http://investasi.kontan.co.id

JAKARTA. Bak petinju, rupiah terus tersudut. Kinerjanya bahkan lebih buruk dibanding mata uang negara lain yang sengaja melemahkan mata uang mereka, seperti Singapura dan Jepang.

Sejak awal tahun sampai Jumat (13/3), rupiah versus dollar AS terdepresiasi 6,6% menjadi Rp 13.205. Pada periode yang sama, pelemahan SGD terhadap USD hanya 5%. Adapun JPY hanya tergerus 1,35% terhadap USD.

Rendahnya nilai tukar rupiah tergambar dari indeks nilai tukar rupiah riil efektif alias Real Effective Exchange Rate (REER). Mengutip situs Bank for International Settlements (BIS) per Januari 2015, Indonesia  di level 77,94. Padahal, waktu itu, rupiah masih di kisaran Rp 12.500-Rp 12.600.  Angka REER di bawah 100 menunjukkan mata uang sebuah negara terdepresiasi.

Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Aset Manajemen, menjelaskan, rupiah sudah undervalue atau terlalu murah. Padahal kondisi makro dalam negeri positif. Cadangan devisa  Februari 2015 naik menjadi US$ 115,5 miliar.

Seorang tresuri bank Eropa di Singapura sepakat jika rupiah sudah kemurahan. “Idealnya sekitar Rp 12.800,” ujarnya kepada KONTAN, kemarin.

Apa biang keroknya? Menurut Lana, ada sesuatu di dalam negeri yang tak bisa terkontrol. “Pemerintah harus mencermati apakah ada spekulasi dan non deliverable forward aktif lagi?” jelas Lana ke KONTAN, Minggu (15/3).

Pelemahan rupiah juga memicu kepanikan investor. Mengutip laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), sejak awal tahun hingga 12 Maret lalu, dana asing di surat utang negara (SUN) naik 7,61% menjadi Rp 496,48 triliun. Tapi, jika menghitung  2 Maret-12 Maret 2015, nilainya terpangkas Rp 12,48 triliun akibat rupiah  semakin loyo.

Keluarnya dana asing ini akibat investor merasa tak mendapat keuntungan bila rupiah terseok. Sebagai contoh, yield obligasi AS 10 tahun di 2%. Sementara akhir pekan lalu, yield obligasi Indonesia bertenor sama (FR0070) sebesar 7,3%. Dengan depresiasi rupiah sebesar 6,6%, investor hanya meraih hasil 0,7%.

Ariawan, analis obligasi Sucorinvest Central Gani bilang, investor asing yang masuk SUN di awal 2015 akan keluar jika rupiah Rp 13.500. Celakanya, ancaman itu bisa menjadi kenyataan. “April puncak jatuh tempo utang,” tambah tresuri asal Singapura tadi.

Di sisi lain, paket penyelamatan rupiah bukanlah obat cespleng. “Semuanya jangka panjang dan semu, kecuali penggunaan L/C,” ujar Harry Pattikawa, bankir bank di Belanda. Untung, masih ada sedikit kabar baik. capital outflow akan memicu yield SUN merangkak naik. Menurut Ariawan, investor domestik dapat  menyerap SUN lantaran yield mulai menarik.