Mayoritas indeks acuan Asia tersenyum cerah

http://investasi.kontan.co.id

TOKYO. Mayoritas indeks acuan di kawasan regional bergerak positif pada transaksi akhir minggu ini (30/5). Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.01 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific naik 0,1% menjadi 142,27. Dengan demikian, indeks acuan Asia menuju level penutupan tertinggi sejak November lalu.

Sementara itu, indeks Topix Jepang naik 0,2%. Sementara, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,2%, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,1%, dan indeks NZX 50 Selandia Baru tak banyak mencatatkan perubahan hari ini.

Bursa Asia bergerak positif dipicu oleh beberapa sentimen. Pertama, data yang dirilis badan pusat statistik Jepang menunjukkan bahwa tingkat inflasi Negeri Sakura meningkat pada April lalu. Sentimen lainnya adalah spekulasi investor bahwa perekonomian AS mulai pulih dari kontraksi pertama dalam tiga tahun terakhir.

“Perekonomian global mulai pulih secara bertahap, sehingga mengerek sentimen bagi pasar saham. Gambaran ekonomi AS dan Jepang secara umum memperlihatkan adanya pemulihan signifikan,” papar Steven Milch, chief economist Suncorp Group Ltd.

“Handset” Murah Dongkrak Penjualan “Smartphone”

WASHINGTON, KOMPAS.com – Penjualan smartphone global akan meningkat 23 persen tahun ini menjadi 1.2 miliar unit. Peningkatan penjualan tersebut didorong pertumbuhan penjualan smartphone murah di negara berkembang.

Berdasarkan survei IDC, penjualan smartphone akan bertahan stabil secara tahuhan pada kisaran 12,3 persen hingga tahun 2018. Penjualan ini banyak disumbang ponsel murah dengan sistem operasi Android. Adapun penjualan Apple akan merosot, Microsoft Windows akan cenderung stagnan dan Blackberry makin memudar.

“Yang menarik dari pertumbuhan smartphone adalah lokasinya. Pengiriman smartphone akan lebih dari dua kali lipat antara saat ini hingga 2018 ke negara berkembang penting termasuk India, Indonesia, dan Rusia. Dengan tambahan, Tiongkok akan menyerap sepertiga pengiriman smartphone pada 2018,” kata analis IDC Ramon Llamas seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (29/5/2014).

IDC menyatakan rata-rata harga penjualan smartphone akan merosot tahun ini dari 335 dollar AS pada tahun 2013 menjadi 314 dollar AS. Pada tahun 2018 mendatang, harga jual smartphone akan terus turun hingga berada pada posisi 267 dollar AS.

Biro riset tersebut juga memprediksi Android masih memimpin penjualan smartphone dengan market share 80,4 persen pada tahun 2014. Adapun pada tahun-tahun mendatang diperkirakan akan sedikit bergeser ke Windows.

Sementara itu, market share Apple iOS diperkirakan akan turun dari 14,8 persen pada tahun 2014 menjadi 13,7 persen pada tahun 2018. Kondisi ini, ungkap IDC, menandakan ada pertumbuhan penjualan di beberapa segmen pasar.

Selain itu, minimnya unit murah keluaran Apple pun menjadi faktor. IDC juga menyebutkan Windows Phone secara perlahan akan meningkat penjualannya dan market share akan bertambah dari 3,5 persen tahun ini menjadi 6,4 persen di tahun 2018. Laporan IDC menyebut market share Blackberry akan kurang dari 1 persen tahun ini, atau persisnya 0,8 persen. Pada tahun 2018 akan mencapai hanya 0,3 persen.

“Pertanyaan apakah Blackberry dapat bertahan masih terus bergulir. Satu-satunya cara adalah mungkin melalui pendekatan berdasarkan aspek keamanan,” tulis laporan IDC.

