http://www.tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM.JAKARTA. Bisnis makanan dan minuman di Indonesia masih menggiurkan. Dalam setahun terakhir, minat investor lokal dan asing untuk berinvestasi pabrik makanan dan minuman terus meningkat.

Ini terlihat dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sepanjang 2014 lalu investasi makanan dan minuman mencapai Rp 53,4 triliun. Sementara, sejak November 2014 -Maret 2015 investasi dari Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat yang berjanji masuk di sektor ini mencapai US$ 1,6 miliar. Dari jumlah itu, yang mengajukan izin investasi US$ 151 juta.

Dalam catatan KONTAN, akhir Maret lalu, PT Garuda Food menyatakan menganggarkan dana investasi Rp 550 miliar untuk membangun pabrik baru, menambah mesin produksi, dan perluasan distribusi.

Periode yang sama, PT Coca-Cola Amatil Indonesia mengalokasikan investasi senilai US$ 500 juta untuk 4-5 tahun ke depan. Mereka menambahan lini produksi pabrik Bekasi, percepatan dan perluasan sistem produksi, penyimpanan, serta pengadaan infrastruktur minuman dingin.

Lalu, awal April, PT Asahi Indofood Beverages Makmur mengoperasikan pabrik baru dengan investasi Rp 700 miliar di Cicurug Jawa Barat. Kapasitas produksinya sekitar 100 juta liter per tahun.

Tak hanya, itu, PT Cisarua Mountain Diary atau Cimory dan Kanematsu Group mendirikan PT Kanemory Food Service (KFS) untuk memproduksi makanan siap saji sosis. Investasinya sekitar Rp 40 miliar (sebelumnya KFS menyebut Rp 400 miliar).

Rachmat Hidayat, Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Minggu (19/4/2015), mengungkapkan, ada tiga pertimbangan utama yang dilihat oleh investor di sektor makanan.

Pertama, populasi penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta membuat pasar yang sangat besar. Kedua, Indonesia mempunyai bahan baku seperti cokelat, kopi juga minyak sawit mentah. Ketiga, Ada potensi menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk mengisi pasar Asia Tenggara.

Azhar Lubis, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM melihat, meskipun nilai investasi industri makanan tak sebesar industri otomotif, pertumbuhan yang besar menjadi sinyal positif bagi investor. (KONTAN/ Benediktus Krisna Yogatama, David Oliver Purba )