http://bisnis.news.viva.co.id

Uang identik dengan kekuasaan.

Bestprofit Futures Jakarta

VIVA.co.id – Uang identik dengan kekuasaan, namun kebanyakan orang Indonesia tidak memahami secara detail azas kekuasaan yang berkaitan dengan sifat uang.

Uang dan kekuasaan tidak berdasar pada azas keadilan. Bila Anda baik, aku pun baik. Namun, bila kamu jahat, aku pun lebih jahat lagi.

Kalau prinsip ini diterapkan, maka lama-kelamaan pintu rezeki tertutup, tinggal satu mungkin, istri Anda saja yang sabar menuruti anda.

Uang dan kekuasaan berdasar pada azas iba. Ya, karena kekuasaan bersifat menolong solusi masalah orang lain.

Jadi kita tidak akan mampu melihat masalah orang lain, karena tertutup oleh masalah diri kita sendiri. Kita melihat orang keren, lalu kita membayangkan seandainya kita punya jam tangan dia, dan lain-lain. Kita salah fokus pada keinginan diri sendiri, sehingga kesempatan lewat.

Uang dan kekuasaan berdasar azas mengabulkan. Azas mengampuni. Sering orang bersikap egois.

Saya pernah konsultasi dengan senior, karena ada orang yang tidak ingat budi baik. Malah air susu dibalas air tuba. Kata senior saya, “oh yang begitu banyak ada jutaan orang, cuekin aja”.

Uang dan kekuasaan bukan berdasar adu kuat. Bila kita selamanya menggunakan adu kuat, kadang menang, namun pasti ujungnya kalah. Tidak mungkin kita memaksakan dunia. Bisa stres dan post power syndrome (sindrom usai pensiun).

Uang dan kekuasaan berazas keikhlasan, karena survei membuktikan semuanya uang di muka Bumi adalah pemberian orang lain. Tidak mungkin bank salah rekening, atau salah transfer.

Maksudnya petunjuk bila ingin rezeki terbuka harus berserah kepada Tuhan adalah supaya kita kembali kepada sumber kebaikan absolut. Karena azas kebaikan membuka pintu rezeki kita.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)