Gara-gara BI Rate, Kredit Macet Berisiko Melambung

TEMPO.CO , Jakarta– Gara-gara Bank Indonesia menetapkan suku bunga acuan (BI rate) tinggi sebesar 7,5 persen selama enam bulan terakhir, kredit macet (nonperforming loan/NPL) di sektor konsumsi berpotensi meningkat. Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional,  Sigit Pramono,  mengatakan sektor konsumsi seperti properti, mobil, motor paling rentan terhadap kredit macet.

“Pengguna kredit ini mayoritas berpendapatan rendah, sehingga jika bank menaikkan suku bunganya, nasabah tersebut akan kesulitan membayar,” ujar dia saat dihubungi Tempo,  Kamis 29 Mei 2014.  NPL untuk sektor konsumsi sendiri,  menurut Sigit,  di bawah 5 persen. Namun secara keseluruhan persentase NPL  bank masih berada di titik aman yaitu di bawah 2 persen.

Perbanas masih mencermati potensi kenaikan kredit macet yang disebabkan masih tingginya BI rate. Bank Indonesia selama 6 bulan terakhir mematok suku bunga acuan sebesar 7,5 persen.  “Kondisi ini sebenarnya serba salah,”  kata Raden Pardede, Ketua Pelaksana Perbanas. Ia mengatakan bahwa tingginya BI rate merupakan upaya  untuk menekan pertumbuhan kredit agar tidak terlampau tinggi di tengah penurunan current account deficit (defisit neraca berjalan). (Baca juga: BI Rate Berpeluang Turun 6-6,5 Basis Point).

Sigit menimpali,  kredit macet tidak semata-mata bersumber dari tingginya BI rate.  Sebab, kata dia, jika bank tidak merespon posisi BI rate  dengan menaikkan suku bunga, kredit macet tidak akan pernah terjadi.  “Potensi kredit macet seharusnya bisa menjadi warning dari Bank Indonesia kepada bank lainnya untuk berhati-hati memberikan kredit,” tutur dia.  (Baca pula: BI Rate Tak Turun, Kredit Macet Bisa Meningkat).

Krisis Thailand Jadi Fokus, Bursa Asia Bergerak Fluktuatif

http://bisnis.news.viva.co.id

Sejumlah data ekonomi yang akan dirilis Jepang juga jadi sorotan.

VIVAnews – Indeks saham utama Asia bergerak fluktuatif atau mixed pada perdagangan Jumat 30 Mei 2014, investor fokus pada sejumlah data ekonomi yang akan dirilis Jepang dan perkembangan situasi di Thailand.

Dikutip dari laman CNBC, indeks acuan di bursa Jepang diperkirakan akan melemah setelah sebelumnya ditutup di level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir pada Kamis kemarin. Osaka berjangka bergerak mendatar di level 14.690, atau 20 poin di bawah penutupan indeks Nikkei.

Indeks acuan di bursa Australia, S&P ASX 200 terlihat bergerak lebih tinggi setelah pada sesi sebelumnya bergerak mendatar. Perdagangan saham berjangka di Australia naik 0,2 persen ke level 5.541.

Indeks saham utama Amerika Serikat menguat pada penutupan perdagangan Kamis waktu New York.

Setelah sebelumnya sempat jatuh 12 poin, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 65,56 poin (0,4 persen) ke level 16.698,74, dengan saham Merck & Co memimpin kenaikan saham blue-chip.

Sementara itu indeks S & P 500 mencapai rekor intraday untuk tiga sesi berturut-turut, dan ditutup menguat 10,25 poin (0,5 persen) ke level 1.920,03, dengan saham sektor kosmetik dan konsumen membukukan keuntungan terbesar diantara 10 kelompok industri utama penyokong indeks S & P 500.

Indeks Nasdaq juga menguat 22,87 poin (0,5 persen) ke level 4.247,95

Departemen Perdagangan AS merilis, produk domestik bruto AS turun  1 persen pada tingkat tahunan di kuartal pertama 2014. Penurunan PDB tersebut memicu investor memperkirakan ekonomi AS akan pulih dari kontraksi pertama dalam tiga tahun. Hal itu memberi angin segar pada pasar saham.

