Bestprofit Futures Jakarta

Calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan PDIP belum kompak di Pilkada DKI 2017. Sebagian kader di partai banteng malah berbeda sikap terkait dukungan kepada Ahok. Hal itu terlihat jelas dalam video nyanyian ‘Ahok pasti tumbang’ ketika rapat DPP di Jakarta bocor ke publik Bestprofit Futures Jakarta.

Sikap sebagian kader PDIP ini memperkuat dugaan Ahok ditolak kalangan internal. Alih-alih akan mendukung sebagaimana diisukan, mereka terlihat kompak dan siap ‘menumbangkan’ Ahok.

Reaksi penolakan atas Ahok bukan tanpa sebab. Dalam AD/ART partai, seorang calon yang maju harus melalui mekanisme penjaringan. Ahok bukan kader dan tidak mendaftarkan diri di PDIP.

“PDI Perjuangan punya mekanisme. Pak Ahok mestinya ketika Bu Mega sudah menjawab semacam itu, Pak Ahok menangkap, kalau mau diusung PDI Perjuangan anda silakan daftar,” kata Wasekjen PDIP Ahmad Basarah di Gedung DPR-MPR, Jakarta, pada Jumat (12/8) lalu.

Bagi calon atau pasangan calon yang diusung PDIP, syaratnya adalah mendaftar secara resmi sebagai cagub dan mengikuti tahapan-tahapan yang telah digariskan oleh partai. Termasuk mengikuti uji kepatutan dan kelayakan sebagai cagub, serta mengikuti proses penyaringan internal bersama 32 bakal cagub dan cawagub lainnya yang telah mendaftar lewat PDIP.

Selain itu, para kader menilai, mekanisme penjaringan harus ditaati dan masih ada figur internal yang lebih cocok untuk diusung. Namun demikian, menurut Basarah, semua keputusan ada di tangan DPP PDIP.

Dari masa penjaringan dan hasil uji kelayakan dan kepatutan kali lalu, enam nama diketahui sudah ada di meja Ketum Megawati Soekarnoputri. Namun, hingga hari ini baik DPP dan Megawati belum memilih salah satu dari keenam nama tersebut. Megawati bungkam, demikian pula semua kader memilih diam dan menunggu keputusan.

“Namanya sudah ada di ‘dompet’ ibu Mega, karena tertutup sehingga tidak bisa dibuka. Ibu Mega yang akan mengumumkan,” kata politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (22/7).

Di sisi lain, dukungan tiga (Golkar, Hanura, dan NasDem) tak juga membuat Ahok Puas. Ahok masih berharap pada PDIP. Dalam beberapa kesempatan, Ahok menyebut sudah mendapat restu Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Sinyal restu itulah yang membuat Ahok yakin jika ia akan diduetkan kembali dengan Wagub Djarot Syaifulah Hidayat.

Pula ketika video ‘Ahok pasti tumbang, beredar, Ahok masih tetap yakin. Berbekal ‘restu’ Megawati, dia menyebut hubungan dengan kader PDIP tetap baik. Ahok juga sudah mengklaim mengantongi restu dari Megawati untuk kembali berduet dengan Djarot. Ahok hanya menunggu langkah Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

“Saya kira Mas Hasto Sekjen yang akan mengatur, memilih, apakah akan memutuskan Ahok-Djarot atau pasangan yang lain, kita enggak tahu,” kata Ahok.

Namun hingga saat ini PDIP belum menentukan sikap politik terkait calon gubernur dan wakil gubernur yang akan diusung di Pilgub DKI tahun depan. Nampaknya, keputusan Megawati lah yang ditunggu-tunggu saat ini.

Penolak dan pendukung Ahok

Ada barisan pendukung dan penolak Ahok di internal PDIP. Video ‘Ahok pasti tumbang’ sedikit mempertegas situasi di internal partai itu.

Dalam beberapa kesempatan beberapa elite PDIP terkesan berseberangan dan bahkan menolak Ahok dicalonkan PDIP. Mereka ini di antaranya Pelaksana tugas Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Bambang DH, Ketua DPP PDIP Andreas H Pareira, Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah, dan Sekjen Hasto Kristiyanto.

