BEST PROFIT FUTURES – Dalam sebuah perusahaan yang berbagai prosesnya menggunakan sistem Teknologi Informasi (TI) untuk menjalankan aktifitas, biasanya proses manajemen resiko yang diambil pun dikelola dan dibuat oleh staf TI perusahaan tersebut. Sering kita lihat sebuah perusahaan berjalan dengan sistem yang rumit untuk memudahkan pekerjaan semua orang, namun atasannya sendiri cenderung tidak mau tahu tentang berbagai proses yang terjadi dalam sistem TI dan bahkan sering menganggap enteng dengan menyerahkan semua urusan pada staf TI.

Akibatnya, ketika suatu permasalahan terjadi, pengusaha cenderung hanya bisa menyalahkan orang TI, padahal pengawasan suatu sistem bisnis tidak hanya melulu tanggung jawab staf TI yang mengelola sistem bisnis. Sebuah bisnis dijalankan tak hanya oleh sistem, namun juga oleh manusianya yang merupakan otak dari bisnis, sehingga seharusnya atasan dan para pengelola perusahaan di tingkat manajerial pun harus ikut memahami prinsip pengelolaan dan manajemen resiko yang dilakukan oleh staf TI.Pemahaman akan faktor resiko lewat sudut pandang orang TI pun kini menjadi tren baru tindakan manajemen resiko yang wajib dilakukan para pengusaha.

 

Mengapa Faktor Manusia Penting untuk Mendukung Fungsi TI

Manajemen resiko sebenarnya adalah rangkaian dari tindakan yang ditujukan sebagai sarana mengurangi faktor resiko yang akan muncul di setiap aspek dalam bisnis. Saat ini, teknologi pengelolaan bisnis memang dirancang untuk bisa membantu sebagian besar tugas-tugas dalam bisnis sekaligus memberikan solusi pengelolaan resiko berupa sistem keamanan dalam bisnis. Akan tetapi, teknologi itu sendiri merupakan sebuah alat yang dirancang untuk mendukung pekerjaan para pelaku bisnis, bukan 100 persen menggantikannya.

Teknologi pengelolaan sistem bisnis yang dijalankan bagian TI sebenarnya hanyalah kemajuan dari proses yang dulu dikerjakan secara manual oleh para karyawan dan manajer. Dengan kata lain, prinsip bisnis yang disusun dan ditetapkan pelaku bisnis masih diterapkan. Hal inilah yang membuat sistem TI sebaiknya tidak diabaikan oleh pemilik perusahaan serta pengambil keputusan di tingkat eksekutif.

 

Pentingnya Komunikasi antar Pengusaha dan Staf TI

Ambil contoh sistem perangkat lunak HR yang mencatat kinerja karyawan, waktu kerja serta ketentuan penerimaan gaji dan tunjangannya. Dalam sistem ini, sistem otomatis mencatat hal-hal seperti data absensi, laporan sakit dan ijin karyawan, masa kerja serta laporan pelanggaran yang mungkin telah dilakukannya. Lalu, sistem akan mengolah semua data ini dan memberikan hasil akhir berupa performa masing-masing karyawan serta dasar perhitungan gaji dan tunjangannya.

Dalam sistem ini, manajemen resiko untuk mencegah penyalahgunaan data ada dua jenis; yang pertama dari segi pengelolaan sistem perangkat lunak tersebut, dan yang kedua dari segi alur pelaksanaan pelaporan kinerja karyawan terkait penggajian dan hak akan tunjangan. Jadi, masing-masing pihak (staf TI dan pengusaha) harus paham bagaimana cara memahami permasalahan dari sudut pandang masing-masing pihak, yang menggunakan bahasa berbeda untuk menangani hal yang sama.

Pihak TI harus bisa mengkomunikasikan masalah yang terjadi dalam sistem dengan bahasa yang lebih mudah dipahami si pemilik usaha yaitu bahasa bisnis. Sebaliknya, pengusaha pun harus tahu paling tidak sistem dasar yang digunakan untuk mengurus alur pengelolaan aspek bisnis tertentu lewat perangkat lunak.

Jika masing-masing pihak bisa berkomunikasi, maka tiap indikasi resiko seperti kerusakan sistem dan penyalahgunaan data dapat dianalisis dengan cepat dan lebih akurat menggunakan dua sudut pandang sekaligus, yaitu sudut pandang pengelola teknologi dan sudut pandang pelaku bisnis serta pengambil keputusan. Langkah manajemen resiko yang diambil pun akan lebih akurat, menyeluruh dan tepat sasaran.