Daftar Semua Produk Investasi

pialang berjangka

BEST PROFIT FUTURES – Dari berbagai jenis investasi yang dikenal di dunia, investasi bersama perusahaan pialang berjangka adalah investasi paling rumit, beragam, menantang sekaligus memberi marjin keuntungan cukup tinggi jika Anda rajin belajar selama berinvestasi dan pandai membaca situasi. Jenis investasi ini cocok bagi investor agresif karena sifatnya yang susah ditebak dan sering tergantung situasi. Pergerakan keuntungan dalam investasi dengan kontrak berjangka juga tergantung dari jenis produk yang Anda pilih. Lanjutkan membaca “Daftar Semua Produk Investasi”

Dolar AS Kembali Tekan Euro & Yen

http://economy.okezone.com

SYDNEY – Nilai tukar euro melemah terhadap sebagian besar mata uang utama, menyusul penurunan terbesar selama empat bulan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei. Investor masih menanti data inflasi dan data pengangguran, yang mungkin memaksa bank sentral untuk menerbitkan kebijakan tambahan.

Analis memperkirakan Bank Sentral Eropa akan menjadi yang pertama, di antara Bank Sentral lainnya yang menetapkan suku bunga ke wilayah negatif.

“Bias euro turun menjelang pertemuan ECB minggu ini, dan membantu dolar AS menguat. Kemungkinan euro akan dipermainkan oleh data inflasi Eropa,” kata analis senior Ueda Harlow Ltd, Toshiya Yamauchi, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (2/6/2014).

Euro diperdagangkan pada USD1,3626 per euro dari USD1,3635 per euro pada 30 Mei. Sementara terhadap yen Jepang ditutup di 138,73. Dolar AS sedikit berubah ke 101,82 per yen Jepang dari 101,77 per yen Jepang.

Presiden ECB Mario Draghi diperkirakan akan memangkas suku bunga deposito menjadi minus 0,1 persen dari nol saat ini. Salah satu pejabat ECB mengatakan, Bank Sentral Eropa saat ini tengah membuat proposal untuk operasi refinancing jangka panjang bersyarat.

Indeks Pembelian Manajer (PMI) China naik menjadi 50,8 pada Mei, dibandingkan dengan perkiraan analis sebesar 50,7. Angka di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi. Laporan ini mengisyaratkan langkah-langkah pemerintah untuk melawan perlambatan ekonomi. (mrt)

Lampu Kuning Utang Luar Negeri Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah utang luar negeri Indonesia kian mengkhawatirkan. Soalnya, nilainya terus bertambah dan berpotensi semakin membengkak jika melihat kondisi finansial di dalam negeri. Utang berdenominasi valuta asing ini akan semakin membebani debitur dan perekonomian dalam negeri karena nilai rupiah yang kian merosot.

Catatan Bank Indonesia (BI), total utang luar negeri Indonesia mencapai  276,49 miliar dollar AS, tumbuh 8,73 persen dibandingkan dengan posisi 2013. Dari jumlah itu, porsi utang swasta atau korporasi merupakan yang paling besar, yakni 145,98 miliar dollar AS. Lalu, utang luar negeri pemerintah 122,81 miliar dollar AS, dan sisanya utang BI.

Besarnya utang swasta patut mendapat sorotan. Soalnya, utang tersebut tumbuh 15,94 persen dalam setahun terakhir. Hampir semua sektor korporasi gemar mencari utang di luar negeri.

Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan, utang swasta akan terus bertambah. Pasalnya, ketatnya kebijakan moneter di dalam negeri akan memaksa pengusaha mencari pinjaman ke luar negeri ketimbang. “Ini kesalahan kebijakan BI yang mempertahankan suku bunga tinggi (7,5 persen),” kata Purbaya, Jumat (30/5/2014).

Utang luar negeri pemerintah juga bakal meningkat. Soalnya, pemerintah harus menutup pembengkakan defisit anggaran dari 1,69 persen menjadi 2,5persen. Khusus untuk pinjaman luar negeri, target pemerintah tahun ini bakal naik dari Rp 39,13 triliun menjadi Rp 545,25 triliun (bruto).

Lampu kuning

Para pengamat menyarankan pemerintah dan BI mengambil langkah strategis untuk mencegah pembengkakan utang luar negeri itu. “Karena posisi ULN sudah lampu kuning,” tandas Ekonom Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Doddy Ariefianto.

Tanda bahaya terutama terlihat pada peningkatan rasio pembayaran utang tahunan yang mencapai 46,31 persen. Rasio ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2004. “Kalau sudah mendekati 50 persen, utang harus segera di rem, karena nantinya sebagian penerimaan dollar hanya untuk membayar utang,” terang Doddy.

