Setiap Hari Rp12 Miliar ‘Raib’ Disapu Banjir

7

http://www.berita8.com

Banjir yang melanda Jakarta berdampak pada kegiatan ekonomi di kawasan Glodok dan sekitarnya. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) menyebutkan setidaknya ada 3000 pengusaha yang harus menanggung rugi akibat perekonomian terganggu.

“Rata-rata omzet pertokonya itu Rp5 juta per hari. Jadi sekitar Rp12 miliar. Itu Belum kerugian pedagang di sepanjang Jalan Hayam Wuruk,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Sarman Simanjorang, di Jakarta, Kamis (6/2).

Akibat banjir, kata Sarman, hampir 75 persen toko tidak berjualan. Seperti kawasan niaga di Lindeteves, Glodok Jaya, Harco, LTC dan Glodok City. Sebab, akses menuju kawasan niaga tersebut terendam banjir, hal ini yang menyebabkan pembeli enggan berbelanja.

Karena itu, pihaknya mendesak Pemprov DKI Jakarta segera menuntaskan masalah banjir. Apalagi tahun 2015 mendatang, Jakarta masuk dalam ASEAN Economic Community. “Sebagai sebuah kota pusat bisnis, perdagangan, pariwisata dan investasi, Jakarta harus mampu menekan dampak banjir,” tandasnya. (ag)

Perlambatan Ekonomi Picu Volatilitas Arus Modal

http://www.beritasatu.com

Jakarta – Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah mengatakan, perlambatan ekonomi secara berkelanjutan di sejumlah negara emerging markets sejak tahun 2012 telah memicu terjadinya volatilitas arus modal dan kenaikan suku bunga acuan.

Firmanzah mengungkapkan, kenaikan suku bunga acuan dilakukan agar dapat menahan arus modal keluar dan mengendalikan kenaikan inflasi.

“Melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang seperti Tiongkok, Brasil, India dan Afrika Selatan mendorong lembaga internasional seperti, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Asia,” kata Firmanzah di Jakarta, Senin (12/5).

Di sisi lain, Guru Besar Bidang Ekonomi pada Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan, perlambatan yang terjadi di sejumlah emerging markets menguntungkan Indonesia. Negara-negara seperti Tiongkok, Brasil, India, Turki, dan Afrika Selatan sejak pertengahan 2013 hingga kuartal I tahun 2014 mengalami perlambatan cukup signifikan, tetapi Indonesia selamat dari dampak kemelut tersebut.

Sebelumnya, IMF memperingatkan sejumlah negara atas risiko banyaknya obligasi yang diterbitkan perusahaan-perusahaan di emerging markets. Sebab, perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan itu berisiko pada kemampuan bayar perusahaan penerbit surat utang.

Penerbitan obligasi perusahaan-perusahaan di Tiongkok, Brasil, Rusia, dan Turki meningkat tajam pada beberapa tahun terakhir, setelah bank sentral di seluruh dunia mulai membeli obligasi pemerintah dan korporasi dalam jumlah besar.

Dolar menguat terhadap euro didorong spekulasi pelonggaran ECB

New York (ANTARA News) – Kurs dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya pada Jumat (Sabtu pagi WIB), dan terus naik terhadap euro karena spekulasi tentang langkah-langkah pelonggaran lebih lanjut Bank Sentral Eropa.

Euro terus melemah dari kerugian Kamis (8/5), masih diseret oleh pernyataan dari Kepala Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi, lapor Xinhua.

Euro jatuh dari tertinggi dua tahun lebih terhadap dolar pada Kamis, karena Draghi setelah pertemuan kebijakan ECB mengatakan bahwa “dewan gubernur nyaman dengan tindakan pada waktu berikutnya, tetapi sebelumnya kami ingin melihat proyeksi staf yang akan keluar pada awal Juni.”

ECB pada Kamis juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utamanya tidak berubah pada 0,25 persen pada pertemuan tersebut.

Di sisi ekonomi, Departemen Perdagangan AS pada Jumat melaporkan jumlah persediaan pedagang grosir, setelah penyesuaian untuk variasi musiman tetapi tidak untuk perubahan harga, senilai 525,2 miliar dolar pada Maret, naik 1,1 persen dari statistik Februari yang direvisi. Kenaikan ini melampaui ekspektasi para analis.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,3747 dolar dari 1,3853 dolar pada sesi sebelumnya dan pound Inggris turun menjadi 1,6843 dolar dari 1,6943 dolar. Dolar Australia merosot menjadi 0,9355 dolar dari 0,9376 dolar.

