Bestprofit Futures Jakarta

Sengketa lahan Swiss German University (SGU) dengan PT Sinar Mas Land mencuri perhatian banyak kalangan setelah surat peringatan, PT Sinar Mas Land akan menyita lahan dan gedung perkuliahan milik SGU beredar di internet. Kini giliran mahasiswa SGU buka suata Bestprofit Futures Jakarta.

Menyusul keresahan itu, kini muncul curahan hati salah seorang pengguna internet yang mengaku bernama Putri sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Swiss German yang berada di Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Putri menyampaikan keresahan-keresahannya selama menjadi mahasiswa SGU.

“Keresahan saya semakin bertambah setelah menemukan banyak kejanggalan di SGU. Ternyata selain saya, teman-teman lainnya di SGU juga sama-sama resah.  Bahkan ini menjadi topik perbincangan hangat di kalangan teman-teman,” tulis Putri mengawali tulisannya.

Berikut surat lengkap Putri disalin dari postingan media sosial;

Saya mahasiswa Swiss German University (SGU). Maraknya pemberitaan tentang ijazah palsu seperti yang menimpa rekan mahasiswa/alumni  STIE Adhy Niaga dan  University of Berkeley membuat saya resah, takut  menimpa saya kelak. Saya  nggak tahu harus bilang apa kepada orang tua, keluarga atau sanak saudara jika ternyata saya salah memilih kampus untuk menggali ilmu. Masalahnya, kuliah di SGU adalah pilihan saya sendiri, sementara orang tua meminta saya kuliah di universitas lainnya.

Keresahan saya semakin bertambah setelah menemukan banyak kejanggalan di SGU. Ternyata selain saya, teman-teman lainnya di SGU juga sama-sama resah.  Bahkan ini menjadi topik perbincangan hangat di kalangan teman-teman.

Salah satu yang menjadi perbincangan adalah staff dan dosen di SGU. Sejak kuliah di SGU, saya jarang melihat pengajar expatriat  dari Swiss atau pun German yang menjadi dosen tetap di SGU. Kalaupun ada, paling hanya jika ada acara khusus selama satu atau dua minggu. Setelah itu kembali kenegaranya. Padahal, salah satu yang membuat saya tertarik kuliah di SGU karena label internasional. Dalam bayangan saya ketika itu, semua pengajar dari Swiss dan German, paling tidak sebagian besar dosen internasional.

Mirisnya lagi, beberapa teman menceritakan, keluarganya yang bekerja sebagai staff Kedubes Swiss meragukan adanya kerjasama dengan pemerintah Swiss. Dugaannya hanya bekerjasama dengan pihak swasta di Swiss, bukan dengan pemerintah. Saya belum tahu bagaimana dengan pemerintah German, apakah benar kerjasama dengan SGU?

Keraguan mahasiswa tentang kerjasama SGU dengan pemerintah Swiss dan German  bukan tak berdasar. Sebab, jika betul SGU didirikan atas kerjasama dengan pemerintah Swiss dan German, tentunya SGU punya modal kuat. Soalnya santer terdengar kabar, kampus bakal disita.  Kecurigaan saya menguat setelah melihat lahan parkir yang selama ini dipakai mahasiswa  sudah ‘’hilang’’. Akibatnya, mahasiswa memarkir kendaraannya di luar kampus yang keamanannya tidak terjamin.

Beberapa senior saya pernah menanyakan berbagai masalah tersebut kepada Prof Martin, mantan rektor SGU. Kepada sang senior, Prof Martin mengatakan, sepengetahuannya,  kampus memang bukan milik SGU. Namun sayang nggak lama kemudian, Prof Martin ‘’menghilang’’ dan sekarang digantikan rektor baru Dr. rer.-nat. Filliana Santoso. Saya dan teman-teman berencana akan minta klarifikasi dari rektor soal gedung ini, apakah milik SGU?

Jujur, penggantian Prof Martin membuat  saya dan teman-teman merasa kecewa dan kehilangan. Beliau adalah rektor bule terakhir.

Lewat surat ini saya mengharapkan pihak berwenang merespon keresahan kami. Mohon saran atau informasi yang lebih detil tentang SGU, terutama  dari Kopertis dan instansi terkait atau kakak alumni. Maaf, tulisan ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan kampus saya. Saya hanya mengungkapkan keresahan saya saja.  Terima kasih.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)