Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari viva.co.id

best profit 1zSingapura dikenal dengan julukan Macan Asia, karena memiliki pendapatan tinggi dan terkaya di Asia. Ekonomi Negeri Singa Putih ini sangat ramah dengan bisnis dan dianggap yang terbaik sebagai pusat keuangan. Lalu, apa sebenarnya rahasia di balik kesuksesan Singapura?

 

Dikutip dari laman Forbes, Rabu 13 Agustus 2014, ekonom asal Belanda, Albert Winsemius, tiba di Singapura pada 1960, saat ditugaskan oleh PBB untuk menyelamatkan ekonomi Singapura, yang saat itu dikenal dengan sebutan “pulau berjuang”.

 

Winsemius sangat murung melihat kondisi Singapura saat itu dan berkomentar terkait Singapura “Singapura merupakan pasar kecil malang di sudut gelap Asia”.

 

Namun, lebih dari lima dekade kemudian, Singapura membuka mata dunia, tidak lagi menjadi negara miskin dan memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita terbesar ketujuh di dunia. Selain itu, satu dari enam keluarga di Singapura memiliki tabungan sebesar US$1 juta.

 

Dalam dekade terakhir saja, jumlah penduduk Singapura yang menjalankan bisnis mereka sendiri meningkat dua kali lipat. Singapura kini menjadi negara dengan jumlah pengusaha terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.

 

Wirausaha di Singapura begitu menjamur. Pemerintah negara itu pun sangat ramah bisnis dan membuat suasana yang kondusif. Para entrepreneur pemula yang tidak memiliki cukup modal mendapatkan dukungan pembiayaan dari pemerintah dan hibah, atau acara komunitas.

 

Negara ini telah berkembang begitu cepat menjadi hub Asia terkemuka untuk inovasi, teknologi, dan kewirausahaan.

 

Dari kota pelabuhan menjadi hub wirausaha

 

Pemerintah Singapura yang dikenal sangat ramah dengan berbagai bisnis di negaranya sering dikreditkan dengan kesuksesan letak geografis negara itu.

 

Singapura sejak dulu memang dikenal sebagai kota pelabuhan. Pada 1823, Sir Thomas Stamford Raffles, yang digambarkan sebagai “Bapak Singapura” secara resmi menyatakan bahwa Singapura sebagai pelabuhan yang bebas dan terbuka.

 

Dalam laporannya kepada pemerintah Bengal, ia menulis “Saya telah menyatakan bahwa Singapura adalah pelabuhan bebas dan terbuka untuk kapal setiap bangsa, bebas pajak, dan sejenisnya.”

 

Seperti kota pelabuhan besar di dunia –London, New York, Shanghai– Singapura juga memiliki daratan yang kaya sumber daya, yakni menjadi rute pelayaran global.

 

Singapura terletak di pintu masuk selatan yang sempit untuk Selat Malaka dan dilindungi oleh kekuasaan Royal Navy. Sejak itu, Singapura mengajukan tawaran pertama sebagai kota pelabuhan global di tengah-tengah jadwal perdagangan yang sedang berkembang di pax Britannica.

 

Singapura mendapat keuntungan dari pengembangan Terusan Suez, karena pebisnis tidak puas dengan kekayaan yang dibawa oleh perdagangan luar negeri.

 

Pada abad ke-20 giliran pengusaha Singapura yang mengambil keuntungan karena lokasinya yang dekat dengan pedalaman Malaya yang kaya sumber daya, yakni investasi karet dan minyak bumi yang sangat menguntungkan.

 

Pemimpin bisnis Singapura bersatu dan berkomitmen untuk mewujudkan perdagangan bebas, dan pemerintah Singapura bertugas memaksimalkan peluang bisnis yang ada.

 

Bantuan investasi Inggris

 

Keberhasilan Singapura sebagai kota pelabuhan global dihentikan dengan adanya invasi Jepang pada 1942 yang kekurangan bahan makanan, inflasi tinggi, tenaga kerja budak, dan eksekusi massal.

 

Kemudian pada 1945, dengan bantuan investasi Inggris, Singapura membangun kembali pengaruhnya di Asia. Ekonomi negara ini kembali naik secara bertahap dengan tujuan menjadi titik fokus regional untuk maskapai penerbangan, telekomunikasi, dan distribusi surat elektronik, sebagai upaya untuk mendapatkan kembali posisinya sebagai pelabuhan yang penting antara Eropa dan Asia.

 

Sementara itu, Singapura berhasil membuat kemajuan nyata dalam dekade pertama setelah Perang Dunia II, perkembangan politik justru mengancam negara itu.

 

Saat Inggris memberikan kemerdekaan pada Singapura pada 1959, investor asing banyak keluar dari Singapura. Mereka tidak percaya pemerintah Singapura bisa menjaga stabilitas ekonomi.

 

Winsemius, ekonom Belanda yang diutus PBB itu kemudian merangkul pemerintah Singapura untuk menjalankan strategi pembangunan yang agresif.

 

WG Huff, sejarawan ekonomi menuliskan pembangunan ekonomi Singapura dengan pendekatan untuk merekrut perusahaan asing. “Ini menjadi pelajaran yang sangat penting bagi pemerintah yang dapat dikombinasikan dengan perdagangan bebas,” tuturnya.

 

Singapura tidak menghindari modal asing. Singapura menyambut mereka dengan konsesi pajak dan tarif impor sementara.

 

Pemikiran Singapura sederhana: perusahaan asing yang masuk ke negaranya akan membawa modal, teknologi, dan keterampilan, dan Singapura akan belajar dari itu semua. Pada akhirnya, mereka akan mampu mereplikasi praktik bisnis yang dibawa perusahaan asing ke Singapura.

 

Perkembangan terakhir, saat ini untuk merayu perusahaan teknologi, Singapura mengubah negaranya menjadi pusat inovasi Asia. Pemerintah Singapura tampaknya masih menjalankan strategi yang sama untuk menarik perusahaan asing masuk ke negaranya.

 

Namun, Singapura tidak hanya mengandalkan sepenuhnya dari investasi asing. Negara itu pada periode 2011-2015 menganggarkan dana mencapai Sin$16,2 miliar untuk penelitian, investasi, dan pengembangan perusahaan.

 

Meledaknya Singapura dengan berbagai kewirausahaan adalah buah karya kebijakan pemerintah yang menjunjung kehati-hatian.

 

Hasil nyatanya jelas terlihat, kini 21,4 persen penduduk Singapura menyatakan ingin berwirausaha dalam tiga tahun ke depan, hampir dua kali lipat angka pada 2006.

 

Meningkatnya jumlah wirausaha di Singapura itu juga sesuai dengan visi negaranya yang menginginkan agar wirausaha asal Singapura bisa menjangkau pasar global, dengan hampir setengah dari pelanggan bisnis tahap awal adalah konsumen asing. (art)