Pagi Ini, Harga Emas Melemah

TEMPO.CO, Jakarta – Harga emas di bursa komoditas New York acuan Comex Gold melemah tipis US$ 0,003 per gram ke level US$ 41,53 per gram, Senin 26 Mei 2014 sekitar pukul 05.20 WIB.

Dilansir dari laman bloomberg.com, beberapa menit sebelumnya, sekitar pukul 05.06 WIB, harga emas sempat naik US$ 0,01 per gram ke level US$41,54 gram.

Setelah itu, harga logam mulia ini stagnan di level US$ 41,53 per gram pada pukul 05.17 WIB. Jika dikonversikan ke rupiah sebesar Rp 11.560, harga emas turun Rp 34 per gram ke level Rp 480.113 gram.

Fluktuasi harga emas ini terjadi sejak penutupan perdagangan Ahad, 25 Mei 2014, malam.

Data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas yang dirilis Jumat, menujukkan bahwa hedge fun (penyertaan investasi) juga mengalami penurunan di emas berjangka di akhir pekan.

Pembelian bersih mencapai 90.358 kontrak. Jumlah ini turun 4,2 persen dari pembelian bersih pekan sebelumnya yakni mencapai 94.329 kontrak.

Ini Pemicu Indeks Saham Asia Naik

VIVAnews – Pasar saham Asia memulai transaksi pada awal pekan ini dengan bergerak lebih tinggi, menyusul adanya estafet sentimen positif dari penutupan bursa Wall Street pada akhir pekan lalu.

Seperti diberitakan CNBC, Senin 26 Mei 2014, pasar saham Jepang memperpanjang keuntungan dalam sesi ketiga dengan Osaka berjangka bertambah satu persen ke level 14.590, atau naik lebih dari 100 poin dari penutupan indeks acuan Jepang, Nikkei pada Jumat akhir pekan lalu di level 14.462.

Saham Australia dibuka lebih tinggi, dengan indeks berjangka menguat 0,1 persen (22 poin) pada level 5.514, dibanding penutupan indeks acuan ASX 200 pada Jumat lalu.

Indeks saham Wall Street kembali menguat pada penutupan perdagangan Jumat lalu di Bursa Efek New York, Amerika Serikat, menyusul laporan penjualan rumah baru pada April yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Departemen Perdagangan AS merilis data penjualan rumah baru pada April naik 6,4 persen, menghentikan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 63,19 poin (0,4 persen) ke level 16.606,27. Sedangkan indeks S & P 500 berakhir naik 8,04 poin (0,4 persen) menjadi 1.900,53 dan indeks Nasdaq menguat 31,47 poin (0,8 persen) di posisi 4.185,81.

Saham Jepang mungkin mendapatkan dorongan, setelah sebuah survei di surat kabar Nikkei yang memaparkan rata-rata pemberian bonus kepada tenaga kerja selama musim panas akan lebih tinggi untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir yakni dengan rata-rata enam persen.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe telah berusaha untuk menekan inflasi untuk membantu meningkatkan perekonomian, dengan inflasi upah menjadi salah satu hal yang paling sulit untuk dicapai.

Perkembangan politik selama akhir pekan juga menjadi sorotan. Di Ukraina, miliarder Petro Poroshenko memenangkan pemilihan presiden dengan perolehan suara hanya di bawah 56 persen.

Poroshenko berjanji untuk mengembalikan negara itu ke situasi yang lebih kondusif, setelah berbulan-bulan terjadi pertempuran dengan pasukan separatis pro-Rusia dan pemerintah.

Sementara itu, Panglima Militer Thailand, Jenderal Prayuth Chan-ocha, dijadwalkan akan memenuhi perintah kerajaan hari ini, yakni mengangkat dia sebagai Kepala Pusat untuk Pengelola Ketentraman dan Ketertiban (CMPO) untuk lebih memperkuat keamanan. (asp)

Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Diperkirakan Bisa 6%

WE Online, Yogyakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan bisa mencapai enam persen pada 2015 apabila hasil Pemilu Presiden 2014 sesuai dengan ekspektasi pasar, kata seorang ekonom.

“Sampai akhir 2014, menurut saya masih di kisaran 5,8 persen, tidak jauh dari tahun kemarin. Karena kita baru bisa mengejar pertumbuhan ekonomi tentu setelah pesta pemilu selesai pada Juli,” kata ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetyantono di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut Tony, pergantian pemerintahan yang sesuai dan mendukung sebagian besar suara investor juga akan memberi harapan pada penguatan nilai tukar rupiah.

“Jika pemilu lancar dan sesuai ekspektasi pasar, maka diharapkan terjadi ‘capital inflow’ (arus modal asing masuk),” kata dia.

