TEMPO.CO, Bogor – Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto menyadari proyek jalur pantai utara (pantura) sering disebut-sebut sebagai proyek abadi. Tiap tahun menjelang Lebaran, topik perbaikan pantura selalu ramai diperbincangkan.

“Pertanyaan yang selalu dilontarkan pada saya adalah mengapa pantura jadi proyek abadi,” kata Djoko pada Kamis, 12 Juni 2014. (Baca: Reportase Jalan Pantura, Jawa Timur Paling Siap)

Djoko menjelaskan semua proyek jalan sebenarnya adalah proyek abadi. Menurut Djoko, ketika suatu jalan digunakan, penanganannya harus terus-menerus dilakukan. “Jadi, tidak pantura saja. Seluruh jalan di dunia ini memang proyek abadi,” ujar Djoko Murjanto.

Dia mengatakan terjadi kesalahpahaman di masyarakat karena menganggap baru ada proyek bila ada badan jalan yang terganggu. Padahal, tidak semua pekerjaan jalan dapat terlihat mata. (Baca: Lebaran, 500 Meter Jalan Pantura Diaspal per Hari)

Djoko menyebut empat jenis kegiatan yang dilakukan Bina Marga terkait perbaikan jalan. Pertama adalah pemeliharaan rutin setelah suatu jalan dikatakan mantap. Selanjutnya, setelah empat tahun akan dilakukan pemeliharaan berkala. Dua jenis kegiatan ini bisa saja tidak kentara terlihat. Sedangkan dua kegiatan lain, yakni rekonstruksi dan pembangunan jalan, adalah jenis kegiatan yang memang berpotensi mengganggu badan jalan.

Menurut Djoko, sepanjang tahun ini tak banyak pekerjaan besar yang dilakukan terkait perbaikan pantura. “Pekerjaan terbesar kami tahun ini hanya saat banjir bandang di pantura lalu,” ujar Djoko.

Perbaikan jalur pantura tahun ini, menurut Djoko, masih on track. Djoko optimistis seluruh proses perbaikan akan rampung pada 28 Juni 2014 atau tepat H-30 Idul Fitri. (Baca: Ini Penyebab Kerusakan Ruas Pantura Paling Parah)