Jokowi Akan Bertolak ke Korsel, RI Bidik Kerja Sama Ekonomi USD 1 Miliar

PT Bestprofit Futures,  Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan bertolak ke Seoul, Korea Selatan sebagai kunjungan kenegaraan balasan kepada Presiden Moon Jae-in yang bertandang ke Indonesia tahun lalu.

Kunjungan Jokowi didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada 10-11 September mendatang.

Kunjungan kali ini juga terbilang cukup spesial karena bersamaan dengan hari peringatan hubungan diplomatik Korsel dengan Indonesia. Di hari peringatan itu, kedua negara sepakat untuk melakukan penguatan kerja sama ekonomi di bidang perdagangan dan investasi melalui berbagai aspek.

 

Ada dua agenda yang akan dipenuhi oleh Jokowi dalam kunjungan kenegaraan pekan depan, yakni pertemuan bilateral dengan Presiden Moon dan juga pertemuan bisnis dengan konglomerat atau pengusaha Korsel. Selain itu, Jokowi juga akan menandatangani beberapa MoU dengan Korsel.

“Beberapa MoU kerjasama yang akan ditandatangani antara lain di bidang legislasi, keimigrasian, ekonomi, pengembangan SDM, keamanan maritim, dan lingkungan hidup,” kata Direktur Asia Timur dan Pasifik, Edi Yusup, saat menggelar jumpa pers di Kementerian Luar Negeri Jakarta Pusat, Kamis (6/9/2018).

“Di pertemuan business to business dengan pengusaha, ada 10 MoU yang akan ditandatangani mulai dari bidang otomotif, energi, transportasi, dan infrastruktur. Diharapkan, para pengusaha ini bisa menambah pemasukan untuk Indonesia sebesar USD 1 miliar,” tambah dia.

Edi menjelaskan bahwa beberapa perusahaan yang akan terlibat investasi di Indonesia antara lain POSCO, Lotte, sampai Hyundai.

“Perusahaan POSCO rencananya akan mengembangkan besi baja dengan Krakatau di Cilegon. Kerja sama ini akan membantu kita dalam proses pengembangan industrialisasi. Lalu perusahaan Lotte akan membangun petrochemical di Cilegon juga. Jika berhasil maka ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Selain itu di bidang otomotif ada Hyundai,” papar Edi.

Usai memenuhi dua agenda, Jokowi akan mengisi agenda santai seperti membawakan kuliah umum di Universitas Hankuk dan menggelar perkumpulan dengan generasi muda Korsel dan juga pemuda Indonesia yang menjadi pelajar dan bekerja di negara tersebut.

 

Presiden RI Joko Widodo akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Seoul, untuk bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in pada 10-11 September 2018 mendatang –sebuah lawatan yang dideskripsikan oleh Kementerian Luar Negeri RI sebagai “upaya penguatan hubungan ekonomi kedua negara di tengah situasi global yang tak menentu”.

Pendeskripsian itu merujuk pada perang dagang Amerika Serikat dengan China, yang turut memberikan dampak ekonomi yang signifikan kepada sejumlah negara dunia serta Asia. Termasuk juga, melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS.

“Kunjungan itu dilakukan untuk penguatan ekonomi (RI-Korsel) di tengah situasi global yang tak menentu, lewat peningkatan perdagangan dan investasi, serta percepatan industrialisasi Korea Selatan di Indonesia,” kata Direktur Asia Pasifik Kemlu RI, Edi Yusup di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Kunjungan kenegaraan itu akan menghasilkan 10 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) kerja sama antar bisnis RI-Korsel, yang diharapkan secara signifikan mampu menggenjot hubungan ekonomi kedua negara, serta memperkuat geliat perdagangan guna menutup defisit neraca.

“Akan ada penandatanganan 10 nota kesepahaman bisnis dengan bisnis di sektor otomotif, energi, transportasi, dan infrastruktur dengan prospek nilai di atas US$ 1 miliar,” tambah Edi.

Jokowi juga akan mengejar peningkatan nilai investasi Korea Selatan ke Indonesia. Negeri Ginseng sendiri saat ini merupakan negara terbesar keempat bagi Indonesia, yang menanam investasi senilai US$ 2,2 miliar.

“Nilai investasi ini diperkirakan akan meningkat lagi,” tambah Edi.

Menambahkan tentang prospek percepatan industrialisasi industri Korea Selatan di Indonesia, Edi Yusup mengatakan bahwa pemerintah akan mengejar penyegeraan realisasi berbagai proyek, meliputi: proyek kerja sama POSCO Steel dan Krakatau Steel untuk meningkatkan produksi baja hingga mencapai satu juta ton per tahun; proyek pembangunan pabrik Lotte Petrochemical di Cilegon yang akan menjadi yang “terbesar di Asia Tenggara”; pembangunan pabrik otomotif Hyundai; dan pengembangan infrastruktur LRT (Light Rapid Transit), energi, dan pembangkit listrik.

Selain itu, ketika ditanya apakah kedua presiden akan membentuk kerja sama untuk meminimalisir dampak perang dagang antara AS dan China yang disebut oleh Jokowi sebagai “penyebab rupiah melemah terhadap dollar”, Edi Yusup mengatakan, “prospeknya adalah agar RI-Korsel melakukannya secara multilateralisme … dengan mempercepat penyelesaian mekanisme Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).”

Perundingan RCEP diluncurkan oleh para pemimpin dari 10 negara anggota ASEAN dan enam mitra Free Trade Area ASEAN (Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru) selama KTT ASEAN ke-21 dan Pertemuan Terkait di Phnom Penh, Kamboja pada November 2012. Namun, perundingan itu belum terimplementasi secara penuh, mengingat alotnya negosiasi antara masing-masing negara seputar perjanjian perdagangan.

Tujuan dari peluncuran negosiasi RCEP adalah untuk mencapai perjanjian kemitraan ekonomi yang modern, komprehensif, berkualitas tinggi, dan saling menguntungkan di antara Negara Anggota ASEAN dan mitra FTA ASEAN.

Negosiasi RCEP meliputi: perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, kerjasama ekonomi dan teknis, kekayaan intelektual, persaingan, penyelesaian sengketa, e-commerce, usaha kecil dan menengah (UKM) dan isu-isu lainnya.

best jakarta, profit jakarta, futures jakarta, bpf jakarta, bestprofit jakarta, best profit,
best profit futures jakarta, pt bestprofit, pt best profit, PT Bestprofit Futures, pt best profit futures jakarta