Mengenal Konglomerat Pertama di Asia Tenggara Asal Semarang

http://bisnis.news.viva.co.id

Si ‘Raja Gula’ ini sempat digelari sebagai ‘Manusia 200 Juta Gulden.’

VIVA.co.id – Kota Semarang memiliki sejumlah warisan sejarah berupa gedung kuno jejak perkembangan keturunan Tionghoa. Satu di antaranya  adalah bekas istana Oei Tiong Ham di kawasan Gergaji, yang kini menghadap Jalan Kyai Saleh no. 12-14, Semarang. Hingga kini gedung tersebut tetap berdiri kokoh, dengan arsitektur luar maupun dalam yang masih asli. Gedung ini sempat bernama Balai Prajurit.

Setelah dibeli oleh Budi Purnomo (Hoo Liem) seorang pengusaha yang juga Ketua Perkumpulan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah pada tahun 2004, gedung tersebut menjadi kampus sebuah perguruan tinggi.

Pada masanya, bangunan ini sangat terkenal. Ada banyak sebutan masyarakat tentang bangunan ini, dari Istana Oei Tiong Ham, Istana Gergaji, Kebonrojo dan yang disebut di atas, istana Balaikambang.

Bangunan itu adalah bekas kediaman Oei Tiong Ham. Oei Tiong Ham (1866-1924) “Raja Gula” yang berasal dari Semarang yang juga sempat digelari sebagai Manusia 200 Juta Gulden, seperti ditulis di buku Konglomerat Oei Tiong Ham, Kerajaan Bisnis Pertama di Asia Tenggara, disunting Yoshihara Kunio, 1991, PT Pustaka Utama Grafiti.

Istana di Gergaji, kini Jalan Kyai Saleh, yang dahulu terkenal dengan Taman Bale Kambang sebenarnya memiliki luas area lahan 81 hektare, yang lebarnya meliputi (kini) Markas Kepolisian Daerah Jawa Tengah di Jalan Pahlawan sampai Simpang Lima dan Randu Sari.

Di belakang bangunan utama yang kontur tanahnya terdapat perbukitan dan lembah, terdapat beberapa bangunan rumah yang mengelilingi kolam. Gugusan bangunan itu seolah-olah mengambang di atas kolam.

Karena itulah masyarakat setempat menyebutnya Balekambang. Nama itu sampai saat ini diabadikan untuk perkampungan yang berada di belakang kepolisian daerah Jawa Tengah.

Sementara rumah Oei di Simongan yang menjadi tempat Oei Tjie Sien menghabiskan hari tuanya, kondisinya memprihatinkan. Lahan seluas 2,75 hektare itu kini dihuni oleh 45 kepala keluarga yang sebagian merupakan keluarga pensiunan tentara. Sebagian atap bangunan utama rusak dan warnanya kusam.

Kini istananya di gergaji telah berpindah tangan dan menjadi kantor lembaga pendidikan. Kompleks istana yang dahulu seluas 81 hektare, kini tinggal sekitar 8.000 meter persegi tempat bangunan itu berada. Sisanya telah menjadi perkantoran dan permukiman penduduk.

Siapa sebenarnya Oei Tiong Ham, raja gula pada masa penjajahan Belanda , yang juga disebut –sebut sebagai konglomerat pertama di Indonesia ?

Mbah Temoe  yang tinggal di kawasan gergaji sempat menyaksikan kehidupan Oei Tiong Ham.  Nenek yang berusia 80 tahun itu adalah anak dari sopir Oei Tiong Ham yang ikut hijrah ke Singapura. Mbah Temoe lahir di Singapura ketika orang tuanya mengikuti Oei Tiong Ham.

Karena pendengarannya yang terbatas , nenek Temoe didampingi cucunya bernama Wawan membenarkan dirinya anak sopir Oei Tiong Ham. Kala itu, ibunya mengandung dia ketika di Singapura dan akhirnya melahirkan di sana.

“Sekitar umur 7 tahun kemudian mereka kembali ke Semarang ,” jelas Wawan.