PT Bestprofit Futures, Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan saham Rabu ini meskipun di awal perdagangan mampu menghijau. Investor asing terlihat melakukan aksi lepas saham.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (12/9/2018), IHSG melemah 32,96 poin atau 0,57 persen ke posisi 5.798,15. Indeks saham LQ45 juga melemah 1,19 persen ke posisi 910,78. Sebagian besar indeks saham acuan memerah. Hanya satu yang mampu menghijau yaitu Pefindo25.

Sebanyak 207 saham menguat tetapi tak mampu mengangkat IHSG. Sementara 180 saham tertekan dan menjadi pemberat gerak IHSG. Adapun 114 saham diam di tempat. Adapun hari ini, IHSG berada di posisi tertinggi 5.870,59 dan terendah 5.798,15.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 374.663 kali dengan volume perdagangan saham 9,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,7 triliun.

Investor asing jual saham Rp 495 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.848.

Sebagian besar sektor saham memerah kecuali sektor saham perkebunan yang naik 2,12 persen, sektor pertambangan melonjak 1,02 persen dan sektor barang konsumsi menguat 0,49 persen.

Sementara sektor saham keuangan melemah 1,99 persen dan mencatatkan pelemahan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar melemah 1,13 persen dan sektor saham aneka industri 0,45 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham BCAP naik 34,38 persen ke posisi 258 per saham, saham ABBA melonjak 34,33 persen ke posisi 90 per saham, dan saham MITI mendaki 31,94 persen ke posisi 95 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang tertekan antara lain NIPS turun 21,08 persen ke posisi 352 per saham, saham AIMS tergelincir 20,45 persen ke posisi 175 per saham, dan saham HDTX susut 17,31 persen ke posisi 172 per saham.

Pelemahan IHSG ini sudah diperkirakan oleh analis. Tim riset PT Valbury Capital Management mengatakan, volatilitas nilai tukar rupiah masih menjadi sentimen signifikan bagi laju IHSG.

Fund Manager PT Valbury Capital Management Suryo Narpati menjelaskan, sentimen eksternal perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus menuai kekhawatiran pasar. Itu terutama atas kemungkinan kebijakan kenaikan tarif impor AS pada China.

“Pasar tentu cemas pada setiap kewajiban baru AS atas impor China yang akan menandai ekskalasi besar bagi perselisihan perdagangan bagi kedua belah pihak. Jadi sentimen luar negeri saya pikir masih mempengaruhi IHSG,” tuturnya saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (11/9/2018).

Suryo menambahkan, ketidakpastian global memicu kepanikan pasar. “Tren mayoritas untuk perdagangan pada hari ini akan ditutup negatif,” ujarnya.