Ini Alasan Sebenarnya Kita Senang Media Sosial

KOMPAS.com — Sejak dulu kita diajarkan di sekolah bahwa manusia termasuk mamalia atau makhluk menyusui. Namun, siapa yang menyangka bahwa itulah alasan utama mengapa media sosial berkembang begitu pesat. Adalah psikolog kondang, Matthew Lieberman, yang mengungkap hal ini.

Sejak lahir, manusia sangat bergantung pada orang lain. Tanpa ibu yang menyusui, bayi tidak bisa bertahan hidup. Bayi kemudian menangis jika jauh dari orangtuanya. Inilah yang secara tidak sadar membentuk kebutuhan untuk berinteraksi secara sosial dalam diri manusia.

Kebutuhan akan orang lain ini juga terlihat pada masa sekolah. Konon, siswa yang belajar dan kemudian mengajar temannya di sekolah umumnya mendapatkan nilai yang bagus. Menurut penelitian Lieberman, otak siswa yang mengajari teman-temannya cenderung lebih cerdas karena ada insentif untuk terus belajar.

Manusia memang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Kita akan lebih bahagia jika terhubung dengan orang lain. Ini fakta yang membuat kita senang jika dipuji di depan umum atau menerima penghargaan di atas panggung.

Tentu, media sosial menjadi sangat relevan. Media sosialmenjadi “panggung” sekaligus menjadi sarana terhubung dengan orang lain. Ini yang membuat kita senang jika tweet kita di-retweet atau foto kita di Instagram dikomentari.

Apa dampaknya bagi dunia pemasaran?

Di dunia pemasaran, kecenderungan ini membuat keputusan pembelian menjadi keputusan sosial. Sudah tidak zamannya lagi konsumen membeli berdasarkan selera pribadi. Selera orang lain turut memengaruhi merek apa yang akan dibeli.

Inilah yang membuat wanita sering berbelanja bersama teman-temannya. Penting untuk tahu apakah barang yang akan dibeli cukup keren untuk teman-temannya. Ini juga alasan pria sering ke showroom untuk membeli mobil kerap kali berdua dengan temannya.

Jangan sampai keputusan memilih merek tertentu dianggap salah oleh orang lain. Karena ketidakpercayaan kepada perusahaan, konsumen membentengi diri dengan opini “jujur” komunitas, teman, dan keluarganya. Dengan demikian, pembelian konsumen menjurus menjadi social buying.

Pemasaran gaya lama tentu sudah usang di dunia penuh social buying. Biasanya pemasar ulung adalah yang mampu memahami selera konsumennya dan menciptakan produk yang tepat. Sekarang, karena keputusan dipengaruhi banyak orang, pemasar wajib memahami tidak hanya konsumen individu saja, tetapi juga komunitasnya.

Sekarang, keputusan konsumen mengikuti jalur yang disebut 5A.

Aware:
Konsumen mulai kenal perusahaan penyedia produk atau jasa.
Appeal: Di kepalanya, konsumen merasa tertarik dengan perusahaan tersebut. Tetapi, dia belum yakin.
Ask: Karena belum yakin, konsumen mulai tanya-tanya kepada teman atau keluarga untuk meyakinkan dirinya.
Act: Jika teman dan keluarga bilang bagus, barulah konsumen memutuskan untuk menggunakan produk atau jasa tadi.
Advocate: Jika puas, konsumen akan merekomendasikan pelayanan tersebut kepada teman dan keluarganya.

Tantangannya bagi pemasar? Jika di tahap Ask reputasi merek buruk, sulit sekali untuk memasarkan. Karena konsumen adalah manusia sosial yang saling melindungi, pada akhirnya hanya perusahaan yang baik dan jujur yang bertahan. (Iwan Setiawan, Chief Knowledge Officer MarkPlus, Inc)