http://www.cnnindonesia.com

Jakarta, CNN Indonesia — Selama ini, proses terbentuknya satelit Bumi, yaitu bulan, masih menyimpan misteri. Setelah melalui penelitian, sejumlah ilmuwan akhirnya berhasil memaparkan teori yang mendukung lahirnya bulan.

Saat Bumi baru lahir sekitar 4,5 miliar tahun lalu, sempat mengalami tabrakan dengan batu antariksa seukuran Mars dan lapisan meteorit menutupi keduanya. Puing-puing sisa tabrakan tersebut diyakini yang membentuk bulan. Para peneliti pun percaya bahwa bulan memang lahir tak lama setelah Bumi.

Di era 1970-an, sempat ada penjelasan bagaimana lahirnya bulan yang berjudul Giant Impact Hypothesis.

Di situ dijelaskan bahwa bulan terbentuk karena ada tabrakan dua planet ‘muda’, yakni Bumi dan objek bernama Theia, yang juga dianggap seukuran dengan Mars. Kemudian bulan lahir dari puing-puing keduanya.

Di dalam pemaparan Giant Impact Hypothesis mengatakan material dari Theia lebih banyak terkandung di bulan, yaitu lebih dari 60 persen. Namun, jika melihat dari pengambilan sampel batu, bulan lebih menunjukan kemiripan komponennya dengan Bumi.

“Dalam hal komposisi, bulan dan Bumi hampir bisa dibilang seperti kembar,” ujar pemimpin penelitian Alessandra Mastrobuono-Battisti, seorang astrofisikawan dari Israel Institute of Technology, seperti dikutip dari NBC News.

Kemudian Alessandra bersama rekan timnya melakukan simulasi tabrakan pada awal sistem tata surya yang masih terdiri dari 85 hingga 90 protoplanet di mana tiap-tiap planet mengandung 10 persen massa Bumi. Tak hanya protoplanet, ada juga ribuan objek mungil yang disebut planetesimal yang semuanya memiliki 0,2 persen massa Bumi.

Dari simulasi, tim peneliti menemukan bahwa tabrakan tersebut bisa menciptakan tiga sampai empat planet berbatu, dengan perbandingan paling besar dengan massa Bumi. Serta sekitar 20-40 persen komposisi di planet baru sangat mirip dengan susunan komposisi dari protoplanet yang mengalami tabrakan.

“Ini sangat seru karena kami bisa mengungkapkan hal baru dari misteri lahirnya bulan,” kata anggota tim Hagai Perets.

Bulan diperkirakan memiliki 1,6 miliar ton air es dan elemen langka yang berlimpah tersembunyi di bawah permukaannya.

Perusahaan energi berbasis di Texas sempat berencana menambang cadangan besar air es untuk diubah menjadi bahan bakar roket dalam bentuk hidrogen dan oksigen, kemudian nantinya akan dijual ke mitra antariksa pada orbit rendah Bumi.