1650249kamera-ponsel-dual-pixel780x390

PT BESTPROFIT FUTURES, Banyak momen spesial terlewat rekam kamera karena terjadi begitu cepat. Contohlah, ketika sedang menikmati konser musik band kesayangan, ada saja aksi panggung yang mereka dilakukan.

Sebagai penggemar berat, tangan biasanya gatal ingin segera mengabadikannya. Namun sayang, kecepatan kamera mengambil fokus sering jadi kendala. Hasilnya, hampir sepanjang pagelaran konser, kita malah sibuk menjepret kamera karena tak kunjung mendapat hasil gambar jernih.

Terlebih lagi, kondisi saat konser biasa minim cahaya sehingga pengambilan fokus makin sulit didapat. Sudah gambar buram, momen spesial terlewat dinikmati pula.

Lalu, kenapa kamera sering kali “gagal fokus”? Untuk menjawabnya, mari kita ulik cara kerja kamera mengambil fokus.

Sistem autofocus (AF)

Kebanyakan kamera—ponsel, DSLR, atau mirrorless—mengandalkan sistem passive autofocus dengan cara melakukan analisis pasif dari gambar yang masuk ke optik kamera. Setidaknya sistem ini punya dua cara deteksi fokus, yaitu phase detection dan contrast detection.

Secara sederhana, cara kerja phase detection mirip mata manusia. Jika kita menutup mata kanan, misalnya, penglihatan jadi buram sejenak karena mata kiri butuh waktu lebih lama mengambil fokus. Begitu pun sebaliknya. Pandangan akan terlihat fokus ketika kita menggunakan dua mata.

Nah, phase detection juga sama. Sistem ini memadukan dua gambar yang terlihat dari sisi kanan dan kiri lensa lalu mengukur jarak antar keduanya untuk menentukan fokus. Lensa akan terus bergerak sampai jarak kedua gambar mendekati titik nol dan fokus tercapai. Kecepatan mengambil fokus bergantung dari jumlah titik phase detection yang ditempelkan.

Lain lagi dengan contrast detection. Proses mengambil fokus memakan waktu lebih lama karena hanya mengandalkan perbedaan kontras pada gambar. Sensor tidak mampu mengukur jarak antar objek sehingga kamera harus terus berganti fokus sampai kontras antar-piksel mencapai tingkat “ideal”.

Karena alasan itu, phase detection lebih diunggulkan untuk spesifikasi kamera. Namun, masih ada permasalahan yang mengganjal.

Banyak kamera hanya memasang beberapa titik phase detection—biasanya lebih kurang 5 persen saja—pada sensor, sehingga pengambilan fokus memakan waktu cukup lama. Jadilah masalah “gagal fokus” masih terjadi, terutama jika mengambil foto dalam kondisi gelap.

“Dual Pixel”

Sebagai solusi, beberapa jenis kamera DSLR dan mirrorless kini mulai mengaplikasikan teknologi dual pixel AF.

Perubahan yang dilakukan sebenarnya tak banyak, hanya menambah jumlah titik phase detection pada sensor kamera. Tapi jangan salah, hasil gambar berubah luar biasa karena sensor bisa melakukan fokus super cepat.

Contoh, ketika Anda tiba-tiba ingin mengambil gambar dari objek lebih jauh, kamera bisa langsung menyesuaikan fokus. Jika beberapa detik kemudian Anda mengganti ke obyek lebih dekat, sensor dengan cekatan mengubah fokus lagi.

Namun, menjinjing kamera—apalagi yang berukuran besar—ke mana-mana memang terasa kurang ringkas. Kejadian menarik bisa terjadi kapan saja dan belum tentu saat itu kita sedang membawa kamera.

Untung saja, untuk pertama kalinya, teknologi dual pixel AF berhasil diaplikasikan pada kamera ponsel, yaitu pada Samsung Galaxy S7 Edge.

Seluruh piksel pada smartphone keluaran baru itu dipasangi phase detection untuk mata kiri dan kanan. Jika dibandingkan dengan pendahulunya, Samsung Galaxy S7 Edge bisa melakukan fokus gambar (AF speed) 0,65 detik lebih cepat.

Bahkan, berkat bukaan lensa cukup besar, yakni f /1,7, hasil foto di tempat minim cahaya terlihat 95 persen lebih terang. Pengambilan fokus empat kali lebih cepat pula ketimbang Samsung Galaxy S6 Edge.

Jadi, Anda tak perlu khawatir hasil foto “gagal fokus”! PT BESTPROFIT FUTURES

Sumber : kompas