Dolar AS dibeli 101,79 yen Jepang, lebih rendah dari 101,49 yen pada sesi sebelumnya. Greenback naik menjadi 0,8873 franc Swiss dari 0,8794 franc Swiss dan naik menjadi 1,0902 dolar Kanada dari 1,0820 dolar Kanada.

Penerjemah: Apep Suhendar

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2014

IMF: Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kemungkinan Terpangkas

JAKARTA, KOMPAS.com – Dana Moneter Internasional (IMF) kemungkinan akan merevisi ke bawah prediksi pertumbuhan ekonomi Tiongkok, dari proyeksi sebelumnya 7,5 persen tahun ini.

Direktur Dana Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Changyong Rhee menuturkan, pada kuartal I-2014 ada indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi negara tersebut melambat.

“Saat ini prediksi kami 7,5 persen. Saat ini tren pasar sangat di bawah itu. Sehingga, kami harus mencermati apakah kami harus melakukannya atau tidak,” kata dia seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (11/5/2014).

Biro Statistik Tiongkok di Beijing bulan lalu menyatakan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 7,4 persen pada kuartal I-2014 dibandingkan tahun sebelumnya. Ini terkait dengan upaya pemerintah mengerem lonjakan kredit sementara pada saat bersamaan mempertahankan ekspansi untuk mendukung penciptaan lapangan kerja.

Sementara itu, nilai tukar mata uang yuan melemah 2,8 persen tahun ini setelah menguat 3 persen tahun lalu. Menurut data yang dihimpun Sistem Perdagangan Valuta Asing Tiongkok, pada tanggal 30 April silam, nilai tukar yuan mencapai 6,2676 per dollar AS, terendah sejak Oktober 2012. Adapun kemarin, yuan ditutup pada posisi 6,228 per dollar AS.

Perlambatan ekonomi Tiongkok berdampak signifikan kepada negara-negara yang menggantungkan nasib perdagangannya kepada Negeri Tirai Bambu tersebut, termasuk Indonesia.

Ekspor Indonesia pada kuartal I 2014 terjun bebas akibat melemahnya permintaan dari Tiongkok. Bahkan, Bank Indonesia (BI) menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2014 terjadi salah satunya karena kondisi Tiongkok.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2014 tercatat sebesar 5,21 persen, lebih rendah dibandingkan 5,7 persen pada kuartal IV 2013. Menurutnya, perlambatan tersebut disebabkan melemahnya kinerja ekspor riil.

China Kembali Berburu Emas Mumpung Harga Lagi Murah

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA – Menjelang sore ini (12/5), harga emas dunia masih menunjukkan tren pergerakan di bawah level US$ 1.300 per troy ounce.

Mengutip data Bloomberg, siang tadi, harga kontrak emas untuk pengantaran cepat naik sebesar 0,3% menjadi US$ 1.292,57 per troy ounce. Pada pukul 13.26 waktu Singapura, harga kontrak yang sama diperdagangkan di posisi US$ 1.290,36 per troy ounce.

Sementara itu, harga kontrak emas untuk pengantaran Juni naik 0,2% menjadi US$ 1.290,20 per troy ounce di Comex, New York.

Pergerakan harga emas pada hari ini dipengaruhi oleh data cadangan emas dunia yang menunjukkan penurunan. Rupanya, investor melihat adanya kenaikan pembelian fisik emas di China akibat pelemahan euro serta outlook kian berkurangnya stimulus di AS.

“Aksi beli emas selalu naik jika harganya di bawah level US$ 1.300. Selain itu, pelemahan euro juga mengangkat harga emas,” jelas Zhu Siquan, analis GF Futures Co yang berbasis di Guangzhou, China.

Catatan saja, euro melemah mendekati level terendah dalam sebulan terakhir versus dollar sebelum pernyataan Bank Sentral Eropa. Sebelumnya, pada pekan lalu, Presiden ECB Mario Draghi memberikan sinyal bahwa bank sentral akan melonggarkan kebijakan pada Juni mendatang.