Meski bukan sikap resmi partai, komentar-komentar elite partai ini di media masa menguatkan dugaan penolakan itu. Alasan pertama adalah Ahok bukan kader partai dan tidak mengikuti proses penjaringan cagub dan cawagub di PDIP. Selain itu, beberapa di antaranya berseberangan oleh karena komunikasi Ahok selama ini. Ahok juga dinilai lancang karena mengultimatum Ketua Umum Megawati Soekarnoputri agar memberikan kepastian soal dukungan terhadap dia dan pasangannya, Djarot.

“Gak mungkin seorang Ahok bisa intimidasi Megawati Soekarnoputri. Kita abaikan permintaan dia,” kata Basarah di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (12/8).

Namun tak sedikit pula yang mendukung Ahok. Ada Djarot Saiful Hidayat, politisi Maruarar Sirait, Ketua Bidang Perekonomian PDIP Hendrawan Supratikno. Mereka terkesan lebih lugas dan menerima Ahok diusung oleh PDIP.

Peluang Ahok

Klaim Ahok bakal disandingkan dengan Djarot kembali masih belum dikatakan pasti. Ketua DPP PDIP Andreas Pereira mengatakan,

peluang partainya untuk mengusung Ahok-Djarot masih terbuka. Hal ini disebabkan PDIP belum memutuskan nama calon dan masih mempertimbangkan dinamika di masyarakat.

“Ya 50:50 lah, kita lihat. Proses sekarang masih berkembang. Semua masih terbuka,” kata Andreas di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8).

Namun, dari hasil survei elektabilitas yang pernah dilakukan di kalangan internal PDIP, justru nama Walikota Tri Rismaharini lah yang paling teratas. Nama-nama lain seperti Puan Maharani, Djarot Saiful Hidayat, Boy Sadikin juga ikut terjaring dalam survei. Namun, elektabilitasnya masih kalah dari Risma. “Sampai saat ini elektabilitas Mbak Risma masih paling tinggi,” kata politikus PDIP, Eva Kusuma Sundari, Kamis (12/5).

Menurut Eva, meski direstui Megawati, peluang Risma dan Ahok juga sama besarnya. Namun Risma lebih diterima di kalangan internal ketimbang Ahok. “Kalau dari ketua umum peluang untuk Risma dan Ahok kayaknya 50:50, tapi kalau versi pengurus PDIP Risma lebih besar,” ujar Eva.

Di atas kertas, peluang kemenangan Ahok di Pilkada DKI masih terhitung lebih besar. Peluang kemenangan itu sama besarnya ketika Ahok memilih jalur independen kali lalu. Nah, ketika memilih jalur parpol, berdasarkan survei hasil survei Cyrus Network, 85 persen atau 4 dari 5 pemilih Ahok akan tetap mendukung sang incumbent jika memutuskan maju melalui jalur partai
politik. Namun begitu, mereka meminta Ahok untuk lebih memilih PDIP sebagai tunggangannya jika maju lewat partai politik.

“Sebanyak 51 persen pemilih Ahok justru menyarankan Ahok maju lewat PDIP kalau maju lewat parpol. Publik justru melihat ada benang merah antara Ahok dan PDIP,” kata managing Director Cyrus Network Eko David Afianto, Jumat (13/5).

Besarnya peluang ini, kata dia dilatari pemilih PDIP justru menjadi kontributor paling besar dalam pengumpulan Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi ‘Teman Ahok’. Sebanyak 60 persen responden yang sudah mendengar nama organisasi Teman Ahok itu. Di mana 13,5 persen responden dari presentase itu mengaku sudah memberikan dukungan dengan menyerahkan KTP kepada Teman Ahok.

Dilihat dari kemungkinan-kemungkinan ini, Ahok nyata-nyatanya masih punya harapan untuk diusung PDIP. Harapan itu bukan saja karena faktor disukai Megawati tapi harus oleh semua internal PDIP.

Di antara kemungkinan ini, Megawati juga pasti berat mengambil keputusan dalam situasi kurangnya dukungan atas Ahok. Sederhana, Ahok harus sowan ke DPD PDIP agar video ‘Ahok pasti tumbang’ benar-benar menjadi nyata.
(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)