Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari tempo.co

best profit 162Utang sejumlah perusahaan swasta bakal membengkak akibat melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS. Ekonom Bank central Asia, David Sumual mengatakan, membengkaknya utang akan menyebabkan pendapatan perusahaan tergerus. “Pendapatan perusahaan bisa tinggi tapi pembayaran bayar utangnya yang besar dengan dollar,” ujar dia ketika dihubungi Tempo, Kamis, 17 Juli 2014.

 

Menurut dia, banyak perusahaan yang meminjam uang ketika kurs rupiah pada kisaran di bawah 10 ribu per dolar AS. Namun dengan kurs saat ini yang hampir menyentuh 12.000 per dolar, membuat kinerja perusahaan akan terbebani karena sehingga membuat laba perusahaan tergerus. Ini antara lain disebabkan tak banyak perusahaan yang melakukan lindung nilai atau hedging. (baca : Utang Luar Negeri Naik, BI Dorong Hedging)

 

Saat ditemui di kesempatan berbeda, Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Hendy Sulistiowati mengatakan utang luar negeri Indonesia pada Mei 2014 naik US$ 7,1 miliar dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 283,7 miliar. Pada April 2014, utang luar negeri tercatat sebesar US$ 276,6 miliar. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, utang luar negeri tumbuh 9,7 persen.

 

Dari jumlah tersebut, kata Hendy, utang swasta adalah sebesar US$ 151,5 miliar, naik dibandingkan April sebesar US$ 145,6 miliar. Utang publik juga melonjak menjadi US$ 132,2 miliar, dibandingkan April sebesar US$ 131 miliar. “Publik maupun swasta sama-sama bertanggung jawab atas kenaikan utang,” kata Hendy. (baca : Rupiah Tembus 12 Ribu per Dolar AS, Apa Sebabnya?)

 

Kenaikan utang swasta ini, menurut Hendy, cukup besar. Peningkatan utang luar negeri antara lain untuk utang jangka panjang 10,1 persen. Adapun jangka pendek tercatat naik 8,3 persen di Mei. Utang jangka pendek, antara lain digunakan untuk membiayai impor minyak.

 

Berdasarkan jenis jangka waktu utang tercatat utang jangka panjang sebesar US$ 234 miliar, dengan pembagian utang jangka panjang pemerintah sebesar US$ 125 miliar dan utang jangka panjang swasta sebesar US$ 109 miliar. Ia mengatakan utang luar negeri swasta pada Mei didorong oleh peningkatan pertumbuhan utang luar negeri sektor industri keuangan, listrik, gas dan air bersih.

 

HERMAWAN SETYANTO | MAYA NAWANGWULAN