Bestprofit Futures Jakarta

Pasaran Amerika Serikat paling banyak menyerap ekspor pakaian jadi bukan rajutan dari Bali yang mencapai 16,85 persen dari total perolehan devisa jenis matadagangan tersebut daerah ini sebesar 3,84 juta dolar AS selama bulan Mei 2016.

“Menyusul pasaran Australia yang menyerap 14,52 persen, Singapura 9,12 persen, Spanyol 5,53 persen dan Perancis 5,18 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Sabtu (16/7/2016).

Ia mengatakan, aneka jenis pakaian hasil sentuhan tangan-tangan terampil wanita Bali itu juga diserap pasaran Jepang 3,96 persen, Hongkong 4,04 persen, Belanda 1,48 persen, Jerman 1,38 persen serta 27,94 persen sisanya menembus menembus berbagai negara lainnya di belahan dunia.

Pakaian jadi yang diperdagangkan ke luar negeri itu bukan produksi pabrik, namun dibuat secara manual sehingga memiliki nilai lebih di mata konsumen luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, Australia dan Eropa.

Adi Nugroho menambahkan, Bali menghasilkan devisa sebesar 3,84 juta dolar AS dari pengapalan pakaian jadi bukan rajutan selama bulan Mei 2016, merosot 21,57 persen dibanding bulan April 2016 yang mencapai 4,90 juta dolar AS.

Perolehan bulan Mei 2016 itu juga merosot 10,53 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, karena bulan Mei 2015 pakaian jadi itu menghasilkan 4,29 juta dolar AS.

Pakaian jadi bukan rajutan itu mempunyai kontribusi sebesar 9,23 persen dari total nilai ekspor Bali sebesar 41,65 juta dolar AS selama bulan Mei 2016, menurun 2,33 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat 42,65 juta dolar AS, ujar Adi Nugroho.

Seorang pengusaha eksportir pakaian Bali Ni Made Wardani menambahkan, kondisi pertumbuhan ekonomi negara konsumen belum sebagaimana diharapkan, namun pakaian buatan masyarakat Pulau Dewata masih saja ada dikapalkan ke pasaran ekspor.

Jumlahnya memang tidak secerah tahun 1990-an saat itu perdagangan pakaian Bali ke mancanegara sanggat ramai, namun sekarang jumlahnya sanggat merosot, disamping mendapatkan persaingan yang begitu ketat dari produksi negara China.

Pakaian Bali terutama yang dikombinasikan dengan manik-manik (monte) dan bordiran yang diproduksi secara manual memiliki nilai seni lebih apalagi rancangannya disesuaikan dengan perkembangan mode di negara konsumen dipadukan dengan muatan lokal, ujar Wardani.

Ia menyebutkan, pengusaha pakaian jadi di Bali bertahan memelihara pangsa pasar mancanegara berkat mampu menciptakan rancangan busana yang unik dan menarik bagi konsumen, terutama ke Amerika Serikat dan kawasan Eropa.
(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)