Pekan Depan, Calon Pembeli Bank Mutiara Ajukan Penawaran Harga

Suara.com – Mulai pekan depan, calon pembeli Bank Mutiara akan mengajukan penawaran harga awal kepada Lembaga Penjamin Simpanan Samsu Adi Nugroho mengatakan, LPS memberi waktu selama empat hari kepada calon pembeli mulai tanggal 2 Juni hingga 5 Juni.

Setelah itu, LPS akan mengevaluasi penawaran yang masuk tersebut sebelum meloloskan calon pembeli untuk mengikuti uji tuntas (due diligence).

“Dalam penawaran awal itu ada kemungkinan harganya sama, kami aka menyeleksinya dengan skim yang ditawarkan. Kemungkinan ada yang menawarkan harga sama tetapi skimnya berbeda. Nah, kalau sudah selesai proses evaluasi maka LPS akan meloloskan calon pembeli untuk ikut due diligence,” kata Samsu kepada suara.com melalui sambungan telepon, Kamis (29/5/2014).

Samsu menambahkan, LPS tidak akan memberikan prioritas utama kepada calon pembeli dari dalam negeri dalam penentuan pemenang. Kata dia, calon pembeli dari luar dan juga dalam negeri mempunyai kan yang sama untuk menjadi pemilik Bank Mutiara.

“LPS tidak ada preferensi khusus dalam menentukan pemenang. Nama pemenang akan ditentukan setelah calon pembeli melakukan uji kepatutan dan kelayakan oleh OJK. Sebelum fit and proper test itu, LPS akan memberikan masukan kepada OJK terkait calon pembeli yang sudah lolos itu,” kata Samsu.

11 calon investor sudah menyerahkan dokumen kepada Lembaga Penjamin Simpanan terkait rencana pembelian Bank Mutiara. Dari 11 investor tersebut, empat calon investor lokal dan tujuh investor asing.

Sesuai UU tentang LPS, Bank Mutiara harus terjual tahun ini. Penjualan sudah dilakukan sejak 2011, tiga tahun sejak penanaman modal sementara (PMS) oleh LPS pada November 2008. Penjualan pada 2011 hingga 2013 gagal. Penyebabnya antara lain calon investor tidak memenuhi syarat. Hingga akhir 2013, Bank Mutiara harus terjual dengan harga minimal Rp6,7 Triliun sebesar Penanaman Modal Sementara oleh LPS.

Tahun ini, harga jual minimalnya tidak harus sebesar PMS oleh LPS. Sebagai pemilik Bank Mutiara, LPS juga telah menambah modal Rp1,2 Triliun pada 23 Desember 2013. Dengan demikian, total PMS oleh LPS pada Bank Mutiara mencapai Rp7,9 Triliun.

Saham Tokyo Dibuka 0,58 Persen Lebih Rendah

Tokyo (AFP/Antara) – Saham Tokyo dibuka lebih rendah 0,58 persen pada Kamis, dipengaruhi penguatan yen dan aksi profit-taking setelah peningkatan selama lima hari berturut-turut.

Indeks Nikkei 225 jatuh 85,31 poin ke angka 14.585,64 pada pembukaan.

Indeks acuan tersebut mencapai peningkatan beruntun terpanjang tahun ini pada Rabu, memungkinkan ruang untuk aksi profit-taking, kata pengamat strategi pasar di Nomura Securities, Junichi Wako.

Purchasing managers index (PMI) AS untuk aktivitas manufaktur, yang akan diumumkan Senin pekan depan, akan menjadi indikator penting selanjutnya, katanya.

“Data AS yang semakin menguat bisa membatu mendongkrak suku bunga, dolar dan akhirnya mendorong saham Jepang lebih tinggi lagi,” katanya kepada Dow Jones Newswire.(nh/wy)

Biaya logistik Indonesia salah satu paling boros di dunia

Merdeka.com – Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Masita mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara dengan biaya logistik tertinggi. Ini diperberat dengan rencana PT Pelindo II menaikkan biaya container handling charge (CHC) sebesar 10 persen tahun depan.

Pelaku usaha angkutan barang memperkirakan biaya logistik akan bertambah sedikitnya Rp 800 miliar pada tahun depan, bahkan meningkat menjadi Rp 1 triliun pada 2016 mendatang.

“Kenaikan biaya logistik ini tidak kecil apalagi posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang paling boros biaya logistiknya (26 persen dari GDP), dan semua pihak yang berkomitmen untuk menekan biaya logistik harus berusaha untuk tidak menaikkan biaya logistik sekecil apapun,” kata Zaldi Masita melalui keterangan tertulis, Kamis (29/5).