Selain itu, pulihnya nilai imbal hasil (yield) treasury untuk 10 tahun di Amerika Serikat juga menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat, yield treasury untuk 10 tahun berbalik naik 2 basis poin menjadi 2,461 persen, setelah sebelumnya jatuh di level terendah sejak Juni yakni 2,3971.

Laporan lain yakni klaim pengangguran jatuh 27.000 hingga 300.000 pada pekan lalu, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya 326.000.

Investor Asia akan memfokuskan pada keluarnya rilis sejumlah data ekonomi di Tokyo. Adapun data ekonomi pada April yang akan keluar di Tokyo yakni data pekerjaan, inflasi harga konsumen, pengeluaran rumah tangga, dan output industri. Investor memfokuskan laporan itu untuk melihat bagaimana kondisi perekonomian di Jepang yang akan menaikkan pajak konsumsi.

Laporan pertumbuhan ekonomi di India pada kuartal pertama tahun ini naik 4,8 persen dibandingkan tahun lalu, sedikit lebih baik dari perkiraan sebelumnya yakni menguat 4,7 persen.

Perkembangan situasi di Thailand juga menjadi sorotan investor Asia. Lebih dari 1.000 tentara angkatan darat dan polisi menutup salah satu persimpangan tersibuk di Bangkok pada Kamis untuk menghentikan protes terhadap kudeta militer.

Pekan Depan, Calon Pembeli Bank Mutiara Ajukan Penawaran Harga

Suara.com – Mulai pekan depan, calon pembeli Bank Mutiara akan mengajukan penawaran harga awal kepada Lembaga Penjamin Simpanan Samsu Adi Nugroho mengatakan, LPS memberi waktu selama empat hari kepada calon pembeli mulai tanggal 2 Juni hingga 5 Juni.

Setelah itu, LPS akan mengevaluasi penawaran yang masuk tersebut sebelum meloloskan calon pembeli untuk mengikuti uji tuntas (due diligence).

“Dalam penawaran awal itu ada kemungkinan harganya sama, kami aka menyeleksinya dengan skim yang ditawarkan. Kemungkinan ada yang menawarkan harga sama tetapi skimnya berbeda. Nah, kalau sudah selesai proses evaluasi maka LPS akan meloloskan calon pembeli untuk ikut due diligence,” kata Samsu kepada suara.com melalui sambungan telepon, Kamis (29/5/2014).

Samsu menambahkan, LPS tidak akan memberikan prioritas utama kepada calon pembeli dari dalam negeri dalam penentuan pemenang. Kata dia, calon pembeli dari luar dan juga dalam negeri mempunyai kan yang sama untuk menjadi pemilik Bank Mutiara.

“LPS tidak ada preferensi khusus dalam menentukan pemenang. Nama pemenang akan ditentukan setelah calon pembeli melakukan uji kepatutan dan kelayakan oleh OJK. Sebelum fit and proper test itu, LPS akan memberikan masukan kepada OJK terkait calon pembeli yang sudah lolos itu,” kata Samsu.

11 calon investor sudah menyerahkan dokumen kepada Lembaga Penjamin Simpanan terkait rencana pembelian Bank Mutiara. Dari 11 investor tersebut, empat calon investor lokal dan tujuh investor asing.

Sesuai UU tentang LPS, Bank Mutiara harus terjual tahun ini. Penjualan sudah dilakukan sejak 2011, tiga tahun sejak penanaman modal sementara (PMS) oleh LPS pada November 2008. Penjualan pada 2011 hingga 2013 gagal. Penyebabnya antara lain calon investor tidak memenuhi syarat. Hingga akhir 2013, Bank Mutiara harus terjual dengan harga minimal Rp6,7 Triliun sebesar Penanaman Modal Sementara oleh LPS.

Tahun ini, harga jual minimalnya tidak harus sebesar PMS oleh LPS. Sebagai pemilik Bank Mutiara, LPS juga telah menambah modal Rp1,2 Triliun pada 23 Desember 2013. Dengan demikian, total PMS oleh LPS pada Bank Mutiara mencapai Rp7,9 Triliun.