Biaya logistik Indonesia salah satu paling boros di dunia

Merdeka.com – Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Masita mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara dengan biaya logistik tertinggi. Ini diperberat dengan rencana PT Pelindo II menaikkan biaya container handling charge (CHC) sebesar 10 persen tahun depan.

Pelaku usaha angkutan barang memperkirakan biaya logistik akan bertambah sedikitnya Rp 800 miliar pada tahun depan, bahkan meningkat menjadi Rp 1 triliun pada 2016 mendatang.

“Kenaikan biaya logistik ini tidak kecil apalagi posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang paling boros biaya logistiknya (26 persen dari GDP), dan semua pihak yang berkomitmen untuk menekan biaya logistik harus berusaha untuk tidak menaikkan biaya logistik sekecil apapun,” kata Zaldi Masita melalui keterangan tertulis, Kamis (29/5).

Kementerian Perhubungan diharapkan lebih memperhatikan kenaikan biaya logistik akibat naiknya CHC. Kenaikan CHC dinilai hanya menambah keuntungan operator pelabuhan tapi menjadikan daya saing ekonomi Indonesia terpuruk.

Selain itu juga, ALI meminta pemerintah segera melakukan perubahan penggunaan mata uang dari USD ke Rupiah dalam transaksi CHC. “Sangat aneh kalau Indonesia masih memakai USD dibandingkan negara tetangga yang memakai mata uang lokal,” katanya.

Dia mengingatkan borosnya biaya logistik sudah dimulai dari pabrik sampai ke pelabuhan dengan banyaknya pungutan liar, kemacetan, transportasi tidak efisien, proses lambat dan adanya biaya handling di pelabuhan.

Maka dari itu diperlukan pemerintah, penyedia jasa logistik dan pelaku logistik melakukan moratorium kenaikan biaya logistik sekecil apapun untuk menurunkan biaya secara signifikan.

Pasalnya, Sislognas dalam Perpres No.26/2012 sudah menargetkan mengurangi biaya logistik sampai 5 persen. Untuk membantu menurunkan biaya logistik, pemerintah harus berupaya menekan tarif-tarif di pelabuhan, khususnya Tanjung Priok. Pun, mengurangi kepadatan di Tanjung Priok dengan memaksimalkan pelabuhan di sekitar pelabuhan seperti Marunda, Dry Port Cikarang, Cirebon bahkan Tanjung Emas dan Tanjung Perak.

Terbit Lagi, Newsweek Jalin Kemitraan Eksklusif

WE Online, New York- Setelah 3 bulan edisi cetak Newsweek berhasil diluncurkan kembali di gerai-gerai koran seluruh di Amerika Serikat dan Eropa, penerbit koran mingguan ikonik tersebut mengumumkan bahwa mereka telah menjalin kemitraan eksklusif dengan Empirical Media untuk memperoleh kesepakatan lisensi asing untuk Newsweek dan Newsweek.com di target pasar di seluruh dunia.

“Kami sangat senang dengan terjalinnya kemitraan dengan Empirical untuk membantu kami mengantarkan edisi pasar lokal kami kepada para pembaca di seluruh dunia,” kata Etienne Uzac, salah satu pendiri dan CEO IBT Media, perusahaan pemilik Newsweek.

“Permintaan tidak hanya datang dari regional, tapi juga dari seluruh dunia, dan kita melihat masyarakat semakin antusias terhadap editorial kami sejak peluncuran kembali di AS dan Eropa. Berdasarkan tren ini, kita menyadari besarnya peluang untuk mengembangkan Newsweek secara internasional, dan kami sudah tidak sabar untuk dapat bekerja sama dengan Empirical untuk mewujudkan hal ini,” lanjutnya.

Empirical Media, sebuah perusahaan global yang menyediakan layanan media dan konsultasi, akan mengejar dan memfasilitasi kemitraan lisensi asing untuk menerbitkan Newsweek di pasar yang ditargetkan, dengan fokus awal yaitu untuk melayani peningkatan permintaan di Eropa Tengah dan Asia. Newsweek, sebuah produk berlisensi yang memiliki nilai historis sangat kuat, sudah dipublikasikan melalui kemitraan lisensi lokal di Korea, Pakistan, Polandia, Jepang, dan Amerika Latin.