Kementerian Perhubungan diharapkan lebih memperhatikan kenaikan biaya logistik akibat naiknya CHC. Kenaikan CHC dinilai hanya menambah keuntungan operator pelabuhan tapi menjadikan daya saing ekonomi Indonesia terpuruk.

Selain itu juga, ALI meminta pemerintah segera melakukan perubahan penggunaan mata uang dari USD ke Rupiah dalam transaksi CHC. “Sangat aneh kalau Indonesia masih memakai USD dibandingkan negara tetangga yang memakai mata uang lokal,” katanya.

Dia mengingatkan borosnya biaya logistik sudah dimulai dari pabrik sampai ke pelabuhan dengan banyaknya pungutan liar, kemacetan, transportasi tidak efisien, proses lambat dan adanya biaya handling di pelabuhan.

Maka dari itu diperlukan pemerintah, penyedia jasa logistik dan pelaku logistik melakukan moratorium kenaikan biaya logistik sekecil apapun untuk menurunkan biaya secara signifikan.

Pasalnya, Sislognas dalam Perpres No.26/2012 sudah menargetkan mengurangi biaya logistik sampai 5 persen. Untuk membantu menurunkan biaya logistik, pemerintah harus berupaya menekan tarif-tarif di pelabuhan, khususnya Tanjung Priok. Pun, mengurangi kepadatan di Tanjung Priok dengan memaksimalkan pelabuhan di sekitar pelabuhan seperti Marunda, Dry Port Cikarang, Cirebon bahkan Tanjung Emas dan Tanjung Perak.

Terbit Lagi, Newsweek Jalin Kemitraan Eksklusif

WE Online, New York- Setelah 3 bulan edisi cetak Newsweek berhasil diluncurkan kembali di gerai-gerai koran seluruh di Amerika Serikat dan Eropa, penerbit koran mingguan ikonik tersebut mengumumkan bahwa mereka telah menjalin kemitraan eksklusif dengan Empirical Media untuk memperoleh kesepakatan lisensi asing untuk Newsweek dan Newsweek.com di target pasar di seluruh dunia.

“Kami sangat senang dengan terjalinnya kemitraan dengan Empirical untuk membantu kami mengantarkan edisi pasar lokal kami kepada para pembaca di seluruh dunia,” kata Etienne Uzac, salah satu pendiri dan CEO IBT Media, perusahaan pemilik Newsweek.

“Permintaan tidak hanya datang dari regional, tapi juga dari seluruh dunia, dan kita melihat masyarakat semakin antusias terhadap editorial kami sejak peluncuran kembali di AS dan Eropa. Berdasarkan tren ini, kita menyadari besarnya peluang untuk mengembangkan Newsweek secara internasional, dan kami sudah tidak sabar untuk dapat bekerja sama dengan Empirical untuk mewujudkan hal ini,” lanjutnya.

Empirical Media, sebuah perusahaan global yang menyediakan layanan media dan konsultasi, akan mengejar dan memfasilitasi kemitraan lisensi asing untuk menerbitkan Newsweek di pasar yang ditargetkan, dengan fokus awal yaitu untuk melayani peningkatan permintaan di Eropa Tengah dan Asia. Newsweek, sebuah produk berlisensi yang memiliki nilai historis sangat kuat, sudah dipublikasikan melalui kemitraan lisensi lokal di Korea, Pakistan, Polandia, Jepang, dan Amerika Latin.

“Banyak permintaan yang signifikan untuk memperluas publikasi dan distribusi Newsweek di seluruh dunia,” ujar Laurie Benson, dari Empirical. “Kami sangat senang dapat bekerjasama dengan IBT Media dan Newsweek untuk membantu mereka mengekspansikan merek yang kuat dan konten editorial berkualitas tinggi kepada lebih banyak lagi para pembaca dan dalam bahasa lainnya.” Sekilas tentang IBT Media IBT Media adalah perusahaan induk penerbit berbagai produk media ikonik dan inovatif dengan visi bersama untuk mendorong semangat dan menyebarkan informasi ke seluruh dunia. IBT Media menjadi sebuah jendela bagi para pembaca di 190 negara ke beragam peristiwa terkini, perspektif inspiratif, dan informasi yang bermanfaat. Merek-merek IBT Media saat ini diterbitkan oleh staf lokal di 5 negara dan termasuk International Business Times, Newsweek, Medical Daily, Latin Times, dan iDigitalTimes, dan banyak lagi. Untuk informasi lebih lanjut tentang IBT Media, silakan kunjungi : http://corp.ibt.com .

