Bestprofit Futures Jakarta

JAKARTA – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menerangkan jika ada upaya dari pemerintah untuk memasukkan hasil-hasil ekspor ke dalam negeri, diyakini bisa menguatkan struktur nilai tukar Indonesia. Namun sampai sekarang kenyataannya belum berhasil.

Direktur Eksekutif Center of Reform in Economics (CORE) Hendri Saparini mengatakan saat ini Indonesia menerapkan floating rate dan rupiah tergantung pasar. Sementara value Indonesia terhadap perdagangan dolar Amerika Serikat (USD) itu sebenarnya tidak besar sehingga apa yang ada di luar itu sangat berdampak pada Indonesia, terutama untuk negara-negara mitra dagang Indonesia.

“Jadi kekuatan nilai tukar kita bukan disupport oleh ekspor atau investasi. Jadi direct investasi dan hasil ekspor itu bukan menjadi basis nilai tukar kita, jadi nilai tukar kita ditentukan oleh transaksi,” ucap dia di Jakarta, Rabu (20/7/2016).

Sementara terkait kudeta gagal di Turki menurutnya tidak akan mempengaruhi kondisi nilai tukar rupiah. Bahkan jika kalaupun ada, sifatnya hanya hanya shock term kecuali jika tersebut memengaruhi ekonomi global. Pasti Indonesia akan terkena dampaknya juga karena mitra dagangnya ikut terkena imbas kudeta Turki.

“Enggak, itu shock term, jadi hanya ada gejolak yang jangka pendek saja sifatnya karena ini di sektor keuangan kalau di global mengalami perubahan ya ekonomi kita pasti akan berubah juga,” lanjutnya

Dia menambahkan di sini pemerintah harus mengambil peluang dan melakukan kebijakan yang lebih mengena. “Paling penting kenapa kita tidak mampu mengambil peluang tadi. Kalau sekarang ada kudeta berarti ada kekhawatiran, politik tidak akan stabil. Nah kita ambil peluang tadi sehingga orang kemudian masuknya ke Indonesia, kan itu yang tidak kita ambil, padahal itu peluang,” pungkas dia.

(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)