“Banyak permintaan yang signifikan untuk memperluas publikasi dan distribusi Newsweek di seluruh dunia,” ujar Laurie Benson, dari Empirical. “Kami sangat senang dapat bekerjasama dengan IBT Media dan Newsweek untuk membantu mereka mengekspansikan merek yang kuat dan konten editorial berkualitas tinggi kepada lebih banyak lagi para pembaca dan dalam bahasa lainnya.” Sekilas tentang IBT Media IBT Media adalah perusahaan induk penerbit berbagai produk media ikonik dan inovatif dengan visi bersama untuk mendorong semangat dan menyebarkan informasi ke seluruh dunia. IBT Media menjadi sebuah jendela bagi para pembaca di 190 negara ke beragam peristiwa terkini, perspektif inspiratif, dan informasi yang bermanfaat. Merek-merek IBT Media saat ini diterbitkan oleh staf lokal di 5 negara dan termasuk International Business Times, Newsweek, Medical Daily, Latin Times, dan iDigitalTimes, dan banyak lagi. Untuk informasi lebih lanjut tentang IBT Media, silakan kunjungi : http://corp.ibt.com .

Sekilas tentang Empiris Media Empiris Media mempercepat pertumbuhan global untuk perusahaan media, dengan menyediakan layanan konsultasi handal dan layanan media oleh tim yang berpengalaman. Empirical dipimpin oleh veteran industri media Jim Friedlich, dan kantor cabang di London dipimpin oleh Laurie Benson, mantan penerbit Time Magazine Eropa yang juga pernah memimpin Bloomberg BusinessWeek di kawasan EMEA. (Ant)

Bursa AS Menguat Dipicu Data Makro Penjualan Barang Tahan Lama

Liputan6.com, New York – Pasar saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada Selasa (Rabu pagi) usai indeks saham Standard & Poor (S&P) 500 mencetak rekor setelah adanya laporan pesanan barang tahan lama AS naik dan adanya tawaran JBS SA untuk membeli Hillshire Brands Co senilai US$ 6,4 miliar.

Indeks S&P 500 (SPX) menguat untuk hari keempat, sebesar 0,6% menjadi 1.911,91. Indeks saham Dow Jones Industrial Average naik 69,23 poin atau 0,4% menjadi 16.675,50. Indeks Nasdaq Composite naik 1,2% dan indeks saham Russell 2000 (RTY) melonjak 1,4%.

Melansir laman Bloomberg, Rabu (28/5/2014), penguatan pasar saham AS antara lain dipicu kenaikan saham Hillshire karena adanya tawaran pembelian JBS Pilgrim Pride Corp. Perusahaan gabungan ini akan memiliki nilai penjualan sebesar $ 12,4 miliar.

Saham perusahaan energi FirstEnergy Corp, NRG Energy Inc dan Exelon Corp ikut menyumbang kenaikan lebih dari 3,6% kepada indeks saham S & P 500. Saham Bank of America Corp juga tercatat naik 3,4% setelah perusahaan kembali mengirimkan rencana modalnya ke Federal Reserve. Saham dengan pasar kecil dan perusahaan teknologi memperpanjang pemulihan dari aksi jual dua bulan.

“Data makro barang tahan lama akan melanjutkan kondisi pasar yang lebih baik di babak kedua tahun ini. Itu akan menjadi hal yang positif,” kata Daniel Skelly, Ahli Strategi Ekuitas di Morgan Stanley Wealth Management yang berbasis di New York.

Adapun pesanan barang tahan lama naik ketiga kalinya di April, yang menjadi tanda kebangkitan industri akan mendorong penguatan perekonomian di negara terbesar dunia ini.

Pemesanan barang naik 0,8% dalam 3 tahun setelah naik 3,6% di bulan sebelumnya, menurut data Departemen Perdagangan. Padahal, perkiraan median dari 68 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg menyebutkan penurunan 0,7%.

Dalam laporan ekonomi lainnya, indeks Conference Board kepercayaan konsumen AS meningkat menjadi 83 di Mei dari 81,7 bulan sebelumnya.

Indeks harga properti S&P/Case-Shiller di 20 kota di AS meningkat 12,4% dari Maret 2013 setelah naik 12,9% pada tahun yang berakhir pada bulan Februari.

Pasar ekuitas AS ditutup kemarin untuk libur Memorial Day. Sekitar 5,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS hari ini, 14% lebih rendah dari rata-rata tiga bulan.

Adapun nilai ekuitas di seluruh dunia tercatat mencetak rekor mencapai US$ 63,8 triliun. Ini usai Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi kemarin mengisyaratkan kesiapan untuk bertindak atas inflasi yang rendah, sementara Perdana Menteri China mengatakan kemungkinan menyempurnakan kebijakan ekonomi.

Investor akan kembali ke perusahaan-perusahaan kecil dan saham teknologi, di mana indek saham NASDAQ dan Russell 2000 naik lebih dari 3,4% dalam empat hari terakhir. Valuasi yang terlalu mahal memicu aksi jual di awal Maret.

Facebook Inc misalnya, tercatat melonjak 3,5% menjadi US$ 63,48, ini merupakan saham teknologi terkemuka di S&P 500 dengan keuntungan 1%, terbesar di antara 10 industri utama.

