Ikuti Laju Pelemahan Wall Street, Bursa Asia Dibuka Jatuh

Hai salam PT Bestprofit Futures, ini artikel dari viva.co.id

Pasar saham utama Asia dibuka jatuh pada transaksi awal Jumat 26 September 2014, mengikuti indeks saham acuan Wall Street yang juga ditutup anjlok.

 

Dilansir CNBC, saham sektor teknologi tertekan 2 persen akibat melemahnya indeks Nasdaq Composite. Saham sektor komoditas juga anjlok setelah indeks dolar naik ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

 

Indeks saham utama Wall Street melemah tajam, karena investor fokus dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) Rusia yang memungkinkan pengadilan menyita aset asing.

 

“Ini akan menjadi sinyal ancaman dari Kremlin bahwa konflik ekonomi Rusia-Amerika Serikat-Eropa akan menjadi buruk. Hal itu menunjukkan bahwa kecuali konsesi atau negosiasi yang sedang berlangsung, mereka siap melakukan itu,” ujar Jim Russell, Senior Equity Strategist US Bank Wealth Management.

 

Dikutip dari Reuters, RUU yang diajukan ke parlemen Rusia pada Rabu waktu setempat oleh wakil pro-Kremlin, juga memungkinkan adanya kompensasi dari pemerintah atas aset mereka yang diambil dalam yuridiksi asing.

 

RUU itu diusulkan, menurut laporan Bloomberg, setelah Italia membekukan properti mewah milik teman lama Presiden Rusia Vladimir Putin.

 

Sentimen lain yang menekan indeks, yakni laporan perubahan kepemimpinan di Bank Sentral Tiongkok dan kenaikan suku bunga Federal Reserve, setelah Presiden Federal Reserve Dallas, Richard Fisher, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga dapat terjadi pada musim semi 2015.

 

Indeks Nikkei di bursa Tokyo pagi ini melemah 1,5 persen. Indeks acuan pasar saham Jepang ini melemah, setelah pada perdagangan Kamis ditutup melonjak ke level tertinggi selama tujuh tahun.

 

Nilai tukar mata uang yen menguat menjadi 108,5 per dolar. Investor juga bereaksi pada data inflasi harga konsumen pada Agustus lebih rendah dari yang diperkirakan.

 

Saham sektor teknologi, Hitachi, Rakuten, dan Toshiba turun 1 persen. Sedangkan saham Suntory Beverage kehilangan 1 persen di tengah berita perusahaan itu akan membagi perusahaan birnya dari Suntory Liquors. Anak usahanya yang baru, Suntory Beer, akan fokus ke bisnis birnya.

 

Sementara itu, indeks S&P ASX 200 di bursa Sydney bergerak lebih rendah 0,7 persen. Indeks patokan pasar saham Australia ini kembali menurun, mendekati level terendah sejak Maret.

 

Saham sektor pertambangan berada di bawah tekanan karena harga bijih besi merosot ke level terendah dalam lima tahun terakhir, yakni US$78 per ton. Saham Fortescue Metals kehilangan 2,5 persen, sementara saham Rio Tinto dan BHP Billiton tergelincir 2 persen.

 

Adapun indeks Kospi di bursa Seoul bergerak turun 0,4 persen. Indeks utama pasar saham Korea Selatan ini melemah ke level terendah dalam dua bulan terakhir.

 

Saham LG Electronics kehilangan hampir 2 persen, sedangkan saham LG Display jatuh 4 persen. (ita)