen Sirivadhanabhak milik miliarder Thailand di senilai US$ 800 juta. “Kami mengikuti klien kami dalam perjalanan pertumbuhan bisnis mereka dan mendukung mereka pada titik-titik tertentu,” ujar Eng Kwok Seat Moey, Kepala Pasar Modal DBS dalam sebuah wawancara 4 Maret lalu.