Bestprofit Futures Jakarta

Sebuah pameran seni diadakan di Grand City Mall, Surabaya pada Senin (30/5). Pameran bertajuk kreativitas tanpa batas ini diisi dengan berbagai karya seni mulai dari lukisan, gambar, cerpen dan seni instalasi.

Menurut Brand Manager FCII, Fransiska Remila, seni instalasi yang dipamerkan merupakan karya seniman Jerman, Kerstin Schulz. Seniman itu menyusun 5 ribu batang pensil untuk dijadikan sebuah gaun pesta. Tak hanya menggunakan batang pensil yang sudah diserut, Kerstin juga memanfaatkan kayu, kawat dan gantungan busana.

“Kami juga turut memamerkan seni instalasi karya Kerstin Schulz,” ujar Fransiska dilansir Tribunnews. “Indonesia merupakan negara ketiga di Asia yang memajang karya seniman asal Jerman tersebut.”

Fransiska menyebut pameran ini sebagai bentuk apresiasi kepada semua karya yang dikumpulkan dari berbagai kegiatan seni yang pernah digelar oleh FCII. Hasil kreasi para seniman yang terpilih menjadi juara ini dipamerkan di beberapa kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Medan.

Selain itu, pameran ini juga menghadirkan instalasi berupa replika wajah Mona Lisa yang misterius, replika kapal Pinisi dan karya seni lainnya. Pameran ini akan berlangsung hingga 5 Juni mendatang.

Faber-Castell salah satu produsen alat tulis terbesar dan tertua di dunia, menggelar pameran seni bertajuk ‘Kreativitas Tanpa Batas’. Pameran ini digelar di lantai dasar Cambridge City Square, Jalan S Parman Medan, yang berlangsung selama 6 hari, 5-11 September 2016

Pada pameran seni ini, menampilkan berbagai hasil karya anak bangsa dari dalam maupun luar negeri. Salah satu yang paling menarik adalah, gaun pesta yang dibuat dari 5.000 batang pensil Faber-Castell.

Gaun pesta tersebut merupakan replika, yang memiliki ukuran 170 cm x 100 cm x 140 cm. Hasil karya seni itu merupakan buah kreativitas seniman asal Jerman, Kerstin Schulz. Dipajang di tengah-tengah hasil karya seni lainnya, replika gaun berwarna hijau tersebut berputar otomatis guna menarik pengunjung yang datang.

Brand Manager Faber-Castell International Indonesia, Fransiska Remila mengungkapkan, pembuatan gaun pesta dari batang pensil tersebut membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Pensil yang digunakan pun merupakan tipe Castell 9.000. Sebagai perekatnya, menggunakan lem dan kawat.

Menurut Fransiska, pensil yang diubah menjadi sebuah gaun ini memberikan nuansa yang berbeda pada seisi ruangan. Bahkan, memberikan juga intepretasi yang unik bagi setiap pengagumnya. Wanita yang melihat gaun ini akan berimajinasi atau membayangkan dirinya berdansa dengan elegan.

“Hasil karya seniman asal Jerman tersebut, inspirasinya sangat indah. Kita tidak terpikir dari pensil bisa menjadi gaun. Sebab, kita tidak ada mengatur atau mengitervensi dia untuk membuat suatu karya seni tertentu. Jadi, karya itu merupakan orisinil dan lahir dari ide kreativitasnya,” ungkap Fransiska di sela-sela pameran, Senin (5/9/2016).

Diutarakan Fransiska, kenapa sang seniman membuat gaun pesta dari pensil? Mungkin, karena budaya di Jerman. Karena, ketika gadis sedang mencari jodoh, terlebih dahulu harus memiliki gaun yang indah. Gaun tersebut juga harus bisa digunakan untuk berdansa.

“Kita patut berbangga karena Indonesia merupakan negara ketiga di Asia yang mendapat kesempatan untuk memamerkannya, setelah Jepang dan Singapura. Sebab, negara di Eropa belum mendapat kesempatan. Selanjutnya, usai pameran ini digelar karya seni itu akan dibawa ke Hongkong guna dipamerkan kembali,” katanya.

Dia menyebutkan, dalam membawa gaun pesta dari pensil ini bukan perkara mudah. Sebab, harus dipersiapkan agar tidak rusak sedikitpun. “Kita harus packing secara sempurna untuk membawanya menggunakan pesawat. Diletakkan dalam sebuah peti yang tahan guncangan, sehingga gaun itu tidak bergerak,” sebutnya.

Dia menuturkan, dengan menampilkan hasil karya Kerstin Schulz ini, diharapkan ke depannya ada karya dari anak bangsa lahir. Karya itu juga mengajarkan bahwa barang-barang di sekitar kehidupan bisa dibuat menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.

“Perkembangan di negara maju saat ini menunjukkan proses kreatif telah berubah menjadi karya nyata (creative thinking to creative making). Kreativitas bukan lagi diukur dari ide, tetapi karya atau produk secara nyata. Mudah-mudahan, akan lahir karya yang membanggakan bangsa kita,” cetusnya.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)