Sekilas tentang Empiris Media Empiris Media mempercepat pertumbuhan global untuk perusahaan media, dengan menyediakan layanan konsultasi handal dan layanan media oleh tim yang berpengalaman. Empirical dipimpin oleh veteran industri media Jim Friedlich, dan kantor cabang di London dipimpin oleh Laurie Benson, mantan penerbit Time Magazine Eropa yang juga pernah memimpin Bloomberg BusinessWeek di kawasan EMEA. (Ant)

Bursa AS Menguat Dipicu Data Makro Penjualan Barang Tahan Lama

Liputan6.com, New York – Pasar saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Selasa (Rabu pagi) usai indeks saham Standard & Poor (S&P) 500 mencetak rekor setelah adanya laporan pesanan barang tahan lama AS naik dan adanya tawaran JBS SA untuk membeli Hillshire Brands Co senilai US$ 6,4 miliar.

Indeks S&P 500 (SPX) menguat untuk hari keempat, sebesar 0,6% menjadi 1.911,91. Indeks saham Dow Jones Industrial Average naik 69,23 poin atau 0,4% menjadi 16.675,50. Indeks Nasdaq Composite naik 1,2% dan indeks saham Russell 2000 (RTY) melonjak 1,4%.

Melansir laman Bloomberg, Rabu (28/5/2014), penguatan pasar saham AS antara lain dipicu kenaikan saham Hillshire karena adanya tawaran pembelian JBS Pilgrim Pride Corp. Perusahaan gabungan ini akan memiliki nilai penjualan sebesar $ 12,4 miliar.

Saham perusahaan energi FirstEnergy Corp, NRG Energy Inc dan Exelon Corp ikut menyumbang kenaikan lebih dari 3,6% kepada indeks saham S & P 500. Saham Bank of America Corp juga tercatat naik 3,4% setelah perusahaan kembali mengirimkan rencana modalnya ke Federal Reserve. Saham dengan pasar kecil dan perusahaan teknologi memperpanjang pemulihan dari aksi jual dua bulan.

“Data makro barang tahan lama akan melanjutkan kondisi pasar yang lebih baik di babak kedua tahun ini. Itu akan menjadi hal yang positif,” kata Daniel Skelly, Ahli Strategi Ekuitas di Morgan Stanley Wealth Management yang berbasis di New York.

Adapun pesanan barang tahan lama naik ketiga kalinya di April, yang menjadi tanda kebangkitan industri akan mendorong penguatan perekonomian di negara terbesar dunia ini.

Pemesanan barang naik 0,8% dalam 3 tahun setelah naik 3,6% di bulan sebelumnya, menurut data Departemen Perdagangan. Padahal, perkiraan median dari 68 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg menyebutkan penurunan 0,7%.

Dalam laporan ekonomi lainnya, indeks Conference Board kepercayaan konsumen AS meningkat menjadi 83 di Mei dari 81,7 bulan sebelumnya.

Indeks harga properti S&P/Case-Shiller di 20 kota di AS meningkat 12,4% dari Maret 2013 setelah naik 12,9% pada tahun yang berakhir pada bulan Februari.

Pasar ekuitas AS ditutup kemarin untuk libur Memorial Day. Sekitar 5,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS hari ini, 14% lebih rendah dari rata-rata tiga bulan.

Adapun nilai ekuitas di seluruh dunia tercatat mencetak rekor mencapai US$ 63,8 triliun. Ini usai Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi kemarin mengisyaratkan kesiapan untuk bertindak atas inflasi yang rendah, sementara Perdana Menteri China mengatakan kemungkinan menyempurnakan kebijakan ekonomi.

Investor akan kembali ke perusahaan-perusahaan kecil dan saham teknologi, di mana indek saham NASDAQ dan Russell 2000 naik lebih dari 3,4% dalam empat hari terakhir. Valuasi yang terlalu mahal memicu aksi jual di awal Maret.

Facebook Inc misalnya, tercatat melonjak 3,5% menjadi US$ 63,48, ini merupakan saham teknologi terkemuka di S&P 500 dengan keuntungan 1%, terbesar di antara 10 industri utama.

S&P 500 diperdagangkan di 16,2 kali rata-rata proyeksi pendapatan, naik dari 14,8 pada 3 Februari lalu, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. (Nrm)