S&P 500 diperdagangkan di 16,2 kali rata-rata proyeksi pendapatan, naik dari 14,8 pada 3 Februari lalu, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. (Nrm)

Wall Street menguat angkat S&P 500 ke rekor baru

New York (ANTARA News/AFP) – Indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan baru untuk sesi kedua berturut-turut pada Selasa waktu setempat (Rabu pagi WIB), karena saham-saham di Wall Street menguat setelah beberapa data ekonomi Amerika Serikat (AS) mantap.

Indeks berbasis luas S&P 500 naik 11,38 poin (0,60 persen) menjadi berakhir pada 1.911,91. Pada Jumat lalu indeks ditutup di atas 1.900 untuk pertama kalinya. Pasar AS ditutup pada Senin untuk hari libur umum.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 69,23 poin (0,42 persen) menjadi 16.675,50, sedangkan gerakan terkuat datang dari indeks teknologi Nasdaq, yang melonjak 51,26 poin (1,22 persen) menjadi 4.237,07.

Data ekonomi AS terbaru menunjukkan kenaikan dalam kepercayaan konsumen untuk Mei, peningkatan yang mengejutkan dalam pesanan barang tahan lama untuk April dan peningkatan harga rumah untuk Maret pada indeks S&P/Case-Shiller yang banyak dipantau.

Wells Fargo Advisors menyebut data ekonomi “memberikan harapan” di pasar.

Mace Blicksilver, Direktur Marblehead Asset Management, mengatakan reli di saham teknologi adalah tanda membaiknya sentimen.

Perusahaan-perusahaan teknologi yang membukukan kenaikan antara lain Apple bertambah 1,9 persen, Facebook naik 3,5 persen, Priceline bertambah 5,2 persen dan Tesla Motors naik 2,1 persen.

Produsen ayam AS Pilgrim Pride mengumumkan tawaran untuk mengakuisisi perusahaan daging dan makanan beku Hillshire Brands dalam sebuah kesepakatan senilai 6,4 miliar dolar AS, dengan syarat Hillshire membatalkan usulan pengambilalihan Pinnacle Foods 6,6 miliar dolar AS.

Hillshire mengatakan, perusahaan bersiap untuk pengambilalihan yang diusulkan Pinnacle, tetapi berjanji untuk mempelajari tawaran itu.

Saham Hillshire melonjak 22,1 persen, Pilgrim naik 1,7 persen dan Pinnacle merosot 5,4 persen.

Bank of America naik 3,4 persen karena perusahaan mengajukan kembali rencana modalnya setelah Federal Reserve mewajibkan bank untuk menahan distribusi pemegang sahamnya.

Pembuat botox, Allergan, merilis sebuah presentasi yang menyerang Valeant Pharmaceuticals dalam upaya terbaru untuk menggagalkan tawaran pengambilalihan yang tidak diminta. Perusahaan mengangkat berbagai isu, termasuk kemampuan Valeant untuk mempromosikan produk Allergan dan omset yang luas dalam manajemen Valeant. Saham Allergan turun 1,1 persen, sementara Valeant turun 2,6 persen.

Harga obligasi naik. Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS berjangka waktu 10 tahun turun menjadi 2,52 persen dari 2,54 persen pada Jumat, sementara pada obligasi 30-tahun turun menjadi 3,37 persen
dari 3,40 persen. Harga dan imbal hasil obligasi bergerak terbalik.
(Uu.A026)

Harga emas kembali babak belur

NEW YORK. Setelah dua bulan lamanya mengapung, kini harga emas kembali tenggelam turun. Harga emas berjangka di New York mencapai harga terendah 15  pekan karena investor memilih saham.

Anjloknya harga emas itu menghapus kenaikan harga yang sempat tercipta di awal tahun, ketika ketegangan Rusia dan Ukraina bersitegang. Selain itu harga emas sempat naik saat diketahui ada perlambatan ekonomi di AS akibat musim dingin.

Goldman Sachs Group Inc dan Societe Generale SA memprediksi, harga logam akan mengalami penurunan 28% di 2013 lalu. Saat ini harga emas sudah turun 9,1% setelah mencapai posisi tertinggi tahun ini di bulan Maret .

“Saya tidak melihat alasan harga emas untuk naik lebih tinggi,” kata James Shelton, kepala investasi Kanaly Trust Co di Houston. Ia bilang, saat ini investor lebih memilih saham. “Kecuali nanti ada inflasi tiba-tiba memanas, saya akan bertaruh pada harga emas yang lebih murah,” katanya.

Emas berjangka di New York kemarin menyentuh harga US$ 1.263,40 per ounce, harga terendah sejak 7 Februari. Harga emas ini turun 2,3% sejak Mei.