Sementara itu, di sisi lain, menurut dia masih lambatnya pertumbuhan ekonomi juga disebabkan masih adanya dampak krisis finansial yang terjadi di Amerika dan Uni Eropa hingga saat ini.

“Krisis finansial masih akan memberi dampak jangka panjang terhadap laju perekonomian Indonesia,” katanya.

Sementara itu, terlepas siapa harapan publik atau pasar, menurut dia, presiden terpilih harus tetap memiliki visi mengutamakan peningkatan daya saing.

Daya saing, kata dia, diwujudkan dengan mendorong perbaikan infrastruktur serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Peningkatan kualitas SDM, menurut dia, penting diupayakan sebagai persiapan persaingan global yang muaranya adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015.

“Siapa pun presidennya, harus memiliki tekad untuk meningkatkan daya saing, misalnya mengkampanyekan sekolah ke luar negeri bagi generasi muda,” katanya. (Ant)

 

Bank Dunia: Atasi Perubahan Iklim, Kurangi Kemiskinan

WE Online, Jakarta – Bank Dunia mengemukakan bahwa bila negara-negara bisa bersatu padu dalam mengatasi dampak perubahan iklim, bakal berdampak pada pengurangan angka kemiskinan ekstrem yang masih melanda banyak warga dunia.

“Bila tidak mengatasi perubahan iklim, kita tidak bisa mengakhiri kemiskinan,” kata Wakil Presiden Bank Dunia Rachel Kyte dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, negara-negara di dunia harus dapat berkolektif mengatasi perubahan iklim sebagai upaya global untuk mengakhiri kemiskinan sekaligus menyebarkan tingkat kesejahteraan yang lebih merata.

Upaya kolektif atau bersama itu, lanjut dia, seharusnya dilaksanakan tidak hanya oleh pemerintahan nasional, tetapi juga oleh beragam mitra pembangunan, sektor swasta, lembaga masyarakat sipil, dan komunitas lokal.

Hal itu, ujar Rachel Kyte, karena perubahan iklim tidak hanya isu lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas finansial.

Untuk itu, pemerintahan juga diharapkan dapat merancang dan menerapkan kebijakan yang menempatkan daya tahan dari pembangunan negara tersebut.

Selain itu, daya tahan juga dinilai seharusnya menjadi inti dari berbagai keputusan yang diambil oleh investor sektor swasta.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat miskin merupakan pihak yang paling terdampak oleh bencana alam, terutama karena mereka memiliki aset penghidupan yang terbatas.

“Bencana juga mendorong orang yang sebelumnya tidak miskin, masuk ke dalam kemiskinan,” katanya.

Oleh karena itu, Bank Dunia sangat mendorong program dan proyek yang memperkuat kapabilitas suatu negara dalam berhadapan dengan bencana, baik yang dibuat oleh alam maupun bencana buatan manusia

Perusahaan Habibie mau produksi 400 pesawat turbo pada 2016

Merdeka.com – Perusahaan manufaktur pesawat milik B.J Habibie, PT Regio Aviasi Industri (RAI) berencana untuk memproduksi 400 pesawat turbo propeller pada 2016. Pesawat bernama R-80 tersebut bakal memiliki mesin pendorong berkekuatan lima ribu tenaga kuda (horse power).

“Dia (R-80) sudah kami konsep memiliki tenaga turbo yang didukung kekuatan baling-baling di kedua sayapnya,” terang Presiden Direktur PT RAI Agung Nugroho dalam diskusi Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) di Gedung Joang ’45, Jakarta, Sabtu (24/5).

Agung menjelaskan, produksi R-80 bertujuan untuk mengembalikan masa kejayaan industri dirgantara nasional. Untuk itu RAI akan menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PT DI), lima puluh ilmuwan di struktur pekerjaan inti, dan kementerian terkait guna merealisasikan mimpi tersebut.

“Kami terdorong membuat pesawat yang lebih canggih karena melihat keprihatinan selama 17 tahun terahir industri dirgantara domestik tidak pernah mengalami pertumbuhan yang bagus. Padahal negara-negara lainnya sedang meningkat,” katanya.

Saat ini, RAI masih memersiapkan rancang bangun dan mesin pesawat. Nantinya, R-80 akan memiliki kapasitas 80-90 kursi.

“Itu sudah termasuk menyusun sertifikasinya juga. Jadi ketika memasuki tahun 2016 pesawat R-80 benar-benar siap terbang,” jelasnya.

“Kami ingin PT DI bisa membuat semua pesawat komersial. Karena kami ingin membidik market share kalangan masyarakat kelas menengah di Indonesia, Eropa, Afrika dan Amerika Latin.”