Apalagi, jika melihat kinerja ekspor yang melemah dalam beberapa bulan terakhir, seharusnya ada pengetatan utang luar negeri. Mengingat, ekspor merupakan salah satu sumber pasokan valas yang digunakan untuk membayar utang luar negeri.

Pengereman utang terutama perlu dilakukan pada korporasi yang memiliki lini bisnis utama di pasar lokal. Misalnya perusahaan leasing, listrik, gas, dan air bersih. Sebab pendapatan mereka berupa rupiah. Saat rupiah melemah, mereka terancam kesulitan membeli dollar untuk membayar utang.

Namun, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung mengklaim, tambahan utang RI di luar negeri masih cukup wajar. Perusahaan dan pemerintah memang harus utang untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan jangka panjang. Apalagi, saat ini biaya utang di luar negeri ongkosnya sedang murah.

Namun, Juda mengingatkan korporasi berhati-hati agar utang valas tidak menimbulkan currency risks dan overleverage. Sebab dalam pantauan BI, dua hal inilah yang menjadi risiko terbesar utang valas.

Apalagi, masih banyak perusahaan swasta belum melakukan lindung nilai atau hedging atas utang valasnya. Catatan BI, hampir 25 persen korporasi punya utang valas tapi belum menyiapkan strategi hedging.

Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, menambahkan, BI tengah meneliti utang luar negeri ini. Hasil penelitian akan menjadi dasar apakah utang valas perlu segera direm atau tidak.  (Adi Wikanto, Margareta Engge Kharismawati)

Peluang indeks AS kembali mencetak rekor

http://investasi.kontan.co.id

NEW YORK. Indeks di Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan dengan kinclong di akhir pekan lalu. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 Index menembus rekor baru.

Dow Jones ditutup menguat 0,11% atau 18,43 poin ke level 16.717,17 pada Jumat lalu (30/5). Kenaikan sepanjang sepekan mencapai 0,66%.

Sebelumnya, Dow Jones mencetak rekor 16.715,44 pada 13 Mei.

Sedangkan S&P 500 pada Jumat lalu menguat 0,18% atau 3,54 poin ke 1.923,57. Selama sepekan, indeks ini menguat 1,21%.

Penguatan keduanya melampaui kinerja NYSE yang menguat 0,04% ke level 1.147,18 atau Nasdaq Composite Index yang merosot 0,13% ke 4.242,62.

Analis mengatakan, indeks AS di akhir pekan, meski menguat namun bergerak mix. Konsumer AS per April merosot terdalam dalam setahun. Namun, inflasi diperkirakan menguat per Mei.

“Pasar mencari lebih banyak konfirmasi, yang menunjukkan aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat,” kata Peter Kenny, Chief Executive Officer di Clearpool Group di New York.

Data upah tenaga kerja dan hasil pertemuan European Central Bank (ECB) akan menjadi katalis pergerakan indeks pekan ini.

Juni, Inflasi Meningkat 20 Persen

TEMPO.CO , Jakarta: Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, memperkirakan adanya kenaikan inflasi bulan ini. “Akan terjadi peningkatan 20 persen jika dibanding bulan-bulan biasa,” ujarnya saat dihubungipada Minggu, 1 Juni 2014.

David mengatakan bahwa peningkatan ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sebelumnya, kenaikan inflasi hanya disebabkan oleh kenaikan harga BBM dan bulan Ramadan. Sementara kali ini selain menjelang puasa dan lebaran, liburan sekolah dan adanya pemilihan presiden ikut menyumbang laju inflasi.

Kelompok bahan makanan kemungkinan akan kembali menyumbang kenaikan inflasi, diikuti kenaikan pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Selain itu, adanya libur sekolah dan lebaran membuat kebutuhan akan bahan bakar dan barang impor meningkat.

Kebijakan Bank Indonesia yang mematok suku bunga setinggi 7,5 persen juga tidak terlalu berdampak pada inflasi. Sebelumnya, Bank Indonesia sudah mematok angka inflasi cukup besar sekitar 4,5 persen plus minus 1. Pemerintah juga akan melakukan operasi pasar agar para pedagang tidak memainkan harga komoditas sehingga angka inflasi bisa ditekan.

Angka inflasi pada Mei sekitar 0,1 persen dengan YoY 7,3 persen. Pengaruh harga pangan akibat sisa panen raya juga meningkatnya beberapa harga komoditas seperti telur dan harga daging menimbulkan tekanan pada inflasi saat itu.