Meminta Maaf Sebelum Ramadhan

http://aritunsa.com

Tadi malam pemerintah melalui kementrian agama telah melakukan konferensi pers mengenai hasil pemantauan hilal untuk penentuan awal ramadhan tahun ini. Dari hasil konferensi pers ditetapkan bahwa hari itu hilal belum terlihat sehingga awal ramadhan dimulai dengan menggenapkan 30 hari bulan sya’ban, alias hari ini (besok). Jadi tanpa ragu saya katakan puasa ramadhan dimulai esok hari, nanti malam sudah masuk tanggal 1 ramadhan.

Sebelum ramadhan dimulai sudah umum kita ketahui bahwa banyak diantara kita yang tiba-tiba meminta maaf dan saling memaafkan. Tradisi meminta maaf ini sepertinya baru muncul beberapa kali lebaran lalu. Mungkin karena perkembangan teknologi yang semakin maju sehingga kata maaf sebelum ramadhan tersebar luar melalui media sosial dan akhirnya baru bisa saya ketahui 😀 Sependek pengetahuan saya saling maaf memaafkan itu dulu terjadi ketika lebaran.

Nah, pertanyaannya adalah apakah sebenarnya anjuran untuk meminta maaf sebelum ramadhan itu memang dianjurkan? atau semacam sunnah gitu atau bagaimana.

Adakah Syari’at Meminta Maaf (khusus) Sebelum Ramadhan

Ada yang pernah mengatakan bahwa meminta maaf sebelum ramadhan itu dianjurkan dalam islam karena berdasarkan dengan dalil sebagai berikut:

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

Do’a Malaikat Jibril itu adalah:
“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;
3) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Sangat penting diketahui bahwa biasanya orang yang mengatakan dalil tersebut tidak menyebutkan riwayat siapa hadits itu. Karena memang kalimat yang agak panjang itu bukan hadits. Sehingga orang yang mengamalkan berdasarkan perkataan tadi dan diyakini sebagai hadits berarti telah berdusta atas nama Rasulullah.

Memang ada hadits yang hampir mirip, akan tetapi berbeda redaksinya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad yang artinya:

Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.

Hadits ini dishahihkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/114, 406, 407, 3/295), juga oleh Adz Dzahabi dalam Al Madzhab (4/1682), dihasankan oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (8/142), juga oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Al Qaulul Badi‘ (212), juga oleh Al Albani di Shahih At Targhib(1679)

Jika ditelisik kedua hadits tersebut sangat berbeda. Sudah bisa disimpulkan bahwa meminta maaf sebelum ramadhan berdasarkan pada dalil pertama yang tidak jelas periwayatannya, sehingga tidak benar. Akan tetapi meminta maaf secara umum (tidak dalam event tertentu) itu dianjurkan bahkan disyari’atkan berdasarkan hadits-hadits yang masyhur.

Meminta Maaf Disyari’atkan Dalam Islam

Syari’at meminta maaf secara umum berdasarkan hadits shahih berikut”

Orang yang pernah menzalimi saudaranya dalam hal apa pun, maka hari ini ia wajib meminta agar perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari saat tidak ada ada dinar dan dirham, karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal saleh maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Dari hadits di atas menjelaskan dianjurkannya meminta maaf kepada orang yang kita dzalimi, bukan kepada siapapun orang yang kita temui. Bahkan sekarang disebarkan melalui media sosial yang belum tentu kita mengenal orang tersebut 😀 Perbuatan minta maaf kepada siapapun tanpa sebab bisa menjerumuskan kita pada sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Generasi umat (shalih) terdahulu juga tidak pernah mencontohkan.

Adab-Adab Maaf dan Memaafkan

1. Bersegera meminta maaf setelah melakukan kesalahan

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali ‘Imran: 133-134)

2. Tidak membalas kesalahan orang yang telah meminta maaf

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)

3. Permintaan maaf dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi lagi

Yang penting kita sudah terlebih dahulu mempunyai keinginan tidak melakukan lagi. Perkara suatu hari nanti berbuat kesalahan terhadap orang yang sama itu karena kita manusia biasa, tak luput dari salah dan dosa. Dan harus diingat, jika berbuat salah lagi kembali ke poin 1

4. Meminta maaf secara spesifik menyebutkan kesalahannya

Misalnya kita berbuat salah kepada seseorang karena telah beberapa kali menggunjingnya, maka sampaikan kesalahan kita saat meminta maaf kepada orang tersebut. Dengan menyebutkan kesalahan maka orang yang dimintai maaf akan benar-benar mengetahui dan akan memaafkan secara lapang. Jangan hanya mengucapkan, “Mohon maaf lahir batin ya”. Pertama hal itu tidak menunjukkan keseriusan kita meminta maaf kepada orang tersebut. Kedua, orang yang dimintai maaf tidak tahu kesalahan apa yang harus dimaafkan sehingga kesalahan tersebut yang mengendap dalam hati akan muncul kembali.

5. Membayarnya jika kesalahannya berkaitan dengan hutang-piutang

Misalnya kita punya hutang kepada si A, kemudian karena malu belum bisa membayar setelah jatuh tempo kita selalu menghindar dari si A. Suatu saat kita menyadari bahwa perbuatan seperti itu termasuk dosa maka dari itu kita segera meminta maaf kepada si A. Setelah si A memaafkan bukan lantas hutang kita padanya hilang begitu saja, kita harus membayarnya terlebih dahulu, kecuali si A mengikhlaskan.

Kesimpulan:

Meminta maaf dan memaafkan merupakan suatu perbuatan yang mulia dan dianjurkan syariat berdasarkan hadits-hadits di atas. Akan tetapi meminta maaf dalam hal-hal yang dikhususkan itu tidak ada dalil. Jika dilakukan secara terus menerus dikhawatirkan akan menjadi tradisi yang dianggap ibadah “wajib” sebelum ramadhan oleh anak cucu kita kelak.

Terakhir saya juga mohon maaf apabila dalam tulisan terdapat kesalahan. Saya hanya manusia biasa yang juga tak luput dari salah dan dosa. Yang penting niat kita untuk mencari hal-hal yang benar, bukan sekedar tradisi. Idealnya lagi meminta maaf haruslah tulus bukan sekedar basa-basi saja karena ikut-ikutan orang mengucapkan itu. Baik melalui perkataan langsung, sms, maupun update status :mrgreen: