http://bisnis.news.viva.co.id

Bestprofit Futures Jakarta

Semakin tinggi pendapatan per kapita, makin kaya negara tersebut.

VIVA.co.id – Secara keseluruhan, ada sejumlah metode standar yang mendefinisikan apakah negara itu merupakan negara yang kaya. Di antaranya, dengan memperhitungkan ekonomi yang diukur dengan jumlah produk domestik bruto (PDB/GDP).

Namun, definisi yang paling umum diterima dari negara-negara terkaya untuk menentukan seberapa kaya penduduk rata-rata suatu negara, metode terbaik adalah dengan menggunakan data GDP per kapita (pendapatan perkapita), semakin tinggi pendapatan per kapita suatu negara, maka bisa dikatakan negara itu makmur/kaya.
Berikut ini, 10 Negara yang masuk kategori sebagai negara kaya, seperti dikutip dari laman gfmag, Rabu 28 Oktober 2015.
1. Qatar
Negara yang paling kaya adalah Qatar. Negara ini terus mendominasi daftar negara terkaya dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, yaitu US$146 ribu pada tahun ini. Saat ini, Qatar sedang menggenjot infrastruktur untuk perhelatan Piala Dunia FIFA 2020.
2.  Luksemburg
Kekayaan negara ini didapat berkat sektor jasa keuangan yang kuat dengan kondisi ekonomi yang kuat dan stabil. Utang publik yang rendah dan lembaga yang kuat. Pendapatan per kapita tertinggi di dunia, yaitu mencapai US$94 ribu pada tahun ini. Pengetatan regulasi perbankan di seluruh Eropa dan dunia tersebut, merupakan salah satu sumber untuk masa depan.
3. Singapura
Salah satu negara di ASEAN yang menjadi negara terkaya ini dinilai mampu mempertahankan perekonomian dan mendorong pertumbuhan moderat, bahkan pada saat krisis ekonomi global. Pendapatan per kapita Singapura diperkirakan mencapai US$85 ribu pada tahun ini.
Bestprofit Futures Jakarta
4. Brunei
Selain Singapura, Brunei juga salah satu negara yang menurut IMF memiliki pendapatan per kapita mencapai US$80 ribu pada tahun ini. Rendahnya harga energi membuat perekonomian Brunei, sempat mengalami guncangan. Pemerintah, kemudian mendorong diversifikasi ekonomi dan akan mendirikan bursa saham pada 2017, guna memperkuat pasar modal.
5. Kuwait
Harga minyak yang lebih rendah, merupakan ancaman bagi perekonomian negara ini, yang begitu sangat bergantung pada ekspor hidrokarbon. Namun, rencana pembangunan lima tahun pemerintah, mendorong belanja modal dan reformasi fiskal yang memastikan terus pertumbuhan ekonomi di sektor non-minyak. Untuk saat ini, negara ini menjaga tinggi pendapatan per kapita (PPP), hampir US$72.600 pada 2015.
6. Norwegia
Sektor minyak telah mendorong standar hidup di Norwegia menjadi lebih tinggai dalam dua dekade terakhir. Pada 2015, pendapatan per kapita negera ini mencapai US$68 ribu.
Jatuhnya harga minyak baru-baru ini, menjadi tantangan bagi perekonomian Norwegia. Pemerintah Norwegia memiliki banyak alat untuk mengatasi hal itu, termasuk kebijakan moneter yang independen dan kerangka kelembagaan dan ekonomi makro.
7. Uni Emirat Arab
Uni Emirat Arab adalah negara yang tergantung pada ekspor hidrokarbon dalam upaya untuk diversifikasi basis ekonomi negara. Pemerintah telah membuat upaya yang sangat besar dalam meningkatkan pendapatan, dengan menarik investasi asing secara langsung. Terutama, di sektor teknologi intensif yang sangat inovatif. Pendapatan per kapita UEA pada 2015, mencapai US$67 ribu.
8. Hong Kong
Hong Kong memang unik. Hong Kong menjadi pintu gerbang ekonomi China, dengan kerangka kerja yang kuat. Pendapatan per kapita pada 2015 mencapai US$58 ribu.
9. Amerika Serikat
Dengan perkiraan pendapatan per kapita pada 2015 mencapai US$57 ribu, Amerika Serikat adalah negara ekonomi terbesar dan paling beragam. Ini merupakan bukti, bagaimana melalui campuran pengeluaran pemerintah dan adanya peraturan, membuat negara ini memiliki daya saing yang terus berkembang.
10. Swiss
Keuangan publik yang kuat, sektor jasa keuangan yang hidup, serta lokasi negara ini yang berada di jantung Uni Eropa, membuat negara ini menerapkan standar hidup yang tinggi. Pendapatan per kapita negara ini pada ini diperkirakan mencapai US$57 ribu.
(mfs – Bestprofit Futures Jakarta)