http://www.indopos.co.id

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 bisa mencapai 5,4 persen. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hendar, sikap optimistis didasarkan pada perekonomian Indonesia tahun depan masih cukup solid.

Hendar menyatakan, Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diharapkan dapat mendorong perbaikan, jika memang direalokasikan pada sektor produktif.Perkiraan inflasi masih akan terimbas kenaikan harga BBM bersubsidi, meski akan bersifat sementara waktu (temporer).

“Mungkin dalam bulan Februari 2015 itu sudah berada dalam keadaan stabil, kita memastikan bahwa Produk Domestik Bruto 2015 akan berada dalam kisaran 5,4 persen,” imbuh Hendar dalam “Seminar Nasional Outlook Ekonomi Indonesia 2015″, Kamis (4/12). Sementara itu Hendar menambahkan, perekonomian global tahun 2015 juga makin membaik, dia juga memperkirakan dampak dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi hingga akhir tahun ini di rentang 7,7-8,1 persen.

Meski demikian, kabar baik dari gejolak harga minyak dunia yang sudah di bawah 70 dollar AS per barel. Penurunan harga minyak dunia ditambah dengan permintaan yang berkurang akibat kenaikan harga BBM, akan mengurangi impor migas.

Terakhir dikatakan oleh Hendra, Indonesia merupakan negara importir netto minyak. “Berarti setiap penurunan harga minyak, memberikan dampak positif buat neraca pembayaran.

Kita mungkin setiap 1 dollar AS (turun) mungkin akan memperbaiki Current Account Defisit (CAD) kita di kisaran 170 juta dollar AS,” ucap Hendar.

Sebagai Informasi, fakfor yang perlu diwaspadai untuk ekonomi 2015. Pertama, kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed yang bisa memicu arus modal keluar.

Kedua, trend perlambatan pertumbuhan di China yang memicu pelemahan ekonomi di Indonesia. Ketiga, tingkat utang luar negeri (ULN) korporasi yang besar.(cr-05)

– See more at: http://www.indopos.co.id/2014/12/masalah-ekonomi-indonesia-ditahun-2015-versi-bi.html#sthash.NqXVjDdi.dpuf