LENSAINDONESIA.COM: Penggunaan zat berbahaya dalam pengolahan makanan masih marak. Misalnya, pemakainan formalin dalam pengawetan ikan.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota  Surabaya menempuh sejumlah upaya agar pedagang ikan tak lagi menggunakan bahan yang biasa dipakai untuk mengawetkan jenazah itu.

Baca juga: Sudin Peternakan gelar razia Ayam berformalin di Kebayoran Lama

Aris Munandar, Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan, Dinas Pertanian (Distan) Surabaya, mengatakan, pihaknya rutin melakukan pembinaan, baik kepada pedagang ikan maupun pelaku usaha produk hasil olahan perikanan. Pesannya jelas, agar mereka tidak menggunakan formalin ke dalam produk makanannya.

“Kami juga memberikan materi pengemasan dan pemasaran produk yang baik dan benar,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (17/1/2014).

Lebih lanjut, Aris menerangkan, para pedagang perlu menyadari bahaya formalin bagi tubuh manusia. Jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang, bisa menyebabkan kerusakan organ dalam. Seperti, saluran pencernaan, hati, paru-paru, saraf, ginjal, hingga organ reproduksi.

Karena itulah, dia menambahkan, oknum yang kedapatan menggunakan formalin sebagai bahan pengawet makanan, bisa dijerat dengan sanksi pidana.

Surabaya merupakan salah satu kota dengan tingkat konsumsi ikan tertinggi di Indonesia. Ada sembilan kecamatan yang punya potensi menonjol di bidang perikanan. Yaitu, Kenjeran, Bulak, Asemrowo, Krembangan, Benowo, Gununganyar, Rungkut, Sukolilo dan Mulyorejo.

Dikatakan Aris, Distan juga secara berkala mengambil sampel ikan di lokasi-lokasi tersebut, untuk kemudian dilakukan uji lab. “Itu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan zat berbahaya di dalamnya,” terangnya.

Berdasar pantauan di lapangan, Munief, salah seorang pedagang ikan mengatakan, ikan-ikan hasil tangkapan nelayan Surabaya tidak mengandung formalin. Justru, ikan-ikan kiriman dari luar kota yang mayoritas masih mengandung zat berbahaya.@iwan_chrsitiono