http://finance.detik.com

Jakarta -Industri pengeboran minyak dan pengerukan tambang serta mineral dianggap industri yang kotor, dan rawan aksi korupsi.

Lembaga Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan, industri pengerukan sumber daya alam atau ekstraktif, seperti minyak dan gas, adalah industri terkorup di dunia.

Sementara nomor 2 dan 3 adalah industri konstruksi dan transportasi.

Dilansir dari CNN Money, Rabu (3/12/2014), hasil kajian OECD ini diperoleh dari analisa 427 kasus suap di sektor bisnis internasional.

Sebanyak 2/3 dari kasus yang dianalisa tersebut menyangkut 4 industri, yaitu ekstraktif (19%), konstruksi (15%), transportasi dan pergudangan (15%), dan informasi-komunikasi (10%).

Kajian tersebut mengatakan, setengah dari kasus suap tersebut melibatkan eksekutif senior, sementara 12%-nya melibatkan chief executive officer (CEO). Bahkan mereka berani melakukan suap dengan tangannya sendiri.

Pegawai negeri dan pekerja BUMN menjadi sasaran dari target korupsi tersebut. Bahkan suap ini telah dijanjikan di awal dalam 80% kasus yang dikaji.

Tak sampai di situ, OECD menganalisa, politisi papan atas, menteri, sampai Direktur Utama sebuah BUMN juga terlibat dalam kasus suap dan korupsi. Pegawai bea cukai, serta bagian karantina juga jadi bagian.

Kemudian tidak mengejutkan juga, semakin tinggi jabatan orang yang disuap, semakin besar nilai suapnya. Dari kasus yang dikaji OECD, hanya 5% yang melibatkan kepala negara dan menteri.

Sementara pegawai bea cukai, menjadi target dari 11% kasus tersebut, namun nilai suapnya kecil. Kasus-kasus yang dikaji OECD ini telah menjalani vonis di pengadilan.